Nasional

Meriahkan Muktamar Ke-35 NU, Pesantren YBAM Hidupkan Aksara Jawa

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:45 WIB

Meriahkan Muktamar Ke-35 NU, Pesantren YBAM Hidupkan Aksara Jawa

Pelatihan aksara Jawa di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Jumat (28/8/2026). (Foto: NU Online/Indi)

Jombang, NU Online 

 

Di tengah perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, Pondok Pesantren Yayasan Bina Aksara Mulya (YBAM) Yogyakarta membawa agenda kebudayaan. Pesantren tersebut menggelar tiga pelatihan baca-tulis Aksara Jawa sebagai upaya menghidupkan kembali salah satu warisan budaya Nusantara.

 

Pelatihan bertajuk “6 Jam Bisa Baca Tulis Aksara Jawa, Pasti Bisanya” itu menyasar guru, pendidik madrasah, santri, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian budaya. Kegiatan menggunakan metode CARANGAPAK yang dikembangkan Pengasuh Ponpes YBAM K Akhmad Fikri AF. Dua pelatihan digelar di Jombang. 

 

Kegiatan pertama berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Fatich Tambakberas pada Jumat, 28/8/2026, bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al-Fatich Tambakberas dan Lembaga Pendidikan Ma’arif PCNU Kabupaten Jombang dengan dukungan PT PPA (Persero). Pelatihan berikutnya digelar di SMA Madinatul Ulum Tembelang pada Ahad, 30/8/2026. Sementara satu pelatihan lainnya dilaksanakan secara mandiri di Madrasah Ibtidaiyah NU Manyar, Gresik, Jaw Timur, Sabtu (29/8/2026).

 

Akhmad Fikri mengatakan pelatihan tersebut tidak semata-mata bertujuan mengajarkan keterampilan membaca dan menulis aksara. Menurut dia, aksara merupakan bagian dari identitas dan keberlanjutan sebuah kebudayaan.

 

“Aksara adalah jantung atau ruh sebuah kebudayaan. Ketika sebuah masyarakat kehilangan aksaranya, maka sesungguhnya ia kehilangan salah satu bagian penting dari identitas peradabannya,” kata Fikri.

 

Ia menjelaskan Aksara Jawa memiliki posisi khusus dalam sejarah masyarakat Jawa karena berkembang dalam konteks dakwah Islam yang dilakukan para Wali Songo. Menurut dia, aksara tersebut dapat dilihat sebagai bagian dari strategi kebudayaan dalam proses islamisasi Jawa.

 

“Aksara Jawa Carakan merupakan warisan kebudayaan yang berkembang dalam konteks dakwah Walisongo. Ia menjadi bagian dari strategi kebudayaan Islamisasi Jawa,” ujarnya.

 

Menurut Fikri, perhatian NU terhadap kebudayaan Nusantara juga memiliki akar sejarah. Ia mengaitkannya dengan tema Muktamar NU ke-33 pada 2015, “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”.

 

“Menghidupkan dan melazimkan kembali penggunaan Aksara Jawa berarti memelihara apa yang telah diwariskan para wali dalam membumikan Islam Nusantara,” kata dia.

 

Untuk mengubah anggapan bahwa Aksara Jawa sulit dipelajari, YBAM menggunakan metode CARANGAPAK. Metode ini memanfaatkan pendekatan logika nalar visual untuk membantu peserta mengenali aksara melalui bentuk, karakter, dan cirinya, tanpa harus menghafalkan aksara satu per satu.

 

Materi pelatihan mencakup korelasi NU, Aksara Jawa, dan Islam Nusantara; prinsip dasar tata tulis; pengenalan sandhangan; hingga praktik membaca dan menulis. Peserta juga diperkenalkan pada cara memasang dan menggunakan Aksara Jawa dalam perangkat digital.

 

Fikri mengatakan pelestarian aksara tidak cukup dilakukan dengan menyimpannya sebagai peninggalan masa lalu. Aksara Jawa, kata dia, perlu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di ruang digital.

 

“Aksara Jawa harus hadir di ruang digital. Kehadirannya di platform digital merupakan bagian dari cara kita memaknai eksistensi Islam Nusantara dan kebudayaan bangsa,” ujarnya.

 

Ia berharap pelatihan tersebut berkembang menjadi gerakan yang mendorong Aksara Jawa kembali dipelajari dan digunakan di pesantren, madrasah, sekolah, hingga ruang digital.