Tokoh NU Berjasa dalam Film Indonesia (2-Habis): Misbach Yusa Biran, Abnar Romli, Alex Komang
NU Online · Senin, 30 Maret 2026 | 16:28 WIB
Tiga 3 tokoh lembaga kebudayaan NU, Lesbumi, yang aktif dan berkontribusi dalam film nasional dari kiri ke kanan Misbach Yusa Biran, Abnar Romli, dan Alex Komang
Ajie Najmuddin
Kolomnis
4. Misbach Yusa Biran (1933-2012)
Misbach merupakan salah satu tokoh di dunia perfilman dan sastra Indonesia yang hidup di zaman kolonial hingga digital ini, dalam buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), diterangkan mulai bersinggungan dalam dunia film, sebagai pencatat skrip untuk film Puteri dari Medan (1954). Setahun kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi pembantu sutradara dalam Tamu Agung (1955) yang disutradarai Usmar Ismail.
Lahir di Rangkasbitung 22 September 1933, Misbach merupakan keturunan Minang dari seorang ayah bernama Ayun Sabiran yang kala itu aktif di dalam pergerakan kemerdekaan hingga ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda dan diasingkan ke Boven Digoel. Sementara ibunya, merupakan perempuan asli Banten.
A. Teeuw dalam buku Sastra Indonesia Modern II (Pustaka Jaya, 1989) menyebut Misbach sebagai seorang penulis cerita pendek yang mampu memadukan pendekatan modern yang melimpah dengan kejenakaan. Dramanya yang berjudul Bung Besar memperoleh hadiah kedua Sayembara Penulisan Naskah Drama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1958. Dramanya yang lain adalah Setengah Djam Mendjelang Maut pada 1968 dan pernah ditayangkan di TVRI.
Misbach yang pernah bersekolah di Taman Madya (SLA) Taman Siswa Jakarta, pada awalnya dikenal sebagai seorang sutradara dan penulis skenario. Ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 untuk karyanya Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966-dua seri), dan Penulisan Cerita Terbaik Menjusuri Djedjak Berdarah (1967).
Suami dari Nani Widjaja ini, kemudian lebih banyak memusatkan pikiran dalam merintis pusat dokumentasi film yang kemudian dikenal sebagai Sinematek Indonesia, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Peneliti BRIN Ahmad Nuril Huda kepada NU Online menyebut Misbach memiliki peran besar dalam pengarsipan dengan menyimpan film, foto, majalah, undangan, poster, surat-surat organisasi, hingga draf-draf wawancara serta catatan-catatan pribadi yang berkaitan dengan dunia perfilman Indonesia.
"Di Sinematek Indonesia, kita melihat pengabdian seorang Misbach. Bayangkan di tengah kesibukannya sebagai sineas, penulis, beliau masih sempat menyimpan dengan rapi semua dokumentasi yang dialaminya," (Lihat artikel berjudul Sinematek Indonesia Karya terbesar Pak Misbach, NU Online, 2012)
Keterkaitan Misbach dengan NU, seperti halnya dengan tiga tokoh sebelumnya, yakni aktif di Lesbumi. Dalam buku Lesbumi (LKiS, 2008) karya Choirotun Chisaan, Misbach menulis awal mula perkenalannya dengan NU, yakni sekitar tahun 1957, melalui perantara Djamaludin Malik. Misbach yang juga seorang wartawan, ikut mengelola beberapa media milik NU maupun Lesbumi, yakni dengan menjadi Redaktur rubrik Muara Harian Duta Masjarakat dan Majalah Gelanggang.
Misbach juga menulis beberapa buku, di antaranya Kenang-kenangan Orang Bandel (Komunitas Bambu, 2008), Sejarah Film 1900-1950 (Komunitas Bambu, 2009), Keadjaiban di Pasar Senen (Pustaka Jaya, 1971), Oh Film (Pustaka Jaya, 1973), Perkenalan Selintas Mengenai Perkembangan Film Di Indonesia, (Asia University Tokyo, 1990), dan lain-lain.
H Misbach Yusa Biran meninggal pada tanggal Rabu, 11 April 2012 dan dimakamkan di Kompleks Pesantren Al-Ihya, Ciomas, Bogor.
5. M Abnar Romli (1943-)
Pemilik nama asli M Abunawar Romli ini lahir di Desa Pakembaran, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, pada 13 Maret 1943. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar pada tahun 1958, ia melanjutkan studi di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di kota asalnya.
Malik Ibnu Zaman dalam artikel berjudul Abnar Romli: Santri Tebuireng, Aktivis Lesbumi, Sutradara Film Mak Lampir (NU Online, 2024), menuliskan semasa kecil Abnar memiliki kebiasaan mendengarkan dongeng sebelum tidur yang diceritakan oleh ibunya. Hal ini yang menumbuhkan cita-citanya untuk menjadi penulis buku fiksi dan sutradara film.
Pada tahun 1960 ayahnya memutuskan untuk mengirimkan M. Abnar Romli ke Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Selain tekun mempelajari ilmu agama seperti santri lainnya, ia juga aktif menulis cerpen dan karya-karya lainnya. Dari Pesantren Tebuireng, M. Abnar Romli kemudian pindah ke Pesantren Seblak, yang didirikan oleh menantu dari KH Hasyim Asy’ari, KH Ma’shum Ali.
Setelah kembali ke kampung halamannya di Slawi, ia aktif memimpin Lesbumi NU Kabupaten Tegal. Dalam buku Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), Sebelum memasuki dunia film, Abnar giat dalam dunia sandiwara amatir. Ia masuk film pada tahun 1970, mula-mula sebagai pencatat merangkap tukang klep.
Film Hidup, Tjinta dan Air Mata (1970), merupakan film pertamanya sebagai pencatat. Tahun 1971, ia mulai merangkap jabatan pembantu sutradara dalam film Tiada Maaf Bagimu. Kemudian menyusul beberapa produksi antara lain: Wajah Seorang Pembunuh (1972), dan Patgulipat (1973). Abnar menjadi sutradara penuh sejak tahun 1974. Film-filmnya Setitik Noda (1974), Batas Impian (1974), Dimadu (1974) dan lain-lainnya.
Abnar juga menyutradarai serta menulis cerita dan skenario beberapa serial TV. Pembaca dari generasi 90-an, tentu akan mengingat sosok Mak Lampir dalam serial TV Misteri Gunung Merapi. Serial ini pertama kali tayang pada 1 November 1998. Tidak hanya itu, Abnar Romli juga melahirkan berbagai film lainnya, seperti Legenda Mahkota Majapahit, Prahara Prabu Siliwangi, Mayat Hidup, dan Pancasona, serta masih banyak lagi.
Selain berkecimpung di dunia perfilman, Abnar juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Cerpennya yang berjudul Penjual Kapas dimuat dalam buku Cerita Pendek Indonesia ke 4 (1979). Cerpen ini mendapatkan penghargaan Hadiah Horison tahun 1966-1967 untuk kategori cerpen yang mendapat pujian dari redaksi. Oleh Ajip Rosidi, cerpen tersebut dimasukkan ke dalam antologi Langit Biru, Laut Biru (1977).
Karya lainnya dari Abnar Romli yaitu naskah drama satu babak Perlawanan (1967). Lalu novel Orang-orang yang Terhormat (terbit tahun 1967, pada tahun 1974 dilarang terbit oleh Orde Baru), novel Willem Best (1969), novel Saat Badai Mengamuk (1973), novel Keramat Maulana Putih (2023). M Abnar Romli yang baru saja merayakan ulang tahun yang ke-83, kini tinggal di Jakarta.
6. Alex Komang (1961-2015)
Nama aslinya adalah Saifin Nuha bin KH Shohibul Munir. Asal-usul nama panggung “Alex Komang” ada yang menyebut berasal dari pemberian sutradara Teguh Karya. Ada pula yang mengatakan nama itu terinspirasi dari tokoh “Alex” yang ia perankan pada serial televisi Kiki dan Komplotannya.
Sementara Akhmad Sahal dalam artikel berjudul Kisah Hidup Alex Komang, Putra Kiai NU yang Nekat Merantau ke Jakarta Untuk Menjadi Aktor (Suara NU Jepara, 2025) menjelaskan bahwa nama panggung aktor kelahiran Pecangaan Jepara pada tanggal 17 September 1961 ini, berasal dari “Alaika Qomar” yang artinya “di atasmu ada rembulan."
Setelah pindah ke ibukota, ia aktif di dunia teater. Waktu main di TIM, terlihat oleh Teguh Karya dan memberikan Alex peran dalam film Secangkir Kopi Pahit dan Doea Tanda Mata. Keduanya diproduksi pada tahun 1984. Di samping itu namanya juga masuk nominasi sebagai pengarang cerita dan penulis skenario (bersama Teguh) dalam film tersebut.
Perjalanan Alex Komang hingga bisa menjadi aktor papan atas Indonesia tidaklah mudah. Putra KH Shohibul Munir Pecangaan ini menginginkan anaknya menuntut ilmu di pesantren Sarang, Jawa Tengah. Tanpa sepengetahuan sang ayah, Alex nekat merantau ke Jakarta selepas SMA pada 1980. Alex tidak memberi tahu ayahnya tentang ketertarikannya pada seni peran.
Ketika Alex berhasil meraih Piala Citra sebagai aktor terbaik pada 1985, ia baru memberanikan diri mengakui profesi barunya kepada Kiai Shohib. Sayangnya, hal ini justru menambah kekecewaan dan kemarahan sang bapak.
Ketua PP Lesbumi NU 2004-2015, Ngatawi Al-Zastrouw dalam artikel berjudul Alex Komang Berhasil Bawakan Nilai Kesantrian dalam Film (NU Online, 2015) mengungkapkan Alex Komang merupakan seorang seniman NU yang telah berhasil membawa nilai-nilai kesantrian dalam karya-karyanya terutama di bidang perfilman.
“Sebagai artis senior yang sudah terkenal, dia mampu menjaga diri untuk tidak tergerus dalam gemerlap dunia artis yang glamor dan tidak terjebak dalam nama besar yang bisa membuat orang berjarak dengan komunitas asalnya,”
Beberapa film dibintangi Alex Komang sebelum kepergiannya, antara lain Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Gunung Emas Almayer (2014), Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014), 9 Summers 10 Autumns (2013), Surat Kecil untuk Tuhan (2011), Hati Merdeka (2011), True Love (2011), Anak Setan (2009), Romeo Juliet (2009), Laskar Pelangi (2008), dan Sumpah Pocong di Sekolah (2008). Alex kembali dinominasikan Piala Citra untuk kategori Aktor Terbaik melalui perannya sebagai ayah pada film Surat Kecil untuk Tuhan (2011).
Ketika meninggal, Saifin Nuha atau Alex Komang masih tercatat sebagai Wakil Ketua PP Lesbumi NU. Ia mengembuskan napas yang terakhir, pada pada 13 Februari 2015, setelah sempat dirawat di RSUP Kariadi, Semarang. Keesokan harinya, ia dimakamkan di Pemakaman Umum Sirandu, Desa Pecangaan Kulon, Pecangaan, Jepara. Makamnya berdampingan dengan makam ayahnya.
Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU
Terpopuler
1
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
2
Gus Yahya Sampaikan Pesan KH Nurul Huda Djazuli agar Muktamar Ke-35 NU Digelar di Pesantren Lirboyo
3
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
4
Pemerintah Akan Pangkas MBG Jadi 5 Hari, Begini Penjelasan Kepala BGN
5
Meski Sudah Gabung BoP, Pasukan Perdamaian TNI Tewas Ditembak Israel di Lebanon
6
Israel Tutup Masjid Al-Aqsa, Larang Warga Palestina Shalat Jumat
Terkini
Lihat Semua