Libur Sekolah, Pelaku UMKM Nilai Wisata Belum Beri Dampak Ekonomi yang Merata
NU Online ยท Rabu, 1 Juli 2026 | 22:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Masa libur sekolah belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi yang merata bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Rembang. Sejumlah pelaku usaha mengaku belum merasakan peningkatan penjualan karena produk mereka belum dipasarkan di kawasan wisata.
Salah satunya disampaikan Ummi, pelaku UMKM Keriyes asal Rembang. Ia mengatakan produknya hingga kini belum dapat dipasarkan di lokasi wisata karena pengelola lebih mengutamakan UMKM yang berasal dari wilayah setempat.
"Belum, karena kami tidak dilibatkan dalam penjualan oleh-oleh di tempat wisata," ujar Ummi kepada NU Online, Rabu (1/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut turut berdampak pada penurunan omzet usahanya sepanjang tahun ini. Meski demikian, ia masih memiliki pelanggan tetap yang melakukan pembelian setiap hari.
"Yang paling ramai kalau ada event-event yang melibatkan UMKM," tambahnya.
Selama ini, Ummi memasarkan produknya dengan menitipkan barang di pusat oleh-oleh di Rembang. Penjualan biasanya meningkat pada musim liburan, seperti libur Lebaran dan libur sekolah.
Selain keripik, ia menyebut sirup kawis sebagai salah satu produk khas Rembang yang banyak dicari wisatawan.
Ummi menilai belum optimalnya koordinasi antara pengelola tempat wisata dan pelaku UMKM menjadi salah satu penyebab produknya belum dapat dipasarkan di kawasan wisata.
"Karena belum terkoordinasinya tempat wisata dengan para UMKM. Kebanyakan tempat wisata lebih mengutamakan UMKM lokal, sehingga produk kami tidak berada di kawasan wisata dan tidak bisa dijual di sana," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan lokasi usahanya saat ini belum cukup strategis. Meski demikian, ia menegaskan tidak menghadapi persaingan dengan pedagang dari luar daerah. Ia juga mengaku pernah memperoleh pendampingan dan pelatihan dari Pemerintah Kabupaten Rembang.
Ke depan, Ummi berharap terjalin kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, pengelola destinasi wisata, dan pelaku UMKM sehingga setiap penyelenggaraan kegiatan dapat melibatkan lebih banyak pelaku usaha lokal.
"Harapannya ada kolaborasi yang nyata antara UMKM, pemerintah, dan tempat wisata sehingga setiap event dapat melibatkan UMKM," ujarnya.
Sementara itu, Pengelola Pantai Indah Layur Lasem, Eka, mengatakan kawasan wisata yang dikelolanya mampu menarik rata-rata sekitar 500 pengunjung setiap akhir pekan.
Menurutnya, keberadaan objek wisata tersebut telah memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar karena melibatkan UMKM yang berada di kawasan wisata.
"Dengan adanya wisata, khususnya Pantai Indah Layur, sangat membantu warga setempat dengan melibatkan UMKM yang berada di lokasi wisata," ungkap Eka kepada NU Online, Rabu (1/7/2026).
Ia menjelaskan, penataan area usaha di kawasan wisata dibagi ke dalam beberapa zona, mulai dari area kuliner hingga pedagang kaki lima. Seluruh pelaku UMKM lokal diberi kesempatan berjualan dengan mengutamakan warga Desa Layur.
"Kami mengedepankan warga lokal, khususnya warga Layur. Yang awalnya ibu rumah tangga, kini banyak yang ikut berjualan di kawasan wisata," katanya.
Eka menilai peluang usaha di kawasan wisata sebenarnya cukup terbuka. Menurutnya, keberhasilan penjualan juga ditentukan oleh kemampuan masing-masing pelaku usaha dalam memasarkan produknya, termasuk melalui media sosial.
"Salah satunya dengan cara mempromosikan secara langsung atau lewat media sosial," ujarnya.
Meski saat ini belum ada agenda khusus, pihak pengelola berencana menggelar bazar atau festival UMKM lokal sebagai upaya meningkatkan aktivitas ekonomi di kawasan wisata.
"Untuk sementara ini belum ada event, tetapi ke depannya kami akan mengadakan bazar atau festival UMKM lokal," pungkasnya.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, pengelola destinasi wisata, dan pelaku UMKM dinilai perlu terus diperkuat agar manfaat ekonomi dari sektor pariwisata dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat sekaligus mendorong pengembangan destinasi wisata berbasis pemberdayaan ekonomi lokal.
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
Nikah Batin: Pernikahan yang Tidak Pernah Dikenal Syariat Islam
5
5 Calon Manajer KDMP Meninggal, Bukti Pelatihan Militer bagi Sipil Tidak Relevan
6
Koalisi Sipil Desak Pemerintah Hentikan Latsarmil Calon Manajer KDMP
Terkini
Lihat Semua