Modul ToT Kespro PBNU Targetkan Gus dan Ning Jadi Fasilitator di Pesantren
Ahad, 6 September 2026 | 18:00 WIB
Jakarta, NU Online
Konsultan Program Kesehatan Reproduksi (Kespro) Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid (Alissa Wahid) mengungkapkan bahwa penyusunan modul Training of Trainers (ToT) Pendidikan Kesehatan Reproduksi menyasar para Gus dan Ning di pesantren sebagai peserta prioritas pada angkatan pertama. Mereka diharapkan dapat menjadi penggerak awal yang nantinya melatih musyrif-musyrifah di lingkungan pesantren masing-masing.
"Kalau untuk angkatan pertama ini TOT-nya pasti angkatan Gus dan Ning. Karena kita butuh champion," ujar Alissa dalam Workshop Penyusunan Modul Training of Trainers (TOT) Pendidikan Kesehatan Reproduksi bagi Fasilitator Pesantren yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama United Nations Population Fund (UNFPA) di Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
Alissa menjelaskan bahwa penunjukan para Gus dan Ning sebagai fasilitator awal didasari pengalaman program penanggulangan kekerasan di pesantren, di mana pelatihan musyrif-musyrifah yang dirancang secara khusus justru mendapat permintaan tinggi dari berbagai pesantren begitu program tersebut berhasil.
"Karena ini namanya momentum, maka kita butuh Gus-Gus dan Ning yang siap untuk jadi instruktur yang nantinya akan melatih para musyrif-musyrifah itu," katanya.
Ia menegaskan bahwa pola pelatihan yang dikembangkan bukan hanya sekadar membedah modul secara teoritis, melainkan turut melibatkan praktik langsung karena pesertanya nanti terdiri dari ustaz-ustazah, musyrif-musyrifah dan para Gus itu sendiri.
Pendekatan pelatihan ini juga memfokuskan pada penguatan kemampuan mengambil keputusan, bukan sekadar pemahaman fisiologis semata. "Tema fisiologis itu sebetulnya nomor dua, tema yang utamanya itu adalah penguatan dirinya," ujarnya.
Sebelumnya, Penanggung Jawab Program Kespro Fahmy Akbar Idries menambahkan bahwa target regenerasi fasilitator ini perlu dibarengi dengan penguatan tata kelola program di masing-masing pesantren, bukan sekadar penyampaian materi.
"Bukan sekadar materinya, tapi tata kelola itu secara bertahap. Kalau programnya sama, tapi tata kelola bagaimana membangun sistem itu yang penting," ujarnya.
Turut hadir dalam workshop ini Koordinator Program Ai Rahmayanti, Konsultan Kegiatan Mayadina Rohmi Musfiroh, perwakilan UNFPA Indonesia Risya Ariyani Kori dan Margareta Sitanggang, Ketua Tim Kerja Kesehatan Anak dan Remaja Kementerian Kesehatan RR. Weni Kusumaningrum, perwakilan Direktorat Pesantren Kementerian Agama RI, Tim Asesmen Muhim Nailul Ulya dan Nur Rofiah, Penulis Modul Maya Fitria, PIC P2GP Musliha Rofik, perwakilan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Ai Maryati Solihah, Yosi Eka Putri, Esty Febriani, perwakilan PP IPNU Suparianto, perwakilan PP IPPNU Hazimatul Layyinah, perwakilan Nawaning Nusantara Atina Balqis, serta penggerak Gerakan Nasional Ayo Mondok KH. Zahrul Azhar Asumta.
Workshop turut diikuti 20 guru, ustad-ustadzah, dan musyrif/musyrifah dari sepuluh pesantren di Jawa Barat dan Jawa Timur, meliputi Pesantren Kebon Jambu Cirebon, Pesantren Fadhlu Fadhlan Semarang, Pesantren Al Wathoniyah Jakarta Timur, Pesantren Bayt Al Hikmah Pasuruan, Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Pesantren Darul Ulum Jombang, Pesantren Sunan Bonang Mambaul Ma'arif Jombang, Pesantren Arrisalah Lirboyo Kediri, Pesantren Kiai Parak Bamburuncing Temanggung, dan Pesantren Roudlotut Thullab Magelang.