Nyak Sandang, Penyumbang Pesawat Pertama RI Asal Aceh Wafat, PWNU Aceh Tegaskan Warisan Keikhlasan
NU Online · Rabu, 8 April 2026 | 20:30 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Kabar wafatnya Teungku Nyak Sandang, sosok dermawan asal Aceh yang tercatat sebagai penyumbang pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, menjadi duka mendalam bagi masyarakat Aceh dan bangsa Indonesia. Ia mengembuskan napas terakhir pada Selasa (7/4/2026) di usia sekitar 100 tahun di kediamannya di Gampong Lhuet, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya.
Kepergian Nyak Sandang tidak hanya dipandang sebagai kehilangan seorang tokoh masyarakat, tetapi juga hilangnya teladan nyata tentang keikhlasan dalam berkontribusi bagi negara. Sosok yang semasa mudanya rela menjual tanah dan emas untuk membantu pembelian pesawat Seulawah RI-001 itu kini dikenang sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan Indonesia.
Rais Syuriyah PWNU Aceh, Tgk H. Nuruzzahri atau yang akrab disapa Waled NU, menegaskan bahwa sosok Nyak Sandang merupakan representasi nilai-nilai Islam yang hidup dalam masyarakat Aceh, khususnya dalam hal pengorbanan dan cinta tanah air.
“Nyak Sandang merupakan sosok teladan keikhlasan. Ia tidak hanya mencintai negeri ini dengan kata-kata, tetapi dengan pengorbanan nyata. Ini adalah pelajaran besar bagi generasi hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, kontribusi Nyak Sandang dalam sejarah Seulawah bukan sekadar bagian dari nasionalisme, tetapi juga bentuk pengamalan ajaran Islam yang menekankan kepedulian terhadap kemaslahatan umum.
Teladan Itsar dan Hubbul Wathan
Dalam pandangan ulama, tindakan Nyak Sandang mencerminkan nilai itsar, yaitu mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Nilai ini merupakan bagian dari akhlak luhur yang diajarkan dalam Islam dan dipraktikkan oleh generasi sahabat.
Waled NU menjelaskan bahwa pengorbanan yang dilakukan Nyak Sandang lahir dari kesadaran spiritual yang kuat. Pada masa itu, masyarakat Aceh memahami bahwa membantu negara dalam kondisi sulit merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.
“Apa yang dilakukan beliau adalah bentuk nyata dari hubbul wathan minal iman. Cinta tanah air itu diwujudkan dengan tindakan, bukan hanya slogan,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam sejarah Aceh, ulama memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut kepada masyarakat. Karena itu, tidak mengherankan jika rakyat rela berkorban, bahkan dalam kondisi serba terbatas.
Seulawah dan Peran Rakyat Aceh
Sejarah mencatat bahwa pesawat Seulawah RI-001 lahir dari sumbangan masyarakat Aceh yang berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah besar pada masa awal kemerdekaan. Pesawat tersebut kemudian menjadi cikal bakal lahirnya maskapai nasional Garuda Indonesia.
Nyak Sandang, yang saat itu masih berusia sekitar 23 tahun, menjadi bagian dari gerakan besar tersebut. Ia menjual harta miliknya dan menyerahkannya kepada negara sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan bangsa.
Bagi Waled NU, kisah ini menjadi bukti bahwa kekuatan bangsa tidak hanya berasal dari elite, tetapi juga dari rakyat yang memiliki keikhlasan dan semangat gotong royong.
“Sejarah Seulawah adalah sejarah kebersamaan. Ini menunjukkan bahwa ketika umat bersatu dengan niat yang tulus, mereka mampu menciptakan perubahan besar,” ujarnya.
Warisan Nilai untuk Generasi Mendatang
Kepergian Nyak Sandang, lanjut Waled NU, harus menjadi momentum refleksi bagi generasi muda untuk kembali menumbuhkan semangat pengabdian kepada bangsa.
Ia menilai bahwa tantangan zaman saat ini membutuhkan bentuk pengorbanan yang berbeda, namun tetap berakar pada nilai yang sama, yaitu keikhlasan dan tanggung jawab sosial.
“Kalau dulu mereka berkorban dengan harta, hari ini kita bisa berkontribusi dengan ilmu, tenaga, dan integritas. Jangan sampai kita hanya menikmati hasil tanpa melanjutkan perjuangan,” tegasnya.
Menurutnya, sosok Nyak Sandang adalah bukti bahwa kontribusi besar tidak harus datang dari orang besar. Dengan niat yang tulus, siapa pun dapat memberikan dampak bagi bangsa.
Kini, Nyak Sandang telah berpulang. Namun, warisan nilai yang ditinggalkannya akan terus hidup, sebagaimana ditegaskan para ulama, sebagai inspirasi lintas generasi dalam menjaga keutuhan dan kemajuan Indonesia.
Terpopuler
1
Tolak MBG, Siswa SMK NU di Kudus Surati Presiden Prabowo Minta Anggaran Dialihkan untuk Kesejahteraan Guru
2
Pleno PP Fatayat NU Tetapkan Dewi Winarti sebagai Plt Ketua Umum
3
Orang NU Gila Itu Dokter Fahmi D. Saifuddin
4
Muktamar NU 2026: Antara Idealisme dan Pragmatisme Politik
5
Iran Izinkan 15 Kapal Lintasi Selat Hormuz, Bagaimana dengan Kapal Pertamina?
6
Kepala Intelijen Pasukan Garda Revolusi Iran Majid Khademi Gugur
Terkini
Lihat Semua