Daerah

Santri Abdussalam di Tengah Kepungan Karhutla Kalimantan Barat

NU Online  ·  Ahad, 23 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Santri Abdussalam di Tengah Kepungan Karhutla Kalimantan Barat

Santri Abdussalam Kalimantan Barat. (Foto: istimewa)

Kubu Raya, NU Online

 

Aktivitas belajar dan mengaji para santri Pondok Pesantren Abdussalam, Desa Pasak, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini berlangsung di tengah kepungan asap karhutla. Udara yang biasanya menjadi bagian dari keseharian mereka mulai terasa berat dihirup, bahkan sejumlah anak dilaporkan mengalami batuk, pilek, hingga sesak napas.

 

Ketua STEI Abdussalam sekaligus salah satu putri pendiri Pondok Pesantren Abdussalam, Hafidloh mengatakan kondisi di sekitar pesantren cukup mengkhawatirkan. Ia yang tinggal di lingkungan pesantren menyaksikan langsung area yang terdampak kebakaran di sekitar kawasan tersebut.

 

“Ini baru separuh yang tersorot. Setengah perjalanan kami terkesima dengan keadaan. Sudah melalui satu kilometer lokasi kebakaran baru di-shot,” kata Hafidloh saat menceritakan kondisi di sekitar pesantren, Kamis (20/8/2026).

 

Hafidloh mengatakan asap karhutla mulai dirasakan oleh penghuni pesantren, terutama anak-anak. Sejumlah anak mengalami batuk, pilek, hingga sesak napas. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas belajar dan kehidupan sehari-hari para santri berlangsung di tengah kualitas udara yang memburuk.

 

Meski menghadapi kondisi tersebut, Hafidloh menyebut keluarga besar pesantren masih bertahan di lingkungan Abdussalam. Ketersediaan air menjadi salah satu hal yang disyukuri karena pesantren masih memiliki sumber air dari sumur bor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Kami sedang menderita bapil dan sesak, khususnya anak-anak. Masih di pesantren, alhamdulillah kami masih diberi berkah air dari sumur bor,” ujarnya.

 

Kondisi di sekitar pesantren tersebut terjadi ketika karhutla meluas di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Data pemantauan yang dirilis berdasarkan pantauan satelit BMKG pada 20 Agustus 2026 mencatat 3.759 titik panas di Kalbar. Kabupaten Kubu Raya termasuk wilayah dengan jumlah titik panas cukup tinggi, yakni 254 titik. 

 

Dampak karhutla juga dirasakan masyarakat Pontianak yang berdekatan dengan Kubu Raya. Kabut asap kiriman membuat kualitas udara memburuk dan mengganggu aktivitas warga. Pada 21 Agustus 2026, sejumlah orang tua di Pontianak bahkan meminta kegiatan pembelajaran kembali dialihkan dari sekolah karena asap semakin pekat. 

 

Bagi Hafidloh, kondisi tersebut terasa dekat karena pesantren bukan sekadar tempat pendidikan, tetapi juga rumah bagi keluarga dan para santri. Anak-anak yang sehari-hari belajar, mengaji, dan beraktivitas di lingkungan pesantren kini harus beradaptasi dengan kondisi udara yang tidak bersahabat.

 

Pesantren Abdussalam sendiri memiliki sejarah panjang dalam pendidikan Islam di Kalimantan Barat. Lembaga tersebut didirikan pada 10 Februari 1984 oleh KH Hafiluddin Muhammad Yusuf. Nama Abdussalam diambil dari nama kakek beliau, KH Abdussalam, seorang ulama yang menjadi bagian penting dalam sejarah keluarga pendiri pesantren.

 

Pendirian pesantren juga merupakan bentuk pengamalan amanah guru KH Hafiluddin, KH Abdul Mannan Muntaha. Setelah lebih dari 10 tahun menuntut ilmu di Pondok Pesantren Nurul Huda, Madura, KH Hafiluddin kembali ke tengah masyarakat untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Kegiatan pendidikan pada awalnya berlangsung sederhana di kediaman beliau sebelum berkembang menjadi pesantren yang menampung santri dari berbagai daerah.

 

Bagi para santri, asap yang menyelimuti langit bukan sekadar pemandangan yang mengganggu. Batuk, pilek, dan sesak yang mulai dirasakan anak-anak menjadi pengingat bahwa bencana ekologis memiliki dampak paling nyata pada kehidupan sehari-hari.

 

Di tengah situasi itu, keluarga besar Pesantren Abdussalam memilih tetap bertahan sembari berharap kondisi segera membaik dan para santri dapat kembali belajar serta beraktivitas dengan udara yang lebih aman.