Daerah

Dari Tenda ke Huntara, Harapan Baru Penyintas Bencana di Meunasah Raya Pidie Jaya

NU Online  ยท  Jumat, 27 Maret 2026 | 20:30 WIB

Dari Tenda ke Huntara, Harapan Baru Penyintas Bencana di Meunasah Raya Pidie Jaya

Huntara Pidie Jaya di Kompleks Kantor Bupati Cot Trieng. (Foto: dok warga)

Pidie Jaya, NU Online

Halaman Masjid Gampong Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang sebelumnya dipenuhi tenda pengungsian kini tampak lengang. Deretan terpal yang dahulu menjadi tempat berteduh ratusan warga perlahan menghilang, menandai berakhirnya fase darurat bagi para penyintas bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan tersebut pada akhir November 2025.


Sebanyak 151 keluarga kini telah direlokasi ke hunian sementara (huntara). Relokasi yang dilakukan menjelang Idulfitri itu menjadi titik awal bagi warga untuk menata kembali kehidupan setelah kehilangan tempat tinggal akibat bencana.


Keuchik Gampong Meunasah Raya, Abdul Halim Ishak, menyebut relokasi ini sebagai langkah penting untuk memberikan kenyamanan dan kepastian tempat tinggal bagi warga terdampak.


โ€œAlhamdulillah, warga yang sebelumnya tinggal di tenda sudah direlokasi ke huntara. Setidaknya mereka bisa menjalani kehidupan dengan kondisi yang lebih layak, apalagi menjelang Lebaran,โ€ ujarnya.


Ia menjelaskan, dari total 185 keluarga terdampak, sebanyak 151 keluarga memilih tinggal di huntara, sementara sebagian lainnya memilih menerima dana tunggu hunian. Dengan relokasi tersebut, tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian, dan seluruh tenda di halaman masjid telah dibongkar.


Bagi warga, perpindahan ini bukan sekadar perubahan tempat tinggal, tetapi juga perubahan suasana dari kondisi darurat menuju kehidupan yang lebih tertata. Huntara menjadi ruang baru untuk membangun kembali rutinitas, meski dalam keterbatasan.


Namun demikian, kehidupan di hunian sementara belum sepenuhnya berjalan ideal. Sejumlah persoalan masih dihadapi warga, terutama terkait ketersediaan air bersih dan sistem sanitasi yang belum berfungsi optimal.


Salah seorang penyintas, Fauzan, mengungkapkan bahwa fasilitas air bersih di huntara belum dapat digunakan.


โ€œDi kamar mandi memang sudah ada kran, tetapi air tidak mengalir. Kami masih harus mengambil air dari masjid di lokasi pengungsian sebelumnya,โ€ katanya, Kamis (26/3/2026).


Ia juga menyoroti kondisi saluran pembuangan yang belum berfungsi dengan baik, sehingga air limbah menggenangi area sekitar hunian. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menimbulkan masalah kesehatan jika tidak segera ditangani.


Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat kebersamaan warga tetap terjaga. Mereka saling membantu, berbagi, dan berupaya bertahan di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.


Tokoh agama setempat, Tgk Zahari, yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris PCNU Pidie Jaya, menilai bahwa musibah ini tidak hanya menjadi ujian, tetapi juga momentum untuk memperkuat nilai solidaritas dan kepedulian sosial.


โ€œBencana ini mengajarkan kita untuk sabar dan saling membantu. Dalam ajaran Islam, membantu saudara yang tertimpa musibah adalah bagian dari tanggung jawab bersama,โ€ ujarnya.


Menurutnya, relokasi ke huntara merupakan langkah awal yang patut disyukuri. Namun, perhatian terhadap kebutuhan dasar warga harus terus dilanjutkan agar mereka dapat hidup layak.


โ€œKita berharap persoalan air bersih, sanitasi, dan kebutuhan lainnya segera diselesaikan. Jangan sampai warga yang sudah direlokasi masih menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari,โ€ katanya.


Ia juga mengajak semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, untuk terus hadir memberikan dukungan kepada para penyintas agar mereka dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan secara normal.


Bagi masyarakat Meunasah Raya, perjalanan menuju pemulihan masih panjang. Huntara mungkin bersifat sementara, tetapi di dalamnya tumbuh harapan untuk masa depan yang lebih baik.


Kini, aktivitas warga mulai kembali berjalan. Anak-anak mulai bermain di sekitar hunian, dan kehidupan perlahan bergerak menuju kondisi yang lebih stabil. Di balik dinding sederhana huntara, tersimpan harapan besar untuk kembali memiliki rumah yang utuh dan kehidupan yang lebih layak.


Dari tenda darurat menuju hunian sementara, masyarakat Meunasah Raya tengah menapaki fase baru kehidupan, sebuah perjalanan yang tidak mudah, tetapi penuh semangat, ketabahan, dan harapan yang terus menyala.