Daerah

Air Tercemar, Warga Terancam: Krisis Kesehatan Mengintai di Sekitar TPST Bantargebang

NU Online  ยท  Senin, 13 April 2026 | 17:00 WIB

Air Tercemar, Warga Terancam: Krisis Kesehatan Mengintai di Sekitar TPST Bantargebang

Gunungan sampah di TPST Bantargebang. (Foto: NU Online/Rikhul)

Bekasi, NU Online

ย 

Krisis air bersih dan ancaman kesehatan serius terus menghantui warga yang tinggal di sekitar Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

 

Di tengah klaim manfaat pengelolaan sampah terpusat, realitas di lapangan justru menunjukkan dampak buruk yang harus ditanggung masyarakat terdampak, mulai dari pencemaran lingkungan hingga meningkatnya risiko penyakit.

 

Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Bantargebang, Kota Bekasi Lukmanul Hakim, menegaskan bahwa klaim kebermanfaatan tersebut perlu diuji secara objektif.

 

โ€œKlaim maslahah dari pengelolaan sampah terpusat harus diuji dengan realitas mafsadah yang ditanggung oleh masyarakat terdampak,โ€ ujarnya dalam Dirosah Lingkungan bertajuk Refleksi TPST Bantargebang & TPA Sumurbatu Menuju Kedaulatan Lingkungan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Bantargebang di Bekasi, pada Ahad (12/4/2026).

 

Lukmanul menjabarkan bahwa permasalahan paling nyata terlihat dari polusi udara yang dihasilkan oleh timbunan sampah. Sampah organik yang membusuk secara anaerobik menghasilkan gas metana (CH4) dan hidrogen sulfida (H2S) dalam jumlah besar.

 

โ€œGas-gas ini yang menjadi sumber utama bau busuk yang menyengat dan menjadi ancaman serius bagi kesehatan warga,โ€ ucapnya.

 

Dampaknya, prevalensi penyakit di kawasan sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) dilaporkan tinggi. Gangguan pernapasan seperti Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA), asma, bronkitis, hingga tuberkulosis mengalami peningkatan.

 

โ€œWarga juga rentan terhadap penyakit kulit, diare, dan gangguan pencernaan akibat lingkungan yang tidak higienis dan air yang tercemar,โ€ ujarnya.

 

Ia mengatakan bahwa paparan polusi udara kronis, terutama bagi anak-anak dan lansia, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan paru-paru permanen serta meningkatkan risiko penyakit kronis lainnya.

 

Tidak hanya udara, pencemaran air menjadi persoalan yang lebih mengkhawatirkan. Salah satu sumber utama pencemaran adalah lindi (leachate), yaitu cairan beracun yang terbentuk dari rembesan air hujan yang melarutkan berbagai polutan dari timbunan sampah.

 

โ€œLindi ini mengandung konsentrasi tinggi bahan organik seperti COD dan BOD, logam berat seperti kadmium dan merkuri, serta senyawa berbahaya lainnya,โ€ turur Lukmanul.

 

Meski telah tersedia Instalasi Pengolahan Air Sampah (IPAS), kapasitas dan efektivitasnya tidak memadai, terutama saat musim hujan. Akibatnya, lindi kerap meluap ke sungai-sungai sekitar, seperti Kali Asem, dan mencemari air tanah.

 

โ€œWarga di Kelurahan Sumur Batu dan sekitarnya melaporkan bahwa air sumur mereka telah berubah warna menjadi keruh kekuningan hingga kehitaman, berbau busuk atau seperti logam, dan terasa pahit,โ€ ujarnya.

 

Senada, Pusat Peneliti Sumber Daya Manusia dan Lingkungan Universitas Indonesia, Nur Ihsan Ayyasy mengungkapkan bahwa tingkat bahaya yang tidak bisa lagi dianggap sepele, bahkan disebut melampaui kawasan industri ekstraktif.

 

โ€œKeracunan akibat air di bantar gebag itu delapan kali lebih tinggi daripada yang ada di kawasan tambang nikel. Masyarakat di Pulau Obi, Maluku Utara itu mereka sangat resah. Saya rasa masyarakat Bantargebang lebih jauh meresahkan lagi,โ€ ujarnya.

 

Ihsan mengatakan bahwa sistem pengolahan air limbah tidak berjalan efektif. Keberadaan IPAS tidak memberikan dampak yang signifikan dalam menekan pencemaran.

 

โ€œAir di Bantar Gebang itu sudah tidak bisa diminum ataupun untuk memasak karena sudah rusak sekali. IPA itu bisa dibilang tidak ada yang berfungsi. Masalah ini tentu harus terus disuarakan lebih keras lagi,โ€ tegasnya.