Nasional

Wakil Rais Aam PBNU Optimis Tradisi Keilmuan NU Makin Kuat

Jumat, 28 Agustus 2026 | 19:00 WIB

Wakil Rais Aam PBNU Optimis Tradisi Keilmuan NU Makin Kuat

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir (tengah) pada acara Daurah Tahqiq Kitab Muassis NU (Foto: A Habiburrahman/NU Online)

Jombang, NU Online 
Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir, menyampaikan optimismenya terhadap kekuatan tradisi keilmuan Nahdlatul Ulama. Pernyataan itu disampaikan pada acara Daurah Tahqiq Kitab Muassis NU yang digelar Nahdlatut Turots. Agenda ini dipusatkan di Ribath Hidayatul Qur'an, Darul Ulum, Peterongan, Jombang, Jumat (28/8/2026). 


Menurut Kiai Afifuddin, kegiatan tahqiq kitab menunjukkan bahwa NU memiliki tradisi keilmuan yang kuat dan terus berkembang. Ia menilai kajian dan penelitian terhadap kitab-kitab turats menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama.


“Daurah tahqiq kitab kali ini membuat saya semakin optimis dan tidak ragu dengan keilmuan Nahdlatul Ulama,” katanya.


Ia menjelaskan, salah satu tujuan utama kegiatan tahqiq kitab adalah untuk memahami teks-teks kitab turats secara lebih mudah dan tepat. Tahqiq dilakukan untuk memastikan ketepatan teks, memberikan penjelasan terhadap bagian-bagian yang sulit dipahami, serta membantu pembaca memperoleh pemahaman yang sesuai dengan kandungan kitab.


“Jadi, tujuan dari kegiatan tahqiq kitab ini agar kita bisa memahami dan membaca kitab dengan mudah,” ujarnya. 


Menurutnya, tahqiq turats memiliki kedudukan penting dalam pengembangan tradisi keilmuan NU. Mengingat, kitab turats merupakan salah satu sumber utama yang menopang proses pembelajaran dan pembentukan keilmuan para ulama. 


“Karena itu, upaya menjaga, mengkaji, dan mengembangkan karya-karya ulama terdahulu harus terus dilakukan,” tuturnya. 


Ia menegaskan bahwa kebangkitan ulama memiliki hubungan erat dengan kebangkitan turats. Keberadaan ulama tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan yang diwariskan melalui karya-karya ulama terdahulu. Pada saat yang sama, turats membutuhkan proses tahqiq agar dapat terus dipelajari dan dikembangkan secara tepat.


“Bagi kami, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi NU, karena tidak akan ada kebangkitan ulama tanpa kebangkitan turats. Juga tidak mungkin ada ulama tanpa adanya turats, dan turats tidak akan berkembang jika tidak ada tahqiq turats,” ucapnya.


Sementara itu, Pengasuh Ribath Hidayatul Qur’an, KH Afifuddin Dimyati, mengapresiasi pelaksanaan Daurah Tahqiq Kitab Muassis NU. Ia menilai kegiatan tersebut memiliki manfaat penting dalam menjaga dan merawat warisan keilmuan para ulama salaf, khususnya para muassis Nahdlatul Ulama (NU).


Menurut Gus Awis, sapaan akrab KH M Afifudin Dimyati, kitab-kitab turats yang menjadi objek tahqiq menyimpan nilai keilmuan dan semangat para ulama yang menulisnya. Karena itu, upaya melakukan tahqiq terhadap karya-karya tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam.


“Saya sangat mengapresiasi dan menyambut baik acara ini. Kegiatan ini sangat baik dan bermanfaat untuk menjaga warisan para ulama salaf, khususnya para muassis Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Awis.


Katib PBNU ini menjelaskan, karya-karya turats tidak hanya memuat gagasan dan pengetahuan keislaman yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di dalamnya juga terdapat semangat dan ketulusan para ulama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta membimbing umat.


“Jadi, niat para ulama itu terserap pada turats-turats yang anda bawa untuk ditahqiq. Semangat para muallif pasti akan membekas dan memberi berkah pada tempat ini,” tuturnya.


Gus Awis berharap kehadiran para ulama dan calon ulama dalam kegiatan tahqiq kitab dapat membawa keberkahan bagi seluruh pihak yang terlibat. Menurutnya, berkumpul dalam satu majelis untuk belajar, mengkaji, dan mengembangkan khazanah keislaman merupakan bagian dari tradisi yang memiliki nilai penting dalam kehidupan keilmuan Islam.


“Maka dari itu, saya juga berharap dengan berkumpulnya para ulama atau calon ulama ini akan memberi keberkahan kepada kita semua. Inilah makna dari al-barakah ma‘al jama‘ah,” pungkasnya.