Nasional

Prediksi Cuaca 15-18 Juni 2026: Dominasi Cerah Berawan, Hujan Masih Terjadi di Sebagian Wilayah Indonesia

Senin, 15 Juni 2026 | 10:00 WIB

Prediksi Cuaca 15-18 Juni 2026: Dominasi Cerah Berawan, Hujan Masih Terjadi di Sebagian Wilayah Indonesia

Tangkapan layar analisis perkembangan musim BMKG.

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi cuaca di Indonesia pada 15-18 Juni 2026 secara umum didominasi cuaca cerah berawan. Namun, hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah akibat dinamika atmosfer yang masih aktif.

Prakirawan BMKG, Nurul Izzah Fitria menjelaskan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia, khususnya bagian selatan, kini telah memasuki musim kemarau yang ditandai dengan penurunan curah hujan secara signifikan. Kondisi tersebut turut memunculkan fenomena penurunan suhu udara yang dikenal masyarakat sebagai bediding.

“Bediding merujuk pada fenomena suhu udara yang terasa lebih dingin khususnya pada malam hingga menjelang pagi hari terutama di daerah dataran tinggi,” ujar Nurul pada Ahad (14/6/2026) malam.

Sebaliknya, kata dia, wilayah Indonesia bagian utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat. BMKG menilai kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer yang masih mendukung pembentukan awan hujan, meskipun Monsun Australia mulai menguat dan menyebabkan penurunan suhu udara di sejumlah daerah.

“Kondisi penurunan suhu udara yang mulai terasa seiring penguatan Monsun Australia, meski dinamika atmosfer masih memicu hujan signifikan di sebagian wilayah Indonesia,” katanya.

BMKG mengungkapkan sejumlah fenomena atmosfer masih berperan dalam memengaruhi cuaca nasional. Di antaranya, El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang menunjukkan kecenderungan fase hangat di Samudra Pasifik Tropis bagian tengah hingga timur dengan indeks Nino 3.4 sebesar +0,81 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -22,3.

Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) berada pada fase delapan hingga satu di sekitar wilayah Western Hemisphere-Afrika. Secara spasial, fenomena tersebut diprakirakan aktif di Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, hingga Maluku Utara.

“Gelombang Kelvin diprakirakan melintasi sebagian Aceh, Sumatera Utara, Jawa, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara,” terangnya.

Sementara itu, gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi aktif di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Utara. Sirkulasi siklonik yang terbentuk di Kalimantan Tengah berpotensi memicu pola konvergensi, konfluensi, serta perlambatan angin yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan di berbagai wilayah.

Nurul menjabarkan bahwa periode 15 hingga 18 Juni 2026 secara umum kondisi cerah berawan hingga hujan lebat.

“Potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang juga masih berpotensi terjadi dengan kategori peringatan siaga terutama di wilayah Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Pegunungan,” ujarnya.

BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tidak lengah meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau. Potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi secara tiba-tiba sehingga kewaspadaan terhadap bencana hidrometeorologi tetap diperlukan.

“Dalam rangka menghadapi musim kemarau dan beberapa dinamika atmosfer yang telah disebutkan, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu terhidrasi dengan baik, lakukan penghematan dalam penggunaan air, dan gunakan pelindung saat berada di luar ruangan. Kenali cuaca dan lingkungan agar terhindar dari bencana hidrometeorologi,” pungkasnya.