Daerah

Jak Bak Guree, Tradisi Lebaran yang Menjaga Adab dan Ikatan Santri di Aceh

NU Online  ยท  Sabtu, 28 Maret 2026 | 10:00 WIB

Jak Bak Guree, Tradisi Lebaran yang Menjaga Adab dan Ikatan Santri di Aceh

Rais Syuriah PWNU Aceh Waled Nuruzzahri menerima tamu santri, alumni dan masyarakat di kediamannya di Dayah Ummul Ayman Samalanga pada Idul Fitri 1447 H. (Foto: istimewa)

Banda Aceh, NU Online
Suasana pagi Idul Fitri di Aceh tidak hanya diwarnai gema takbir dan silaturahim keluarga. Ada satu tradisi yang masih bertahan kuat di tengah masyarakat, khususnya di perdesaan, yakni jak bak guree. Tradisi ini menjadi bagian penting dari wajah Lebaran di Aceh yang sarat nilai adab.


Tradisi jak bak guree biasanya dilakukan setelah pelaksanaan shalat Idul Fitri. Tanpa menunda waktu, para santri, baik anak-anak hingga orang dewasa, berbondong-bondong menuju rumah guru mengaji mereka. Aktivitas ini seolah menjadi agenda pertama setelah menunaikan ibadah.


Guree atau guru yang dimaksud bukan sekadar pengajar biasa. Ia adalah sosok yang membimbing dasar-dasar agama sejak kecil, mulai dari membaca Al-Qurโ€™an hingga mengenal akhlak. Karena itu, kunjungan ini bukan sekadar formalitas, melainkan penghormatan yang mendalam.


Bagi para perantau, tradisi ini memiliki makna yang lebih emosional. Setelah sekian lama meninggalkan kampung halaman, Lebaran menjadi kesempatan untuk kembali bersua dengan guru dan sahabat masa kecil. Momen ini menjadi ruang melepas rindu yang tak tergantikan.


"Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi bagian dari adab dalam menuntut ilmu. Menghormati guru adalah kunci keberkahan ilmu,โ€ ujar Tgk. Syahrul Fuadi, tokoh agama muda asal Japakeh, Kamis (26/3/2026)ย 

 

Sekretaris Bawas Baitul Mal Kebupaten Pijay itu menegaskan bahwa dalam khazanah keilmuan Islam, hubungan antara murid dan guru memiliki dimensi spiritual. Tidak hanya transfer ilmu, tetapi juga keberkahan yang mengalir melalui adab. Karena itu, tradisi seperti ini harus terus dijaga.


Dia menjelaskan, dalam pandangan Imam Al-Ghazali dalam Ihyaโ€™ Ulumuddin, keberkahan ilmu sangat bergantung pada sikap murid terhadap gurunya. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi pengetahuan tanpa cahaya. Hal ini menjadi dasar kuat dalam tradisi jak bak guree.

 

"Ilmu tidak akan bermanfaat kecuali dengan adab, dan adab kepada guru adalah pintu keberkahan ilmu," sambungnya


Hal ini juga diperkuat dengan sabda Rasulullah Saw:ย "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu.โ€ (HR. Ahmad)


Hadits tersebut menegaskan bahwa menghormati guru bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari ajaran agama. Dalam konteks ini, jak bak guree menjadi manifestasi nyata dari nilai tersebut di tengah masyarakat Aceh.


Kehadiran para santri ke rumah guru tidak pernah dengan tangan kosong. Sejak pagi, anak-anak telah dipersiapkan oleh orang tuanya untuk membawa sesuatu. Hal ini menjadi bagian dari pembelajaran tentang memberi dan menghormati. Bawaan itu biasanya berupa kue-kue tradisional yang dibungkus dengan kain atau selendang.

 

Anak laki-laki, sering kali membawa gula atau sirup. Semua itu bukan tentang nilai, tetapi tentang simbol penghormatan. Sementara bagi orang dewasa, selain membawa makanan, mereka juga memberikan salam tempel. Pemberian ini dilakukan dengan penuh keikhlasan sebagai tanda terima kasih kepada guru yang telah mendidik mereka sejak kecil.

 

โ€œIni bukan soal memberi, tapi tentang adab. Bagaimana seorang murid menunjukkan rasa hormat kepada gurunya,โ€ tambah Tgk. Syahrul.


Para ulama besar juga menegaskan pentingnya memuliakan guru. Imam Syafiโ€™i pernah berkata: โ€œAku merendahkan diriku di hadapan guruku seperti seorang murid di hadapan gurunya.โ€

 

Ungkapan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula penghormatannya kepada guru. Tradisi ini menjadi cerminan dari nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat Aceh.

 

Rumah guru mengaji pada pagi Lebaran berubah menjadi ruang reuni yang hangat. Para santri dari berbagai generasi berkumpul, saling bertegur sapa, dan mengenang masa kecil. Suasana ini penuh dengan kehangatan dan kebersamaan. Santri perempuan biasanya membantu di dapur, memasak atau mencuci piring. Sementara yang lain membantu melayani tamu. Semua dilakukan dengan penuh keikhlasan tanpa ada paksaan.

 

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, hubungan murid dan guru tidak hanya bersifat lahiriah. Ia juga memiliki dimensi batiniah yang menghubungkan hati. Hal ini menjadi landasan kuat dalam tradisi ini. โ€œSeorang murid tidak akan sampai kepada tujuan ilmu kecuali dengan menghormati gurunya dan bersabar dalam melayaninya.โ€


Nilai ini menjadikan jak bak guree bukan sekadar tradisi, tetapi juga bagian dari pendidikan karakter. Ia membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beradab.


Wakil Ketua PWNU Aceh, Tgk. Iskandar Zulkarnaen, menyebutkan bahwa tradisi ini juga memiliki fungsi sosial yang kuat. Ia menjadi ruang pertemuan lintas generasi dalam satu waktu yang sama.


"Bagi perantau, ini adalah ajang temu kangen. Karena waktunya serentak setelah salat Id, semua berkumpul di satu tempat,โ€ ujarnya.

 

Menurutnya, tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama. Ini adalah bentuk ukhuwah yang hidup dalam budaya masyarakat Aceh.

 

Kepala BPKS itu juga mengaitkan hal ini dengan pandangan Imam Al-Ghazali tentang peran guru dalam kehidupan manusia: โ€œGuru adalah sebab kehidupan hati, sebagaimana orang tua adalah sebab kehidupan jasad, " lanjutnya

 

Makna ini menunjukkan bahwa guru memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk kepribadian seseorang. Karena itu, menghormatinya menjadi bagian dari kewajiban moral.


Meski masih kuat di kampung-kampung, tradisi ini mulai berkurang di wilayah perkotaan. Perubahan sistem pendidikan dan gaya hidup menjadi faktor yang memengaruhi. Namun nilai yang terkandung di dalamnya tetap relevan.


Menghormati guru, menjaga silaturahim dan memperkuat hubungan sosial adalah nilai universal yang tidak lekang oleh waktu. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal ilmu, tetapi juga adab.

 

Dosen Unimal Lhokseumawe itu menambahkan di tengah arus modernisasi, jak bak guree menjadi simbol keteguhan masyarakat Aceh dalam menjaga warisan budaya. Ia tidak hanya hidup dalam cerita, tetapi terus dipraktikkan dalam kehidupan nyata.


"Lebaran bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang kembali kepada nilai-nilai dasar kehidupan. Menghormati, menghargai, dan menjaga hubungan adalah inti dari makna tersebut," paparnya.ย 


Pada pagi Idul Fitri itu, di rumah-rumah sederhana para guru mengaji, tradisi ini terus hidup. Sebagai warisan yang tidak hanya dikenang, tetapi dijalankan dari generasi ke generasi.