UNESCO Paparkan Kondisi Literasi Indonesia, 97 Persen Melek Huruf tapi Skor PISA Masih Rendah
Selasa, 8 September 2026 | 22:00 WIB
Chief of Education, UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste, and Liaison to ASEAN, Santosh Khatri dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026). (Tangkapan layar).
Jakarta, NU Online
Indonesia telah mencapai kemajuan besar dalam kemampuan melek huruf dasar. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemampuan membaca dan memahami informasi secara mendalam.
Hal itu disampaikan Chief of Education, UNESCO Regional Office for Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, the Philippines and Timor-Leste, and Liaison to ASEAN, Santosh Khatri dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemendikdasmen, Selasa (8/9/2026).
"Menurut statistik di Indonesia, hampir 97 persen dari penduduk berusia 15 tahun ke atas melek huruf pada 2024," ungkap Santosh.
Baca Juga
Teladan Literasi Damai Nabi Muhammad
Santosh menyebut pencapaian tersebut adalah suatu hal yang penting namun melek huruf saja tidak memberikan gambaran lengkap tentang tingkat literasi suatu bangsa.
"Kita juga harus mempertimbangkan apakah seseorang memiliki keterampilan untuk memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, berpartisipasi dalam masyarakat, dan terus belajar sepanjang hidup mereka," imbuhnya.
UNESCO ikut menyoroti besaran skor PISA atau nilai atau hasil pengukuran dari Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia.
PISA merupakan studi evaluasi mutu pendidikan global yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) untuk siswa berusia 15 tahun.
Santosh menjelaskan, besaran skor PISA OECD Indonesia 2022 dalam hal keterampilan membaca memiliki skor rata-rata 359 poin. Jumlah ini masih dibawah nilai rata-rata OECD pada hasil survei PISA 2022, yakni sebesar 476 poin.
Santosh menilai pemerintah Indoensia perlu meningkatkan pemahaman pelajar dan bisa dimulai dari jenjang pendidikan awal.
"Mengingatkan kita kebutuhan mendesak untuk upaya meningkatkan pemahaman dan pengertian mendalam di kalangan pelajar, dimulai dari kelas-kelas awal," sampainya.
Dalam Peringatan Hari Aksara Internasional 2026 atau Hari Literasi Internasional ke-60, Santosh mengajak agar kesempatan belajar bagi masyarakat terus diperluas.
"Mari kita pastikan bahwa literasi tetap menjadi inti dari pembelajaran sepanjang hayat, karena literasi bukan hanya tentang membaca kata, tetapi juga menciptakan dunia dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk membentuk dunia yang lebih baik," ajaknya.
Skor matematika turun
Sebelumnya, kemendikdasmen merilis Hasil PISA 2025 yang mencatat skor membaca Indonesia naik dari 359 poin pada 2022 menjadi 365 poin. Skor sains juga meningkat dari 383 menjadi 389 poin. Sementara itu, skor matematika turun dari 366 menjadi 364 poin.
Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen Toni Toharudin mengatakan hasil tersebut menunjukkan arah kebijakan pendidikan pemerintah sudah berada di jalur yang tepat. Meski demikian, ia menekankan keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari posisi Indonesia dalam peringkat PISA.
"Keberhasilan kita bukan naiknya posisi Indonesia dalam peringkat PISA, melainkan semakin naiknya kemampuan murid kita dalam bernalar, memecahkan masalah, dan belajar sepanjang hayat," ungkap Toni dalam Peluncuran Hasil PISA 2025.