Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Akad Lelang Barang dan Lelang Proyek dalam Islam

Akad Lelang Barang dan Lelang Proyek dalam Islam
Menurut fuqaha’ Malikiyyah, bai’ musawamah (jual beli sistem lelang) didaku sebagai jual beli yang ahsan (paling baik) dibanding sistem jual beli lainnya.
Menurut fuqaha’ Malikiyyah, bai’ musawamah (jual beli sistem lelang) didaku sebagai jual beli yang ahsan (paling baik) dibanding sistem jual beli lainnya.

Kita sering mendapati adanya praktik jual beli sistem lelang. Obyek lelang kadang terdiri atas suatu barang, jasa atau bahkan proyek. Jika obyeknya adalah barang, maka jual beli semacam ini dikenal dengan istilah bai’ musawamah.


Adapun jika obyeknya adalah jasa, maka hakikatnya adalah ijarah (sewa jasa).


بيع المساومة هو البيع الذي لا يظهر فيه رأس ماله أي البيع بدون ذكر ثمنه الأول


Artinya: “Bai’ musawamah, adalah jual beli yang dilakukan dengan jalan tidak memperlihatkan harga pokoknya barang, atau yang biasa dikenal sebagai jual beli tanpa menyebutkan harga awal.” (Majmu’atu al-Muallifin, Mausu’atu Fiqh al-Muamalat, Kuwait: Wazzaratu al-Auqaf, tt., juz I, halaman 13)


Contoh dari jual beli sistem ini, misalnya yang berlaku di pegadaian. Barang gadai yang sudah jatuh tempo kadang dijual dengan jalan dilelang oleh pihak pegadaian ke sejumlah peserta lelang. 


Ditilik dari harga yang terbentuk, ada 2 tipe lelang ini: yaitu adakalanya harga semakin naik dan adakalanya harga semakin turun. 


Untuk tipe lelang dengan harga yang cenderung semakin naik, maka jual beli sistem ini disebut sebagai bai’ muzayadah


بيع المزايدة هو أن يعرض البائع سلعته في السوق ويتزايد المشترون فيها، فتباع لمن يدفع الثمن الأكثر


Artinya, "Bai’ muzayadah, adalah jual beli dengan jalan pihak penjual menawarkan barang (secara umum) di pasar (tempat lelang), kemudian pihak pembeli berlomba-lomba menawar harganya. Barang dinyatakan terjual untuk pembeli yang mampu menawar dengan harga tertinggi.” (Majmu’atu al-Muallifin, Mausu’atu Fiqh al-Muamalat, Kuwait: Wazzaratu al-Auqaf, tt., Juz 1, halaman 13)


Misalnya, ada 3 penawar. Penawar pertama menawar harga 100 ribu. Penawar kedua menawar 110 ribu. Penawar ketiga, menawar 120 ribu. Maka barang dinyatakan terjual untuk pihak yang berani dengan harga 120 ribu. 


Lawan dari bai’ muzayadah adalah bai’ munaqashah. Sesuai dengan akar katanya, yaitu na-qa-sha yang berarti kurang, maka ciri khas dari bai’ munaqashah adalah kecenderungan harga yang semakin turun. Pihak yang berani menawar dengan harga terkecil, maka dia pemenang lelangnya sehingga ia berhak atas kontrak proyek.


ويقابل المزايدة الشراء بالمناقصة، وهي أن يعرض المشتري شراء سلعة موصوفة بأوصاف معينة، فيتنافس الباعة في عرض البيع بثمن أقل، ويرسو البيع على من رضي بأقل سعر


Artinya, "Lawan dari bai’ muzayadah adalah pembelian dengan jalan munaqashah yaitu sistem pembelian yang dilakukan dengan jalan pembeli menawar harga barang yang masih diketahui karakteristiknya dengan ciri-ciri tertentu, berlomba-lomba menawar harga barang dengan harga yang paling rendah dan jual beli selesai untuk penawar yang ridla dengan harga terendah tersebut.” (Majmu’atu al-Muallifin, Mausu’atu Fiqh al-Muamalat, Kuwait: Wazzaratu al-Auqaf, tt., Juz 1, halaman 13). 


Contoh dari akad ini, misalnya: pemerintah ingin membangun sebuah pelabuhan dengan spesifikasi tertentu. Untuk itu diselenggarakan proyek padat karya yang ditawarkan kepada 3 kontraktor (vendor). Ketiga kontraktor ini saling berlomba-lomba (ju’alah) mengajukan harga termurah dari proyek tersebut. Bagi pemenang lelang proyek, maka dia yang berlaku sebagai pemegang tender. Alhasil, harganya disepakati sesuai dengan harga tender. 


Hukum Jual Beli Lelang

Menurut fuqaha’ Malikiyyah, bai’ musawamah (jual beli sistem lelang) didaku sebagai jual beli yang ahsan (paling baik) dibanding sistem jual beli lainnya.


البُيُوعُ بِاعْتِبارِ صُوَرِها أرْبَعَةٌ، بَيْعُ مُساوِمَةٍ وهُوَ أحْسَنُها


Artinya: “Jual beli itu ada 4 model sistem. Lelang adalah paling bagus-bagusnya sistem.” (Muhammad ibn Ahmad ‘Ilyas, Minah al-Jalil Syarah Mukhtashar Khalil, Beirut: Dar al-Fikr, 1989, Juz 5, halaman 263)


Fuqaha dari kalangan Syafiiyah menyatakan hukum kebolehannya menurut kesepakatan ulama’.


فَأمّا بَيْعُ المُساوَمَةِ فَمُتَّفَقٌ عَلى جَوازِهِ


Artinya: “Adapun bai’ musawamah maka hukumnya disepakati akan kebolehannya.” (Al-Mawardi, Al-Hawi al-Kabir, Beirut: DKI, 1999, Juz 5, halaman 279).


Imam Syamsudin al-Ramly (w 1004 H) menyampaikan pujiannya terhadap sistem lelang ini, bahwa:


بَيْعُ المُساوَمَةِ أوْلى مِنهُ لِلْإجْماعِ عَلى جَوازِهِ وعَدَمِ كَراهَتِهِ


Artinya, "Jual beli sistem lelang adalah lebih utama dibanding murabahah dan secara ijma’ dihukumi kebolehannya tanpa kemakruhan.” (Syamsudin al-Ramly, Nihayatu al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Beirut: Dar al-Fikr, 1984, Juz 4, halaman 111)


Sementara itu menurut Imam Ahmad ibn Hanbal menyampaikan, bahwasanya:

قال أحمد المساومة عندي أسهل من بيع المرابحة لأن بيع المرابحة يعتريه أمانة واسترسال من المشتري ويحتاج فيه إلى تعيين الحال على وجهه ولا يؤمن هوى النفس في نوع تأويل وخطر فيكون على خطر وغرر فتجنب ذلك أسلم وأولى


Artinya: “Imam Ahmad menyatakan: menurutku, lelang adalah lebih gampang dibanding murabahah karena dalam jual beli murabahah meniscayakan adanya amanah dan menyerahkan sepenuhnya kepada pembeli. Oleh karena itu dibutuhkan mensiasati kondisi yang terjadi, sehingga tidak aman dari dorongan hawa nafsu dalam pengartiannya dan timbulnya kekhawatiran. Itu sebabnya bai murabahah kadang mengundang timbulnya khathar dan gharar. Semua itu dijauhi dalam bai’ musawamah sehingga lebih menyelamatkan dan lebih utama.” (Abdurrahman al-Maqdisi, Al-Syarh al-Kabir ‘ala al-Mumti’, Tanpa Kota: Dar al-Kitab al-Araby li al-Nasyr wa al-Tauzi’, tt., Juz 4, halaman 108).


Alhasil, berdasarkan ketiga pandangan dari fuqaha’ di atas yang mewakili 3 mazhab besar, disepakati kebolehan jual beli sistem lelang dan bahkan merupakan sistem jual beli yang paling utama.


Kiranya pendapat dari kalangan Hanafiyah juga menyatakan hal yang sama. Namun, dalam tulisan ini, penulis belum sempat mengutip pendapat dari kalangan fuqaha’ tersebut. Wallahu a’lam bis shawab


Ustadz Muhammad Syamsudin, peneliti Bidang Ekonomi Syariah-Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Ekonomi Syariah Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×