Daerah MUKTAMAR KE-35 NU

Cerita Anik Zahra, Alumnus Tambakberas Sambut Muktamar Ke-35 NU

NU Online  ·  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:00 WIB

Cerita Anik Zahra, Alumnus Tambakberas Sambut Muktamar Ke-35 NU

Anik Zahra di lokasi Expo Muktamar di sekitar Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Sabtu (22/8/2026). (Foto: Istimewa)

Jombang, NU Online

Gaung Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya terasa di lingkungan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai lokasi utama perhelatan akbar tersebut. Sejumlah madrasah di Kabupaten Jombang juga turut ambil peran dalam menyukseskan hajatan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia itu.


Satu di antaranya ialah MTsN 15 Jombang. Madrasah tersebut bersama sejumlah madrasah lain di sekitar Pesantren Tambakberas turut terlibat dalam berbagai persiapan menyambut kedatangan para peserta Muktamar Ke-35 NU.


Guru Bahasa Inggris MTsN 15 Jombang, Ni’matuz Zahroh (48), mengatakan keterlibatan madrasah di Jombang cukup beragam. Sebagian madrasah di sekitar Bahrul Ulum, termasuk MTsN 3 Jombang dan MAN 3 Jombang, bakal digunakan sebagai tempat bermalam muktamirin (para peserta muktamar).


“Beberapa madrasah yang ada di lingkup Bahrul Ulum digunakan sebagai tower. Untuk MTsN 3 sendiri itu tower 6. Tower-tower ini digunakan sebagai tempat bermalam para peserta muktamar,” ujarnya kepada NU Online, Jumat (21/8/2026) malam.


Anik Zahra, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa selain menyediakan tempat bermalam, sejumlah madrasah juga mendapatkan tugas lain. Sekitar lima madrasah diminta mengirimkan guru putra untuk membantu layanan transportasi bagi peserta muktamar.

 

Para guru tersebut bertugas dalam dua shift, yakni pagi dan malam. Mereka disiapkan untuk membantu di bidang layanan transportasi menggunakan kendaraan roda dua. Mereka nantinya mendapatkan fasilitas berupa kaos pengemudi dan voucher untuk memasuki lokasi Muktamar.

 

“Guru-guru mengisi data, termasuk data motornya. Nanti mereka mendapatkan fasilitas dari Kemenag berupa kaos driver dan voucher yang digunakan untuk masuk lokasi muktamar,” kata Anik.


Madrasah lainnya juga dilibatkan dalam menjaga kebersihan selama Muktamar berlangsung melalui program Gerakan Madrasah Sampah Jadi Sedekah (Gema Sajadah).


“Madrasah-madrasah yang ditunjuk sebagai Gema Sajadah siap mengamankan kebersihan selama pelaksanaan Muktamar,” jelasnya.


Persiapan tersebut juga berdampak pada kegiatan pembelajaran. Sejumlah madrasah yang berada di lingkungan pesantren akan memulangkan para santrinya selama sekitar dua pekan. Proses pembelajaran kemudian dilaksanakan secara daring.

 

“Sebagian besar madrasah yang di lingkup pesantren, para santri dipulangkan selama dua pekan. Mereka belajar secara daring. Untuk yang lain menyesuaikan,” ungkapnya.

 

Bangga Tambakberas Jadi Tuan Rumah
Bagi Anik, keterlibatan dalam menyambut Muktamar Ke-35 NU memiliki makna personal. Ia merupakan alumnus Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tepatnya Pondok Al-Latifiyah, yang saat itu diasuh oleh Nyai Rohmah Wahab (istri KH Wahab Chasbullah). Sekarang Pondok Al-Latifiyah menjadi Al-Latifiyah 1 dan diasuh Nyai Hj Machfuhoh Aly Ubaid.


Ia menempuh pendidikan di pesantren tersebut sejak 1989 hingga 1995. Karena itu, ketika mendengar Tambakberas dipilih menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU, perasaan bangga langsung memenuhi dirinya.


“Sebagai salah satu alumni Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas Jombang, tentu sangat bangga karena ini kali kedua Jombang menjadi tuan rumah Muktamar NU,” tuturnya.


Kebanggaan itu tidak berhenti pada perasaan. Alumni Bahrul Ulum juga ikut menyiapkan berbagai kegiatan untuk menyambut Muktamar Ke-35 NU.

 

Menurut Anik, sejumlah kegiatan pra-Muktamar telah dilakukan para alumni. Antara lain bedah buku karya mereka. Kegiatan tersebut juga akan terus berlangsung menjelang maupun selama muktamar.

 

“Salah satunya beberapa kali dilaksanakan bedah buku. Buku-buku yang dibedah adalah tulisan alumni yang menjelang Muktamar dan selama pelaksanaan muktamar juga akan didiskusikan lagi,” katanya.

 

Anik sendiri turut ambil bagian dengan menulis buku antologi biografi tentang Nyai Wahab Chasbullah. Buku tersebut telah diluncurkan dalam kegiatan reuni alumni Pondok Al-Latifiyah dan akan dipamerkan dalam Expo Muktamar.


Rumah Jadi Basecamp Muktamirin
Ada pula cerita menarik lain yang membuat Anik semakin merasakan atmosfer muktamar. Rumahnya yang berada di kawasan Perumahan Bahrul Ulum Menara Asri (Perumbuma), berada di sekitar area parkir dan lokasi Expo Muktamar NU.


Kawasan tersebut termasuk dalam Ring 1 Muktamar NU. Rumah-rumah di kawasan itu pun banyak yang disewakan untuk kebutuhan para peserta dan tamu muktamar.


“Alhamdulillah itu rezeki bagi kami untuk para muktamirin,” ujarnya seraya bersyukur.


Menurut dia, meskipun panitia telah menyiapkan tower sebagai tempat menginap peserta, kebutuhan tempat untuk berkumpul dan berdiskusi tetap akan muncul selama muktamar.

 

“Para kiai pasti akan mencari basecamp untuk diskusi, musyawarah, dan sebagainya. Beliau-beliau pasti butuh tempat yang tenang,” kata penulis puluhan buku fiksi ini.


Rumah Anik bahkan menjadi salah satu tempat yang digunakan sebagai basecamp sebuah partai nasional yang butuh sekitar 150 rumah untuk menampung kader dari berbagai daerah.


Sibuk sebagai Guru dan Panitia
Di tengah-tengah kesibukan menyambut Muktamar NU, Anik juga harus menjalankan tugasnya sebagai aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama. Agenda Muktamar berbarengan dengan sejumlah kegiatan lain, termasuk peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI dan agenda Kanwil Kemenag Jawa Timur.


​​​​​​​Anik juga terlibat sebagai salah satu panitia Expo Madrasah yang puncak kegiatannya dijadwalkan pada 1 September 2026. Ia ditunjuk karena memiliki rekam pengalaman sebagai peserta terbaik dalam kursus peningkatan kompetensi guru Bahasa Inggris madrasah hasil kerja sama Kemenag RI dan British Council tahun lalu.

 

“Bisa dibayangkan betapa sibuknya saya,” ujarnya seraya tertawa.


​​​​​​​Meski demikian, kesibukan tersebut justru menjadi pengalaman istimewa. Sebagai alumnus Tambakberas sekaligus bagian dari keluarga besar Kemenag, ia merasa mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi dalam menyambut para ulama dan peserta muktamar dari berbagai daerah.


“Kami harus siap menyambut dan memberikan yang terbaik untuk para kiai seluruh Indonesia,” tandasnya.


Kenangan di Tambakberas
Ditanya tentang kenangan selama mondok di Tambakberas, Anik mengaku memiliki begitu banyak cerita. Mulai dari pengalaman berorganisasi, menjalani kehidupan sebagai santri dengan uang saku yang terbatas, hingga berbagai kegiatan yang diberikan oleh pengasuh pesantren.


“Kenangan menarik saat di pondok tentunya banyak sekali,” ujarnya.

 

Satu di antara pengalaman paling membekas adalah ketika dirinya aktif dalam berbagai kegiatan dan organisasi pesantren serta mendapat kepercayaan dari Nyai Rohmah Wahab untuk mengikuti sejumlah kegiatan.


​​​​​​​Sebagian kenangan tersebut bahkan dituangkannya dalam buku biografi tentang Nyai Wahab. Buku tersebut ia persiapkan untuk memeriahkan Expo Muktamar.


​​​​​​​Bagi Anik, kembalinya Muktamar NU ke Jombang, khususnya di pesantren yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya, bukan sekadar sebuah peristiwa biasa. Ada rasa rindu, bangga, sekaligus tanggung jawab sebagai alumni untuk turut serta menyambut para ulama dan nahdliyin dari seluruh penjuru Nusantara.


“Sebagai alumni Pondok Tambakberas, kami harus siap menyambut dan memberikan yang terbaik untuk para kiai seluruh Indonesia,” pungkas Anik.