Kultum Ramadhan: Teladan Rasulullah di Sepertiga Akhir Ramadhan
Selasa, 17 Maret 2026 | 03:00 WIB
Bulan Ramadhan adalah madrasah ruhani bagi setiap Muslim, dan guru terbaik dalam madrasah ini tidak lain adalah Rasulullah saw. Beliau adalah teladan nyata tentang bagaimana menghamba secara totalitas di Bulan Ramadhan.
Sepanjang bulan suci ini, keseharian beliau dipenuhi dengan pancaran kebaikan, terutama dalam hal kedermawanan yang tak terbatas dan interaksi yang intim dengan Al-Qur'an. Kedermawanan beliau di bulan Ramadhan digambarkan melampaui kecepatan angin yang berhembus, menunjukkan betapa ringannya tangan beliau dalam berbagi.
Ini sebagaimana dikisahkan dalam riwayat Ibnu Abbas:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya: “Rasulullah saw adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemuinya, dan adalah Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, dimana Jibril mengajarkannya Al-Quran. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus.” (HR Al-Bukhari).
Namun, jika kita perhatikan ritme ibadah beliau, terdapat peningkatan signifikan saat memasuki sepertiga akhir bulan Ramadhan. Jika pada hari-hari sebelumnya beliau sudah bersungguh-sungguh, maka di sepertiga akhir ini, beliau seolah tancap gas. Kedermawanan dan intensitas membaca Al-Qur’an yang beliau lakukan jauh lebih meningkat di sepertiga akhir bukan Ramadhan.
Ketekunan yang luar biasa ini terekam dalam hadits:
كَانَ رَسُوْلُ اللهً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْتَهِدُ فِيْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مَا لَا يَجْتَهِدُ فِيْ غَيْرِهِ
Artinya, “Pada malam sepuluh terakhir, Rasulullah saw (lebih) bersungguh-sungguh (untuk beribadah), melebihi kesungguhan pada malam yang lain.” (HR Muslim).
Ada perbedaan mencolok antara cara Rasulullah saw menjalani 20 hari pertama dengan 10 hari terakhir. Di awal hingga pertengahan, beliau masih menyeimbangkan antara ibadah, puasa, dan tidur. Namun, begitu tiba 10 terakhir, pola itu berubah total. Beliau meminimalkan waktu istirahat demi fokus beribadah.
Dalam sebauh hadits digambarkan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْلِطُ الْعِشْرِينَ بِصَلَاةٍ وصَوْمٍ وَنَوْمٍ، فَإِذَا كَانَ الْعَشْرُ شَمَّرَ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ
Artinya, “Dari ‘Aisyah ra, dia berkata, ‘Pada 20 hari yang pertama (di bulan Ramadhan), Nabi saw biasa mengombinasikan antara shalat, puasa dan tidurnya. Namun jika telah masuk 10 hari terakhir, beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarungnya (menjauhi istri-istrinya).” (HR Ahmad).
Dalam hadits lain, digambarkan bagaimana keseriusan Rasulullah saw dalam beribadah di penghujung Ramadhan tidak hanya dirasakan oleh beliau sendiri. Beliau adalah sosok kepala keluarga yang sangat peduli pada keselamatan ruhaniah keluarganya. Beliau membangunkan istri dan anak-anaknya agar tidak terlelap dalam tidur saat ampunan Allah sedang dicurahkan seluas-luasnya.
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ، وَشَدَّ الْمِئْزَرَ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ)
Artinya, "Adalah Rasulullah apabila sepuluh malam terakhir Ramadhan telah tiba, beliau menghidupkan malam dengan shalat dan berbagai ibadah, membangunkan keluarganya untuk shalat malam dan ibadah-ibadah yang lain, bersungguh-sungguh dalam beribadah melebihi apa yang biasanya dilakukan dan tidak menggauli istri-istrinya" (Muttafaqun 'Alaih, dan ini redaksi Imam Muslim).
Teladan yang ditunjukkan Nabi saw menjadi landasan bagi para ulama untuk menganjurkan umat Islam agar memperbanyak amalan di akhir Ramadhan. Namun, ibadah di sini tidak hanya bermakna ritual personal antara hamba dengan Tuhannya. Mengikuti jejak kedermawanan Nabi, kita juga diajak untuk meningkatkan kepedulian sosial. Menolong sesama, memberikan buka puasa, dan memperbanyak sedekah adalah bentuk nyata dari meneledani kesungguhan Nabi saw.
Imam an-Nawawi menjelaskan:
فَفِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُزَادَ مِنَ الْعِبَادَاتِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَاسْتِحْبَابُ إِحْيَاءِ لَيَالِيهِ بِالْعِبَادَاتِ
Artinya, “Hadits ini menunjukkan bahwa disunnahkan untuk meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan serta menghidupkan malam-malamnya dengan ibadah,” (Syarah Nawawi 'ala Shahih Muslim, [Beirut, Darul Ihya’ Turots: 1392], jilid VIII, halaman 70).
Selain itu, salah satu bentuk nyata kesungguhan Rasulullah saw dalam menghidupkan sepertiga akhir Ramadhan adalah dengan melaksanakan i'tikaf. I'tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, melainkan sebuah upaya untuk memutus hubungan sementara dengan kesibukan duniawi demi membangun hubungan yang lebih dekat dengan Allah Swt.
Dalam hadits disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya, "Dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, istri-istrinya beri'tikaf setelah beliau wafat." (HR Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi).
Mari kita jadikan sepertiga akhir Ramadhan ini bukan sebagai masa untuk bersantai menunggu Idul Fitri, melainkan sebagai garis finis yang harus kita lalui dengan kecepatan penuh. Mari kita tingkatkan amal kebaikan, termasuk kepedulian sosial, saling membantu sesama, serta memperbanyak ibadah sunnah dan shalat malam. Waallahu a’lam.
Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan