Muktamar Ke-35 NU, JPPPM Bahas Peran Nyai sebagai Role Model Generasi Pesantren
Sabtu, 29 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Jombang, NU Online
Jam'iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighah (JPPPM) menggelar kegiatan Tabarrukan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren An-Nashriyah, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).
Mengangkat tema Peran Bu Nyai sebagai Role Model Generasi Pesantren, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mengenai posisi strategis Bu Nyai dalam menjawab tantangan pendidikan pesantren di tengah perubahan zaman.
Salah satu tantangan yang menjadi sorotan adalah munculnya bullying, kekerasan, disrupsi digital, hingga perkembangan artificial intelligence (AI) yang semakin dekat dengan kehidupan santri.
Hj Nawal Nur Arafah, alumni Mujma' Syeikh Ahmad Kaftaro, Damaskus, Suriah, membidik pentingnya peran nyai dalam menciptakan ekosistem pesantren yang aman, sehat, inklusif, dan ramah bagi santri.
Baca Juga
Nyai dalam Diskursus Pesantren
“Bu Nyai tidak cukup hanya hadir sebagai sosok yang memberikan nasihat. Lebih dari itu, Bu Nyai perlu mampu menciptakan ruang pendidikan yang memberikan rasa memiliki literasi digital yang memadai," katanya.
Kehadiran AI, misalnya, perlu disikapi bukan semata-mata sebagai ancaman terhadap otoritas guru, melainkan sebagai perkembangan yang harus dipahami agar dapat dimanfaatkan secara bijak tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur pesantren.
Sementara itu, Nyai Hj Umdatul Choirot, Pengasuh Pondok Pesantren Assa'idiyah 2 Tambakberas, Jombang, memperkaya pembahasan melalui perspektif keteladanan kiai dan nyai sebagai bagian integral dari tradisi pendidikan dan kehidupan pesantren.
“Dalam tradisi pesantren, keteladanan tidak berhenti pada apa yang disampaikan melalui pengajian atau ceramah. Santri belajar dari keseluruhan kehidupan pengasuh. bagaimana berbicara, mengambil keputusan, menghadapi persoalan, memperlakukan orang lain, hingga menjalani kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Karena itu, nyai memiliki posisi penting dalam menghidupkan nilai pesantren melalui uswah hasanah.
“Tradisi pesantren tidak cukup diwariskan sebagai pengetahuan, tetapi harus hadir sebagai karakter, budaya, dan praktik kehidupan,” terangnya.
Pewarta : Boy Ardiansyah