Empat Bulan Pascabanjir Batee Iliek, Jejak Perang Aceh Kian Terkikis
NU Online · Sabtu, 28 Maret 2026 | 17:00 WIB
Krueng Batee Iliek sebagai destinasi wisata religi dan bersejarah banyak berubah pascabanjir bandang 25 November 2025. Gambar diambil Jumat (27/3/2026) (Foto: NU Online/Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Batee Iliek di Samalanga, Bireuen,Aceh, bukan hanya dikenal sebagai kawasan wisata alam, tetapi juga memiliki nilai sejarah penting dalam Perang Aceh. Kawasan ini tercatat sebagai benteng terakhir pertahanan rakyat Aceh saat menghadapi kolonial Belanda pada akhir abad ke-19. Di balik benteng pertahanan itu, mengalir sebuah sungai bersejarah yang dikenal sebagai Krueng Batee Iliek, yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Aceh.
Wakil Ketua PWNU Aceh Tgk Iskandar Zulkarnaen menjelaskan bahwa dalam catatan sejarah, pada tahun 1877, Belanda mengirim sekitar 1.350 personel pasukan dengan persenjataan modern untuk menaklukkan wilayah ini. Namun, perlawanan sengit dari rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Chik Raja Bugis dan Pocut Meuligo membuat pasukan kolonial mengalami kesulitan besar. Strategi perang yang digunakan sangat efektif, dengan memanfaatkan kondisi geografis seperti Bukit Kuta Glee dan aliran Krueng Batee Iliek.
"Pasukan Aceh menyerang dari ketinggian, menjatuhkan pohon-pohon besar, serta memasang jebakan berupa parit dan bambu runcing. Banyak tentara Belanda tewas, bahkan disebutkan air sungai sempat memerah akibat pertempuran tersebut. Jenderal Belanda Van der Heijden yang memimpin serangan juga mengalami kegagalan dan terluka parah," ujarnya pada Jumat (27/3/2026).
Dosen Unimal Lhokseumawe kelahiran Kota Santri Samalanga itu menambahkan, perlawanan di Batee Iliek menjadi simbol keberanian rakyat Aceh yang tidak mudah ditaklukkan, sekaligus menandai fase akhir dari konflik panjang antara Aceh dan Belanda
Dari Pusat Peradaban ke Kawasan Luka: Batee Iliek dalam Lintasan Sejarah
Krueng Batee Iliek bukan sekadar aliran air. Ia adalah sungai yang membelah “Kota Santri” Samalanga, mengalir panjang di antara perkampungan yang dihiasi oleh “penjara suci”—dayah-dayah yang telah melahirkan banyak ulama, pejuang, dan tokoh bangsa.
Tgk Iskandar yang juga menantu Waled NU Rais Syuriah PWNU Aceh menjelaskan di sepanjang alirannya berdiri lembaga pendidikan Islam yang berpengaruh, seperti Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Manyang Gampong Meulum, hingga Dayah Ummul Ayman Gampong Putoh, serta dayah-dayah lain yang menjadi pusat pembinaan generasi Islam.
"Dari dayah-dayah inilah lahir para ulama yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga membentuk karakter masyarakat. Krueng Batee Iliek menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan, dakwah, dan perjuangan di Samalanga," ulasnya.
Kerajaan Samalanga sendiri dikenal memiliki wilayah luas yang dikelilingi Bukit Barisan dan laut. Sungai-sungai seperti Krueng Samalanga, Krueng Tambue, dan Krueng Batee Iliek menjadi sumber irigasi bagi pertanian yang subur.
Kehidupan masyarakatnya makmur, dengan hasil bumi seperti padi, lada, cengkeh, dan tembakau. Samalanga juga menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai dikunjungi berbagai bangsa.
Lebih lanjut ia mengatakan dengan seiring waktu, Samalanga berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani. Meunasah dan dayah menjadi pusat ilmu, menjadikan kawasan ini dikenal luas sebagai “Kota Santri”.
"Tentunya sejarah panjang itu kini menghadapi ujian besar. Bencana yang datang dari sungai yang sama—Krueng Batee Iliek—telah mengubah wajah kawasan ini secara drastis, " sambungnya.
Amukan Krueng Batee Iliek: Ketika Sejarah Terseret Arus
Tanggal 25 November 2025 menjadi titik paling kelam dalam sejarah modern Samalanga. Krueng Batee Iliek yang selama ini dikenal sebagai sungai kehidupan, tiba-tiba menunjukkan wajah lain—ganas dan menghancurkan.
Arus banjir bandang datang dengan kekuatan luar biasa. Sungai yang membelah kawasan dayah-dayah dan perkampungan itu berubah menjadi jalur kehancuran yang menyeret apa saja yang ada di sekitarnya.
Bangunan penting ikut menjadi korban. Asrama dua lantai Dayah Najmul Hidayah Al-Aziziyah di Cot Meurak runtuh dan terseret ke dalam sungai. Bangunan yang selama ini menjadi tempat belajar santri itu hilang dalam sekejap.
Tidak hanya itu, Masjid Tuha Cot Meurak Blang atau Masjid Jamik Almabrur juga ambruk. Meunasah di dekatnya ikut amblas, menandai hilangnya pusat ibadah dan sosial masyarakat dalam waktu yang sangat singkat.
Hal yang paling menggetarkan adalah hilangnya batu besar di kawasan Batee Iliek. Batu yang selama ini menjadi simbol kekuatan, sejarah, dan daya tarik wisata religi itu lenyap terseret arus.
“Batu besar itu bukan sekadar benda. Ia adalah bagian dari identitas sejarah Batee Iliek,” ujar Tgk. Iswadi, ulama muda dan penggiat sejarah UNISAI Samalanga.
Menurutnya, kawasan ini bukan hanya lokasi geografis, tetapi ruang spiritual yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat. Banyak orang datang untuk berziarah, berdoa, dan bertafakkur di tempat tersebut.
Empat bulan pascabencana, kondisi kawasan masih menyisakan luka. Bekas reruntuhan masih terlihat, sementara aliran sungai tampak berubah—lebih lebar, lebih dalam, dan lebih liar dari sebelumnya.
Bencana ini tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mengikis simbol-simbol sejarah yang telah bertahan ratusan tahun.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
2
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
3
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
4
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
5
Halal Bihalal sebagai Ijtihad Sosial Ulama Nusantara
6
Iran Pasca-Larijani: Menuju Perang tanpa Akhir?
Terkini
Lihat Semua