Pemerintah Klaim Stok Beras Aman, Pakar Pertanian UGM Soroti Risiko Gagal Panen saat Kemarau
Kamis, 11 Juni 2026 | 10:30 WIB
Jakarta, NU Online
Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim kondisi cadangan beras nasional berada pada level aman. Stok cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog saat ini mencapai 5,3 juta ton.
Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Bapanas Yudhi Harsatriadi Sandyatma mengatakan jumlah tersebut menjadi salah satu modal penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional.
“Angka cadangan beras pemerintah kita yang dikelola Bulog untuk per hari ini sudah mencapai 5,3 juta ton," ujar Yudhi Harsatriadi Sandyatma di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Pakar Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Subejo menilai menilai jaminan ketersediaan beras hingga akhir tahun masih sangat bergantung pada keberhasilan panen tanaman padi yang saat ini masih berada di lahan
“Sekarang yang tanaman sedang standing crop, yang belum dipanen, itu diprediksi kira-kira 11 juta ton, kemudian yang ada di berbagai gudang, gudang swasta, di berbagai mana-mana 12 juta ton. Kalau ini 100 persen sukses, mungkin tidak ada masalah sampai Desember, sampai November,” ujarnya kepada NU Online, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, ancaman terbesar justru berada pada tanaman padi yang masih dalam fase pertumbuhan. Kondisi cuaca ekstrem akibat kemarau panjang dan El Nino berpotensi memicu kekeringan, ledakan hama, hingga serangan penyakit tanaman yang dapat menurunkan hasil panen secara signifikan.
“Memasuki musim kemarau apalagi adanya El Nino Godzilla, agak berat itu kan sebenarnya yang 11 juta ton itu, yang di standing crop itu loh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memprioritaskan langkah penyelamatan tanaman yang masih berada di lahan. Bahkan, kegagalan panen sebesar 10 persen saja dapat menyebabkan kehilangan sekitar satu juta ton beras.
“Saya kira yang sangat serius itu adalah bagaimana kita menjamin yang 11 juta ton itu yang sekarang posisinya masih di lahan. Jangan sampai itu gagal karena ada keringan, karena nggak ada air, karena nggak cukup sampai menjelang panen misalnya,” tegasnya.
Selain produksi, Prof Subejo menyoroti pentingnya sistem distribusi pangan yang responsif. Menurutnya, Bulog perlu memperkuat jaringan distribusi hingga tingkat kabupaten dan kecamatan agar pasokan beras dapat segera disalurkan ketika terjadi kelangkaan atau kenaikan harga.
“Bulog dengan unit-unit kecil di kabupaten, misalnya terjadi kelangkaan beras, harganya naik harus segera distribusikan, itu menjadi penting. Karena barangnya ada tapi ternyata adanya di gudang, itu jadi persoalan bagi wilayah yang jauh-jauh,” katanya.
Di sisi lain, ia meminta pemerintah menyiapkan skema bantuan bagi petani yang terdampak gagal panen, baik berupa subsidi maupun bantuan sarana produksi.
“Setidaknya nanti musim hujan datang, dia sudah punya modal, karena kalau ternyata gagal panen, berarti ketika mau nanam dia tidak punya uang untuk beli pupuk, untuk beli benih, untuk ngolak lahan, minimalnya ini sudah disiapkan,” tandasnya.