Cerpen

Makelar dalam Empat Puluh Hari

NU Online  ยท  Ahad, 19 Juli 2026 | 22:00 WIB

Makelar dalam Empat Puluh Hari

Ilustrasi (NU Online/AI Generated)

Empat puluh hari yang lalu, bapak pingsan usai dari rumah temannya. Sejak saat itu, ia menjelma menjadi sosok berbeda, baik fisik maupun psikis. Dulu ia pilah-pilih dalam hal makanan, tetapi kini segala jenis makanan masuk ke dalamย perutnya. Sekali makan, bisa menghabiskan satu sangku. Dan dalam satu hari, lima kali ia makan. Tetapi anehnya, lemak sama sekali tak hinggap di badannya. Kini yang tersisa darinya hanyalah tulang berlapis kulit.


Bapak yang dulu dermawan perihal senyum, kini jadi pelit. Ia sering marah-marah tidak jelas, omongannya entah ngelantur ke arah mana. Orang-orang yang menjenguknya pun tak luput dari omelannya. Untungnya tidak ada yang tersinggung, sebab sebelum mereka masuk ke kamar, ibu menjelaskan situasinya.


Dokter tak tahu pasti, sakit apa yang diderita bapak. Hanya mengatakan bahwa bapak kemungkinan terkena komplikasi. Tentu itu masuk akal, sebab hari-hari bapak tak bisa lepas dari yang namanya kopi dan rokok. Dokter memberikan banyak jenis obat, memintanya untuk rutin kontrol.


Setelah pingsan pertama, sepuluh hari kemudian bapak kembali pingsan. Kali ini kelakuannya tambah aneh. Ia minta dibelikan semen. Dengan tangannya sendiri, semen tersebut ia gunakan untuk membuat jalan kecil dari teras menuju halaman rumah. Kepada orang yang menanyakan untuk apa jalan itu, dengan suara datar bapak mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan memiliki mobil yang amat bagus.

 

Lima belas hari pascapingsan kedua, bapak kembali pingsan. Pingsan kali ini, mengharuskannya rawat inap di rumah sakit selama lima hari. Setelah diperbolehkan pulang, aku dan ibu memutuskan agar bapak melakukan tirah. Ia dipindahkan ke rumah mendiang nenek. Tirah atau pindah rumah bagi orang sakit dalam masyarakat Jawa, dipercaya bisa membuang sial atau tolak bala.

 

Tujuh hari pasca bapak tirah ke rumah nenek, rumah kami diketuk oleh suatu yang tak diundang. Kebetulan, malam itu aku tak bertugas menjaga bapak. Aku mengira ketukan di jam satu dini hari itu berasal dari saudara ibu, sebab kanan-kiri rumah kami adalah rumah mereka. Nyatanya tak ada siapa-siapa, yang ada hanyalah suara tawa perempuan melengking menggema di langit. Segera ku tutup pintu, berlari ke kamar, bersembunyi dalam selimut yang terasa dingin. Dari situ aku menyadari bahwa sakit yang didera bapak bukan sembarang sakit.


โ€œApa ini ada kaitannya dengan pekerjaan bapak sebagai makelar?โ€ gara-gara suara menyeramkan di tengah malam, pertanyaan itu terus menggema dalam pikiranku.

 

Pagi itu setelah Subuh, bergegas aku menuju rumah mendiang nenek. Aku ceritakan apa yang aku alami tadi malam kepada ibu dan juga saudara-saudara bapak. Mereka sependapat denganku bahwa sakit bapak bukanlah sakit medis, melainkan guna-guna yang disebut dengan santet. Adik bapak Man Hifdi mengatakan bahwa nanti siang ia akan membawa temannya yang biasa mengobati santet datang guna menyembuhkan bapak.


Hari itu, menuju siang rasanya amat sangat lama. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal yakni pekerjaan bapak sebagai makelar. Aku tahu banyak tentang pekerjaan bapak, sebab ia sering menceritakannya. Satu tahun belakangan, pekerjaannya sebagai makelar bisa dikatakan mendadak tidak mulus.

 

โ€œTadi bapak dimarahi sama Manif, dimarahi di depan banyak orang lagi,โ€ kata bapak sambil meletakan topi fedoranya di meja makan. Lalu ia duduk di kursi dan minum air putih dari gelas mug berwarna loreng hijau putih.

 

โ€œMarah soal apa pak?โ€

 

โ€œSoal sawah,โ€ ucapnya sambil meletakan gelas mug kembali ke meja, โ€œManif kan menjual sawah lewat bapak ke Haji Isman. Nah, di tangan Haji Isman sawah itu berubah menjadi menghasilkan. Haji Isman ini kan pernah sekolah pertanian di Bogor, jadi wajar saja ia ahli demikian. Eh, malah menyalahkan aku.โ€

 

Dari arah dapur ibu datang membawa piring berisi pisang goreng, lalu meletakkannya di meja, lalu berucap, โ€œHati-hati loh sama Manif. Sudah jadi rahasia umum, kalau ia suka pergi ke dukun.โ€ Tak ada raut wajah kepanikan sama sekali dalam wajah bapak, โ€œSama santet kok takut. Yang wajib ditakuti itu Allah.โ€

 

Temanku Harun yang kebetulan bekerja sebagai sopir Manif mengatakan bahwa bosnya itu mengucapkan sumpah serapah yang amat sangat menakutkan. โ€œBos Manif mengatakan begini, tinggal menunggu waktu saja dihinggapi sakit yang membuat malu keluarga. Sakit tersebut juga membuat kehabisan dedek dan meri, dengan kata lain kantong jadi kering.โ€

 

Setelah mendengar cerita dari Harun, aku membujuk bapak untuk meminta maaf kepada Manif. Tetapi sudah barang tentu bapak menolaknya, โ€œAku tidak salah, ngapain minta maaf. Hidup dan mati di tangan Allah. Sebagai makelar pada transaksi Manif dan Haji Isman aku sudah sesuai dengan ketentuan, tidak menipu.โ€

 

Kejadian lainnya berkaitan dengan bapak sebagai penengah konflik dalam sebuah yayasan pendidikan. Yayasan tersebut menaungi dua pendidikan yakni sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Kepala sekolah di dua institusi pendidikan tersebut bernama Man Asra. Lebih dari dua dasawarsa ia menjabat. Tercatat ia juga pernah menjabat sebagai kepala desa. Man Asra terhitung masih kerabat dekat bapak, ia masih sepupu dengan bapak dari pihak kakek. Sementara itu ketua yayasan yang baru ditunjuk bernama Man Alis. Ia juga masih kerabat bapak. Terhitung, ia masih sepupu dengan bapak dari pihak nenek.


Man Alis yang baru mendapat mandat langsung mengecek keuangan yayasan. Setelah diselidiki, diketahui bahwa kedua sekolah itu ternyata mendapatkan biaya operasional sekolah. Konsekuensinya adalah sekolah tidak ada biaya rutin yang dibebankan kepada siswa. Namun, nyatanya selama Man Asra menjabat, siswa dibebankan SPP. Lantas, Man Asra pun dicopot dari jabatannya. Namun, tak berhenti sampai di situ, pihak yayasan yang diwakili Man Alis menuntut ganti rugi kepada Man Asra. Jika tidak, makan akan berlanjut ke jalur hukum.

 

Bapak pun berinisiatif untuk meredakan konflik tersebut. Diadakanlah pertemuan di rumah bapak dengan waktu tengah malam. Pada malam itu Man Asra tak kunjung datang. Alahasil aku diutus oleh bapak menjemputnya. Ketika menjemput Man Asra di rumahnya, aku kena omel Bi Irah yang merupakan istri Man Asra.

 

โ€œDapat upah berapa bapakmu dari Alis? Ouh iya bapakmu kan jualan ludah.โ€


Malam itu terjadi perdebatan yang alot hingga Subuh. Man Asra benar-benar terpojok, sebab bukti yang dikeluarkan oleh Man Alis bukan mengada-ada. Bapak pun menyarankan agar Man Asra lebih baik membayar ganti rugi sebesar dua hektare sawah. Lantas, Man Asra mengatakan bahwa ia akan mendiskusikan terlebih dahulu dengan istrinya. Seusai pertemuan itu, kepadaku bapak mengatakan bahwa ganti rugi yang diminta oleh pihak yayasan nilainya jauh lebih kecil dibandingkan korupsi yang dilakukan oleh Man Asra. Beberapa hari kemudian muncul desas-desus di warga kampungku bahwa bapak dan Man Alis berusaha memeras Man Asra. Sebulan setelah pertemuan itu Man Alis jatuh sakit.

 

Selepas Dzuhur Man Hifdi datang bersama dengan temannya. Ia memperkenalkan diri bernama Kang Leman. โ€œJangan panggil kiai atau ustadz, panggil saja kang,โ€ ucapnya. Kang Leman membacakan ayat-ayat ruqyah di telinga bapak. Mulanya bapak berontak, lalu berteriak panas. Kurang lebih satu jam bapak diruqyah. Kini kondisinya sudah stabil, mukanya kembali cerah. Seusai meruqyah bapak, Kang Leman mengatakan bahwa memang ada kiriman santet.

 

โ€œMudah-mudah belum terlambat,โ€ ucapnya sebelum pamit.

 

Setelah diruqyah bapak memang kembali seperti sedia kala dalam hal ini adalah perilakunya, meskipun tubuhnya masih ringkih. Ia kini kembali mengingat sholat. Tiga hari pasca diruqyah, seusai sholat Subuh bapak memintaku untuk membersihkan rumahnya. Lantas, menyiapkan kain mori dan wangi-wangian. Malam harinya, seusai sholat Isya, aku dilarang pulang ke rumah. Katanya bapak ingin tidur denganku malam itu. Malam itu aku ย merasa gelisah, tidak bisa tidur. Jam tiga dini hari, bapak mengalami kejang hebat. Kejang itu hanya berlangsung satu menit. Sebelum nyawa sampai kerongkongan, ia menyebut nama Tuhannya.

 

Bapak dimakamkan di samping kedua orang tuanya. Malam harinya diadakan tahlil di rumah mendiang nenek. Seusai tahlil, di jam sepuluh malam aku kembali ke rumah. Sementara ibu dan adik-adikku tetap di rumah nenek. Perjalanan dari rumah nenek ke rumahku hanya dua puluh menit jalan kaki. Sesampainya di halaman rumah, aku dikejutkan dengan keberadaan bunga setaman di teras rumah. Dari warnanya kelihatan masih baru. Tak jauh dari situ aku menemukan kalung emas dengan bandul berbentuk huruf A. Nampaknya itu adalah kalung dari orang yang menaruh bunga tersebut dan tak sengaja jatuh.


Lantas, aku ambil kalung itu. Aku perhatikan dengan seksama. Seketika ingatanku melayang ke lima tahun lalu. Kalung itu adalah pemberianku kepada Alina. Namun, hubungan kami tidak direstui oleh orang tua Alina. Meskipun lamaranku ditolak, aku tetap memberikan Alina kalung, sebagai hadiah kenang-kenangan. Tidak berselang lama pasca lamaranku ditolak, Alina dilamar oleh Gifran dari kampung sebelah. Tentu saja lamarannya disetujui, ia dari keluarga berada dan sukses di perantauan. Ketika hari H pernikahan, Alina ditemukan terbujur kaku di kamarnya dengan kulit membiru. Desas-desus kampung mengatakan bahwa Alina disantet. Saat itu semua tangan langsung menunjuk ke arahku.

 

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yangย tersebar di beberapa media online. Buku terbarunya sebuah kumpulan puisi berjudul Kumpulan Orang Kalah (2026).