Daily Sastra Dorong Budaya Literasi Pemuda Rembang Lewat Kelas Esai Kreatif
NU Online · Senin, 29 Juni 2026 | 16:00 WIB
Daily Sastra usai adakan kegiatan Esai Creative Playdate Class di Kafe Namua (Foto: NU Online/Ayu Lestari)
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Komunitas literasi Daily Sastra menggelar kegiatan Esai Creative Playdate Class di Kafe Namua, Rembang, Ahad (28/6/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh 20 peserta dari berbagai kalangan.
Narasumber sekaligus praktisi esai, Diyah Anggun Febriyanti, menilai bahwa menulis esai merupakan sarana penting untuk menyampaikan pendapat sekaligus menunjukkan kepedulian terhadap berbagai persoalan di sekitar.
"Di Rembang sendiri tentu ada banyak persoalan maupun potensi yang bisa diangkat. Lewat tulisan, generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga bisa ikut memberikan sudut pandang dan solusi," ungkap Anggun kepada NU Online, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, menulis esai dapat dimulai dari pengalaman sehari-hari yang memiliki nilai reflektif.
"Kalau kita lebih peka terhadap apa yang terjadi, hal-hal sederhana yang kita alami bisa menjadi pelajaran apabila direfleksikan, lalu dihubungkan dengan pengalaman orang lain atau isu yang lebih luas," ujarnya.
Bagi Anggun, kemampuan berpikir kritis sangat berkaitan dengan kemampuan menulis. Sebelum menulis, seseorang perlu memahami terlebih dahulu apa yang ingin disampaikan. Berpikir kritis membantu melihat suatu persoalan dari berbagai sudut pandang, memilah informasi, dan menyusun argumen yang logis.
"Jadi tulisan yang dihasilkan tidak hanya berisi opini, tetapi juga memiliki dasar yang jelas," tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan membaca. Menurutnya, membaca akan memperluas wawasan, memperkaya kosakata, sekaligus menjadi referensi dalam menyusun tulisan yang baik.
"Dari membaca kita bisa belajar bagaimana menyusun tulisan yang baik. Karena itu, kebiasaan membaca menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan tulisan yang lebih berkualitas," katanya.
Anggun berharap kelas esai kreatif semacam itu dapat meningkatkan keberanian dan kepercayaan diri pemuda Rembang dalam menyampaikan ide serta gagasan melalui tulisan.
"Akan lebih baik lagi jika ilmu yang didapat bisa dibagikan kepada orang lain sehingga peserta dapat menjadi agen literasi yang mengajak lingkungan sekitar untuk lebih gemar membaca dan menulis," tutupnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang, Andi, menyambut baik inisiatif yang digagas Daily Sastra bersama para pegiat literasi.
"Kami melihat kegiatan seperti kelas esai kreatif ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan budaya literasi di masyarakat," ujar Andi.
Menurutnya, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi juga harus berkembang menjadi kemampuan berpikir kritis dan mengekspresikan gagasan melalui tulisan.
"Karena itu, kami mendukung pelaksanaan kegiatan agar semakin banyak masyarakat memperoleh akses terhadap ruang belajar, berdiskusi, dan mengembangkan kemampuan menulis, serta mampu menuangkan ide, pengalaman, maupun pandangannya dalam bentuk karya yang berkualitas," paparnya.
Meski demikian, Andi mengakui masih banyak tantangan dalam meningkatkan budaya literasi di Kabupaten Rembang.
"Tantangan literasi saat ini cukup besar. Akses terhadap informasi memang semakin mudah, namun belum semuanya diikuti dengan kemampuan memahami, menganalisis, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan. Selain itu, minat membaca dan budaya menulis masih perlu terus diperkuat," katanya.
Karena itu, ia berharap berbagai program literasi dapat dikemas secara menarik, inklusif, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
"Yang tidak kalah penting adalah kolaborasi antara pemerintah, komunitas literasi, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis secara berkelanjutan," tandasnya.
Menurut Andi, di era digital setiap orang dapat mengakses dan membagikan informasi dengan sangat mudah. Namun, kemampuan menyusun gagasan secara runtut, kritis, dan bertanggung jawab tetap harus terus diasah.
"Pelatihan menulis kreatif membantu masyarakat tidak hanya menjadi penikmat informasi, tetapi juga mampu menghasilkan tulisan yang berkualitas, inspiratif, dan bermanfaat. Literasi hari ini bukan sekadar kemampuan membaca, tetapi juga kemampuan menciptakan konten yang bernilai," terangnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan salah satu cara memperkuat budaya literasi adalah dengan memperbanyak ruang praktik. Setelah membaca, masyarakat perlu diberikan kesempatan untuk berdiskusi, menulis, mempublikasikan karya, hingga mendapatkan pendampingan dari para penulis maupun komunitas literasi.
"Karena itu, kami dari Dinarpus secara rutin melaksanakan pelatihan menulis serta terus membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak, seperti Daily Sastra dan komunitas lainnya, agar kegiatan literasi tidak berhenti pada membaca, tetapi juga melahirkan karya-karya yang dapat dinikmati masyarakat," ujarnya.
Andi juga melihat antusiasme masyarakat, khususnya pelajar, mahasiswa, guru, komunitas, dan pegiat literasi, terhadap berbagai kegiatan literasi terus meningkat. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari pentingnya literasi sebagai bekal untuk mengembangkan diri.
"Kami berharap semakin banyak kolaborasi seperti ini sehingga kegiatan literasi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan memberikan dampak yang lebih luas," pungkasnya.
Terpopuler
1
Pengumuman Hasil Seleksi Berkas Beasiswa Al-Azhar Mesir 2026, Cek Daftar Namanya di Sini
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Prediksi Cuaca 26 Juni-2 Juli 2026: Kemarau Makin Terasa, Dinamika Atmosfer Picu Hujan di Sebagian Daerah
4
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
5
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
6
Festival Adat Budaya Nusantara, Lebih dari 100 Raja dan Sultan Sedunia Bakal Kumpul di Salatiga
Terkini
Lihat Semua