Suluk di Dayah MUDI Samalanga Aceh: Tradisi Tasawuf yang Terjaga pada Ramadhan
NU Online · Rabu, 11 Maret 2026 | 10:30 WIB
Santri sedang melakukan tawajuh di mushala komplek putri Mudi Samalanga, Bireuen, Aceh. (Foto: dok. Helmi Abu Bakar)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, tradisi spiritual di lingkungan dayah tetap bertahan sebagai benteng penguatan iman dan penyucian jiwa. Salah satu tradisi yang terus hidup dan berkembang adalah suluk, sebuah latihan spiritual dalam dunia tasawuf yang telah lama menjadi bagian dari pendidikan rohani di Aceh.
Di lingkungan Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, praktik suluk tidak hanya dipertahankan sebagai warisan ulama terdahulu, tetapi juga terus berkembang dalam pendekatan yang lebih adaptif sehingga sering disebut sebagai suluk modern.
Suluk dalam tradisi tasawuf merupakan bentuk khalwat, yakni mengasingkan diri sementara untuk memperbanyak zikir, ibadah, dan munajat kepada Allah. Tujuan utamanya adalah mencapai tazkiyatun nafs, yaitu penyucian jiwa dari penyakit hati: riya, sombong, hasad, dan cinta dunia yang berlebihan. Tradisi ini juga berkaitan erat dengan amalan dalam Tarekat Naqsyabandiyah yang berkembang luas di Aceh.
Di kawasan Kota Santri Samalanga, suluk bukan sekadar ritual ibadah, tetapi juga menjadi metode pendidikan spiritual bagi para santri dan masyarakat. Para peserta suluk menjalani berbagai amalan yang telah ditentukan oleh guru spiritual, seperti memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, shalat sunnah, serta memperdalam kajian tasawuf.
Tradisi suluk di Dayah MUDI Samalanga tidak dapat dilepaskan dari peran ulama yang membimbing perjalanan spiritual para jamaah. Salah satu tokoh penting dalam pembinaan tersebut adalah Tgk Muhammad Ali, pembina Lembaga Pengembangan Dzikir dan Tarekat (LPDT) yang juga dikenal sebagai guru senior di Dayah MUDI Samalanga.
Menurut Tgk Muhammad Ali, suluk bukan sekadar memperbanyak zikir, tetapi juga proses pendidikan hati agar manusia semakin dekat kepada Allah.
“Suluk adalah latihan membersihkan hati. Orang yang bersuluk bukan hanya memperbanyak zikir, tetapi juga belajar menundukkan nafsu dan memperbaiki akhlak. Jika zikir hanya di lisan tanpa perubahan akhlak, maka tujuan suluk belum tercapai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi suluk tetap relevan di tengah kehidupan modern. Justru di era yang penuh kesibukan ini manusia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan memperkuat hubungan dengan Allah.
Perkembangan tradisi suluk di Samalanga juga mendapat perhatian dari para penggiat budaya dan tarekat. Salah satunya adalah Tgk Iswadi yang akrab disapa Abah Iswadi, seorang penggiat budaya dan tarekat dari Universitas Islam Al-Aziziyah Indonesia (UNISAI) Samalanga.
Abah Iswadi melihat suluk sebagai bagian dari warisan spiritual masyarakat Aceh yang memiliki nilai pendidikan yang sangat tinggi.
“Suluk bukan hanya ibadah pribadi, tetapi juga tradisi pendidikan ruhani yang telah diwariskan para ulama Aceh. Di dalamnya ada latihan kesabaran, kedisiplinan, dan keikhlasan yang membentuk karakter seorang Muslim,” kata Abah Iswadi.
Menurut akademisi sekaligus pimpinan Dayah MADAH Bireuen mengatakan praktik suluk yang berkembang di dayah-dayah Aceh sebenarnya telah lama menjadi bagian dari budaya religius masyarakat. Oleh karena itu, menjaga tradisi tersebut sama artinya dengan menjaga warisan spiritual ulama terdahulu.
Tradisi suluk yang berkembang di Dayah MUDI Samalanga juga tidak terlepas dari peran ulama besar Aceh, yaitu Syekh H Hasanoel Basri HG atau Abu MUDI. Selain sebagai pimpinan Dayah MUDI, ia merupakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan dikenal sebagai salah satu mursyid tarekat di Aceh.
Dalam berbagai kesempatan, Abu MUDI sering menekankan bahwa ilmu agama harus diiringi dengan penyucian hati agar membawa keberkahan.
“Ilmu tanpa tasawuf akan melahirkan kekerasan hati, sedangkan tasawuf tanpa ilmu bisa membawa kesesatan. Karena itu ulama dahulu selalu menggabungkan ilmu syariat dengan latihan rohani seperti zikir dan suluk,” ujar Abu MUDI dalam salah satu pengajian.
Baca Juga
Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol
Menurut beliau, suluk bukanlah praktik yang menjauhkan diri dari masyarakat, tetapi justru menjadi sarana memperbaiki diri agar mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Di bawah kepemimpinan Abu MUDI, Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Aceh. Ribuan santri dari berbagai daerah datang untuk mempelajari kitab-kitab turats sekaligus memperkuat pembinaan spiritual melalui majelis zikir dan suluk.
Istilah suluk modern yang berkembang di lingkungan dayah lebih merujuk pada penyesuaian metode pelaksanaan dengan kondisi kehidupan masa kini. Jika dahulu suluk dilakukan dalam waktu yang sangat lama, kini pelaksanaannya lebih fleksibel tanpa mengurangi kedalaman spiritualnya.
Momentum pelaksanaan suluk biasanya sangat terasa pada bulan suci Ramadan. Pada bulan yang penuh berkah ini, para jamaah memanfaatkan waktu untuk memperbanyak zikir, ibadah, serta mendekatkan diri kepada Allah.
Di tengah dunia modern yang penuh hiruk-pikuk, suluk menjadi ruang hening bagi manusia untuk merenung dan memperbaiki diri. Tradisi ini mengajarkan bahwa ketenangan batin tidak selalu ditemukan dalam kemewahan dunia, tetapi dalam kedekatan dengan Allah.
Keberadaan suluk di Dayah MUDI Samalanga bukan sekadar tradisi keagamaan, tetapi juga warisan spiritual yang terus hidup dari generasi ke generasi. Hal ini membuktikan bahwa Kota Santri Samalanga bukan hanya kiblat ilmu juga kiblat tarekat dan tasawuf.
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
4
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
5
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
6
Standar Ganda Sekutu dalam Perang Israel-AS vs Iran
Terkini
Lihat Semua