Daerah

Empat Bulan Pascabanjir Bandang, Geudumbak Lebih Parah dari Aceh Tamiang, Tapi Sepi Sorotan

NU Online  ยท  Rabu, 25 Maret 2026 | 20:00 WIB

Empat Bulan Pascabanjir Bandang, Geudumbak Lebih Parah dari Aceh Tamiang, Tapi Sepi Sorotan

Kayu gelondongan besar dan kecil bahkan berlapis dari bawah tanah juga ada tulisan dengan kode tertentu masih menghiasi kawasan Geudumbak Kecamatan Langkahan Aceh Utara wilayah terparah musibah banjir bandang di Aceh. (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)

Aceh Utara, NU Online

Empat bulan setelah banjir bandang menerjang Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, luka itu belum benar-benar sembuh. Waktu berjalan, tetapi jejak kehancuran masih terasa nyata di setiap sudut desa.


Bagi warga, Geudumbak bukan sekadar lokasi bencana. Ia adalah ruang ingatan, tentang hari ketika air datang membawa kayu-kayu gelondongan raksasa, menghantam rumah, dan mengubah kehidupan dalam sekejap.


Desa yang dihuni sekitar 500 kepala keluarga itu mengalami kerusakan luar biasa. Sekitar 400 rumah hilang dan hancur, menyisakan hanya sekitar 35 unit yang masih berdiri. Angka yang tidak sekadar statistik, tetapi potret nyata betapa dahsyatnya dampak bencana tersebut.


Namun ironisnya, di tengah kerusakan sebesar itu, Geudumbak justru sepi sorotan. Tidak seperti wilayah lain, termasuk Aceh Tamiang, yang sempat menjadi perhatian luas di berbagai media.


Lautan Kayu

Di sepanjang aliran Krueng Mati, tumpukan kayu gelondongan masih membentang. Sebagian telah dibersihkan, tetapi banyak yang masih tersisa, diam, namun menyimpan kisah tentang derasnya arus yang pernah datang.


Rasyidin (39), warga Geudumbak, mengatakan bahwa kayu-kayu tersebut menjadi salah satu faktor utama kerusakan besar di desanya.


โ€œKayu gelondongan itu banyak sekali. Sampai sekarang masih ada, terutama di sepanjang sungai mati,โ€ ujarnya saat ditemui NU Online, Selasa (24/3/2026).


Menurutnya, tumpukan kayu itu membentang lebih dari satu kilometer. Yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan material yang tersisa.


โ€œKalau yang terlihat saja sudah sebanyak itu, apalagi yang di bawah. Itu yang membuat kerusakan di sini sangat parah,โ€ katanya.


Kini, kayu-kayu tersebut tak lagi sekadar sisa bencana. Sebagian dimanfaatkan warga sebagai bahan bangunan untuk bertahan, sementara sebagian lainnya justru menarik perhatian orang luar.

 

Fenomena tak biasa muncul di Geudumbak. Kawasan yang dulu dipenuhi kepanikan kini mulai didatangi pengunjung. Mereka datang bukan hanya untuk melihat, tetapi juga untuk merasakan.


Rahma, warga setempat, menyebut banyak orang datang karena penasaran dengan kondisi Geudumbak yang disebut-sebut sangat parah.


โ€œDi sini terasa sekali suasananya. Bukan sekadar melihat, tapi seperti mengingatkan kita tentang musibah dan kehidupan,โ€ ujarnya.


Sebagian bahkan menyebut kawasan itu sebagai semacam โ€œwisata religiโ€, bukan dalam arti formal, tetapi sebagai ruang refleksi tentang kehidupan, kehilangan, dan ketabahan.


Namun bagi warga, tempat itu bukan objek kunjungan. Ia adalah ruang yang menyimpan ketakutan, doa, dan perjuangan untuk bertahan.


โ€œOrang luar mungkin melihatnya sebagai tempat foto. Tapi bagi kami, ini penuh kenangan,โ€ katanya.


Lebaran di Tenda

Di balik semua itu, ada kenyataan yang lebih sunyi, Lebaran tahun ini tidak sepenuhnya dirayakan di rumah.


Sebagian warga masih bertahan di tenda darurat. Hunian sementara (huntara) yang diharapkan menjadi solusi belum sepenuhnya rampung. Ada yang belum selesai, ada pula yang belum layak ditempati.


Di saat banyak orang merayakan Idulfitri dengan rumah yang hangat dan penuh tamu, di Geudumbak ada warga yang masih menatap langit dari balik tenda.


Rahma mengungkapkan perasaan yang sulit dijelaskan. โ€œKadang sedih jugaโ€ฆ Lebaran seperti ini. Kami di tenda, tidak ada rumah. Kami berpikir, adakah yang bersilaturahmi ke tempat kami ini?โ€ ujarnya lirih.


Pertanyaan itu menggantung, sunyi, namun penuh makna. Lebaran yang biasanya identik dengan kebersamaan dan kehangatan keluarga, kini berubah menjadi ruang ujian kesabaran.


Sepi Sorotan, Berat di Kenyataan

Minimnya perhatian terhadap Geudumbak menjadi catatan tersendiri. Akses yang sempat terputus serta kurangnya eksposur membuat kondisi desa ini tidak banyak diketahui publik.


Ketua PW GP Ansor Aceh, Azwar A. Gani, menilai bahwa Geudumbak merupakan salah satu wilayah dengan dampak paling serius yang justru luput dari perhatian.


โ€œKalau melihat kondisi di lapangan, Geudumbak ini sangat parah. Dampaknya besar, tapi tidak banyak tersorot. Ini harus menjadi perhatian bersama,โ€ ujarnya.


Menurutnya, perhatian terhadap korban bencana tidak boleh bergantung pada viral atau tidaknya sebuah peristiwa. โ€œBencana tidak bisa diukur dari seberapa viral, tetapi dari seberapa besar dampak yang dirasakan masyarakat,โ€ tegasnya.

 

Empat bulan pascabanjir, Geudumbak masih dalam proses bangkit. Di antara kayu-kayu yang tersisa, warga perlahan menata kembali kehidupan.


Sebagian membangun rumah dari bahan seadanya. Sebagian lainnya masih bertahan dalam keterbatasan. Namun satu hal yang tetap hidup adalah harapan.


โ€œKami hanya ingin bisa hidup normal lagi,โ€ ujar Abdussamad, warga Geudumbak.


Dengan suara tenang, ia menggambarkan ketegaran yang tumbuh dari keterbatasan. Hunian sementara yang ada dibangun secara mandiri, menggunakan kayu dan bahan seadanya. Warga bahkan menolak pola hunian barak, memilih membangun ruang hidup yang lebih personal meski sederhana.


Di desa ini, harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia mungkin berjalan pelan, tetapi tetap ada. Geudumbak hari ini bukan hanya tentang bencana yang pernah terjadi, tetapi tentang manusia yang memilih untuk tetap berdiri.


Dan di antara tumpukan kayu gelondongan itu, tersimpan satu pesan sederhana: bahwa di balik luka yang tak selalu terlihat, selalu ada harapan yang belum padam.