Shalawat/Wirid

Amalan Shalawat dari Imam Syafi’i untuk Meraih Ampunan di Bulan Syaban

Sabtu, 24 Januari 2026 | 21:40 WIB

Amalan Shalawat dari Imam Syafi’i untuk Meraih Ampunan di Bulan Syaban

Shalawat Imam Syafi’i (freepik)

Bulan Syaban merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa. Bulan yang hadir sebagai bulan penuh berkah dan ampunan, sekaligus menjadi penanda bahwa bulan suci Ramadhan kian dekat. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di bulan ini sebagai bentuk persiapan menyambut puasa dengan hati dan jiwa yang lebih bersih.

 

Lebih dari itu, Syekh Yusuf an-Nabhani menjelaskan bahwa bulan Syaban juga dikenal sebagai bulan shalawat. Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, bahkan lebih banyak dibandingkan bacaan shalawat di bulan-bulan lainnya. Amalan ini menjadi wujud cinta kepada Rasulullah sekaligus sarana memperkuat kesiapan spiritual sebelum memasuki Ramadan.

 


Dalam kitab Al-Anwarul Muhammadiyyah minal Mawahibil Ladunniyyah, ia menjelaskan:

 

قَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً. قِيْلَ نُزِلَتْ هَذِهِ الْأَيَةُ فِي شَهْرِ شَعْبَانَ، وَلِذَلِكَ يُقَالُ لَهُ شَهْر الصَّلاَةِ عَلىَ رَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

Artinya, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’ (QS. Al-Ahzab: 56). Dikatakan bahwa ayat ini diturunkan pada bulan Syaban, dan karena itulah bulan ini disebut sebagai bulan shalawat kepada Rasulullah saw.” (Syekh Yusuf an-Nabani, Al-Anwarul Muhammadiyyah minal Mawahibil Ladunniyyah, [Mesir: Mathba’ah al-Maimaniyyah, t.t], halaman 267).

 


Shalawat yang Bisa Dibaca di Bulan Syaban


Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki dalam kitab Madza fî Sya‘bân menjelaskan bahwa salah satu bacaan shalawat yang sangat dianjurkan untuk diamalkan pada bulan mulia Sya‘ban adalah shalawat yang berasal dari Imam asy-Syafi‘i.

 

Berikut bacaan shalawat yang bersumber dari Imam Syafi'i;

 


وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ

 

Wa ṣhallallāhu ‘alā Muḥammadin ‘adada mā zhakarahu adz-zhākirūn, wa ‘adada mā ghafala ‘an zhikrihi al-ghāfilūn.

 

Artinya; "Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak bilangan orang-orang yang mengingatnya, dan sebanyak bilangan orang-orang yang lalai dari mengingatnya,". 

 


Ada sebuah kisah menarik di balik shalawat ini. Sayyid Muhammad mengisahkan bahwa satu saat Ibnu Abdil Hakam bermimpi bertemu dengan Imam Syafi’i. Dalam mimpi itu, ia memberanikan diri bertanya, “Wahai Imam, apa yang Allah perbuat kepadamu setelah engkau wafat?”

 

Imam Syafi’i menjawab bahwa Allah swt telah melimpahkan kenikmatan kepadanya dan mengampuninya. Bahkan, ia disambut dengan penuh kemuliaan di dalam surga, diarak sebagaimana seorang pengantin, serta ditaburi anugerah dan penghormatan sebagaimana pengantin yang dimuliakan.

 

Mendengar jawaban tersebut, Ibnu Abdil Hakam tertegun. Dan dengan rasa penasaran yang memuncak, ia bertanya lagi, “Wahai Imam, amalan apa yang telah engkau lakukan sehingga engkau bisa mencapai kedudukan yang begitu mulia ini?” Maka Imam Syafi’i menjawab:

 

بِقَوْلِي فِي كِتَابِ الرِّسَالَةِ: وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ عَدَدَ مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُونَ، وَعَدَدَ مَا غَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُونَ

 

Artinya, “Dengan perkataanku dalam kitab Ar-Risalah: ‘Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak bilangan orang-orang yang mengingatnya, dan sebanyak bilangan orang-orang yang lalai dari mengingatnya’.” (Sayyid Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Maliki ​​​​​​, Madza fis Sya’ban, cetakan pertama: 1424 H], halaman 30).

 


Dari kisah ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa shalawat memiliki keutamaan yang sangat agung. Melalui shalawat, Allah swt melimpahkan kenikmatan dan ampunan. Bahkan, seseorang dapat disambut dengan penuh kemuliaan di surga, diarak layaknya seorang pengantin, serta dianugerahi kehormatan dan kemuliaan sebagaimana pengantin yang dimuliakan.

 

Penegasan tentang agungnya keutamaan shalawat ini juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Imam Abul Laits as-Samarqandi. Ia menjelaskan bahwa seandainya tidak ada balasan bagi orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad kecuali harapan memperoleh syafaat kelak, niscaya hal itu saja sudah cukup menjadi alasan bagi orang berakal untuk tidak pernah lalai dari membaca shalawat.

 

Terlebih lagi, shalawat tidak hanya menghadirkan harapan syafaat, tetapi juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa serta mendatangkan balasan berupa shalawat dari Allah Ta’ala sendiri kepada hamba-Nya. Perhatikan penjelasan berikut ini:

 

قَالَ أَبُو اللَّيْثِ السَّمَرْقَنْدِيّ: لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ ثَوَابٌ سِوَى أَنَّهُ يَرْجُو بِذَلِكَ الشَّفَاعَةَ، لَكَانَ الْوَاجِبُ عَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لَا يَغْفُلَ عَنْهَا، فَكَيْفَ وَفِيهَا مَغْفِرَةٌ لِلذُّنُوبِ، وَفِيهَا الصَّلَاةُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى

 

Artinya, “Abu Laits as-Samarqandi berkata: ‘Seandainya shalawat kepada Nabi tidak memiliki pahala kecuali harapan untuk mendapatkan syafaat, maka sudah seharusnya bagi orang yang berakal untuk tidak melalaikannya. Apalagi di dalamnya terdapat ampunan dosa dan shalawat (rahmat) dari Allah Ta’ala.” (Madza fis Sya’ban, 31).

 

Demikianlah uraian tentang keistimewaan bulan Syaban sebagai bulan shalawat serta bacaan shalawat yang bisa dibaca di dalamnya. Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan menambah semangat kita untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, serta meraih keberkahan dan syafaatnya kelak.

 


----------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.