Skor PISA Indonesia Naik, P2G Soroti Penurunan Matematika
Kamis, 10 September 2026 | 15:00 WIB
Jakarta, NU Online
Skor Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia 2025 mengalami kenaikan pada aspek Membaca dan Sains. Namun, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti skor Matematika yang justru mengalami penurunan.
Hasil tes PISA 2025 yang dirilis pada Selasa (8/9/2026) menunjukkan skor Indonesia meningkat dibandingkan rata-rata negara OECD yang mengalami penurunan pada ketiga aspek. Rata-rata skor negara OECD turun sembilan poin untuk Matematika menjadi 465, turun 14 poin dalam Membaca menjadi 463, dan Sains turun tiga poin menjadi 484.
Baca Juga
Teladan Literasi Damai Nabi Muhammad
"Yang menggembirakan adalah skor Indonesia justru meningkat dalam Membaca naik tujuh poin dan Sains naik enam poin,” ujar Koordinator Nasional P2G, Satriawan Salim dalam keterangan diterima NU Online, Kamis (10/9/2026).
Ia menjabarkan bahwa skor Membaca menjadi 365 dan Sains menjadi 389. Namun, skor Matematika Indonesia turun dua poin menjadi 364. Secara keseluruhan, skor Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD.
Menurut Satriwan, kenaikan skor PISA menjadi indikasi adanya upaya serius Kemdikdasmen selama ini untuk melakukan learning recovery atau pemulihan pembelajaran pascapandemi Covid-19.
“Misalnya melalui pendekatan Pembelajaran Mendalam yang kini tengah diperkuat Kemdikdasmen harus betul-betul dipahami guru untuk dilaksanakan di kelas,” katanya.
Ia mengatakan kenaikan skor Sains harus terus diperkuat melalui pendekatan Sains, Technology, Engineering, Art (STEAM) dengan kombinasi ilmu-ilmu sosial humaniora. Upaya tersebut dapat dimulai di pendidikan dasar dan pengenalannya pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Satriwan menambahkan, dari aspek Membaca, kenaikan skor murid Indonesia juga perlu diperkuat melalui dukungan guru dan orang tua. Pembiasaan membaca buku fiksi maupun nonfiksi, memahami ragam teks, grafik, infografis, tabel, serta statistik sederhana yang berkaitan dengan konten materi pelajaran harus diperkuat.
“Pembiasaan dan pembudayaan membaca buku fiksi, non fiksi, dan ragam jenis teks itu adalah tugas semua guru mata pelajaran, bukan hanya guru matematika dan bahasa Indonesia,” ucapnya.
Ia menyampaikan budaya membaca di sekolah akan lebih optimal jika pemerintah menghadirkan fasilitas perpustakaan dengan buku-buku bacaan berkualitas. Anggaran untuk buku perpustakaan seharusnya menjadi prioritas.
Satriawan menegaskan penurunan skor Matematika dua poin harus menjadi pelecut agar pembelajaran di kelas tidak hanya berorientasi pada kemampuan murid menghafal angka atau rumus semata.
"Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika,” tegasnya.