Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Kewafatan Ulama Penyebab Alam Menjadi Sakit dan Solusinya

Kewafatan Ulama Penyebab Alam Menjadi Sakit dan Solusinya
Kewafatan ulama
Kewafatan ulama

Akhir-akhir ini kabar kewafatan ulama sering kita dengar, dari mulut ke mulut, dari media ke media lainnya. Seolah bumi sedang mempersiapkan diri untuk mengakhiri keberadaannya. Orang-orang saleh dipanggil satu persatu dan hanya menyisakan kisah-kisah terbaik mereka di dunia.

 

Keberadaan ulama dan orang-orang saleh menjaga keberlangsungan dunia, mereka penuntun menuju kebenaran dan pengarah menuju kebaikan. Kehilangan salah satu dari mereka menunjukkan berkurangnya penuntun dan pengarah perihal bagaimana hidup di dunia secara semestinya. Saat ini, dunia sudah mengambil hiasan-hiasan yang sangat berharga dan diistirahatkan di alam yang berbeda, yaitu alam keabadian bersama dengan Tuhan.

 

Kehilangan mereka menjadi musibah luar biasa yang perlu ditangisi dengan hati ikhlas dan penuh rasa takut, sebab dengan kewafatan mereka, manusia tidak memiliki orang-orang yang menjadi sandaran untuk mengadukan keluh kesah yang ia alami, khususnya dalam hal yang berkaitan dengan tatanan keagamaan, sosial, keilmuan dan lainnya.

 

Kewafatan Ulama dan Keberlangsungan Dunia

Ulama dan orang saleh tak ubahnya sebagai penyelamat dari kesalahan dan kerusakan di dunia. Mereka adalah pengemban amanah terberat selama keberadaannya di dunia. Karenanya, tidak heran ketika Allah menjadikan mereka sebagai khalifah untuk mengurus keberlangsungan dan eksistensi dunia. Allah berfirman:

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً، قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ، قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا  لَا تَعْلَمُونَ

 

Artinya, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana sebagai khalifah, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’.” (Al-Baqarah ayat 30).

 

Dalam ayat di atas secara tegas Allah hendak menciptakan khalifah di muka bumi agar mengurus dunia dan isinya. Allah sangat paham dan tahu akan kebiasaan dan watak manusia seperti apa dan bagaimana jadinya. Karenanya, tujuan inti penciptaan itu adalah agar mereka menjadi orang-orang yang mengurusi dunia secara turun-temurun.


Sayyid Thantawi dalam salah satu masterpiece-nya, Tafsîrul Wasîth, menegaskan bahwa pertanyaan para malaikat kepada Allah bukan bermaksud menentang atau menyangkal dan mengingkari kehendak-Nya, namun murni ingin menanyakan apa hikmah dari kehendak itu. Karena menurut para malaikat perbuatan manusia di muka bumi lebih dominan dalam membuat kerusakan dan kesalahan, sedangkan para malaikat sudah terbiasa melakukan tasbih dan menyucikan asmâ’ Allah. kemudian Allah menjawab  yang lebih tahu maslahah dan mafsadahnya hanya Allah semata, bukan lainnya.

 

Menurut Sayyid Thanthawi penciptaan manusia di muka bumi akan menjadi dua bagian. Ada yang hanya melakukan kerusakan dan perpecahan, dan ada juga yang sangat menjaga kebaikan dan perdamaian. Poin yang terakhir inilah yang diperankan oleh orang-orang saleh, hamba-hamba Allah yang bertakwa, para kekasih Allah, orang-orang istimewa di sisi-Nya, para ulama yang mengamalkan ilmunya, dan orang-orang yang mencintai para ulama, serta yang mengikuti semua teladannya. (Sayyid Muhammad Thanthawi, Tafsîrul Wasîth, [Bairut, Dârul Fikr: 2004], halaman 55).

 

Dari penjelasan di atas sangat tampak bahwa para ulama menempati posisi yang sangat inti dalam urusan keberlangsungan dunia. Bahkan hakikatnya, merekalah yang menjaga bumi dan isinya. Mereka pula yang merawat dan mempertahankannya. Kehilangan mereka menunjukkan kurangnya kebaikan dalam tatanan hidup yang berlangsung.

 

Tidak hanya, itu keberadaan para ulama merupakan ruh dari keberadaan dunia. Layaknya badan, jika salah satu anggotanya tidak berfungsi karena sakit atau sesamanya, maka kenyamanan badan akan terganggu dan tidak bisa melakukan aktivitas normal sebagaimana biasanya. Hal ini sebagaimana penjelasan ulama ahli tafsir terkemuka, Syekh Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi:

 

مَتَى فَارَقَ هَذَا الْإِنْسَانُ الْعَالِمُ مَاتَ الْعَالَمُ لِأَنَّهُ الرُّوْحُ الذِيْ بِهِ قِوَامُهُ، فَهُوَ الْعِمَادُ الْمَعْنَوِي لِلسَّمَاءِ، وَالدَّارُ الدُّنْيَا جَارِحَةٌ مِنْ جَوَارِحِ جَسَدِ الْعَالَمِ الَّذِي الْإِنْسَانُ رُوْحُهُ

 

Artinya, “Ketika manusia yang alim berpisah dari dunia atau wafat, maka seolah alam mati, karena ia adalah ruh dunia, yang keberadaannya menjadi tiang ma’nawi bagi langit. Dunia merupakan salah satu anggota dari berbagai anggota alam semesta, di mana manusia (yang alim) adalah ruhnya.” (Syihabuddin Al-Alusi, Tafsîr Al-Âlusi, [Bairut, Dârul Kutub: 2001], juz I, halaman 257).

 

Penjelasan Syekh Al-Alusi ini memberi warning kepada umat manusia, khususnya yang beragama Islam, bahwa kehilangan para ulama sangat berdampak besar bagi kehidupan dunia dan keberlangsungannya. Kehilangan mereka menyebabkan alam semesta kehilangan ruhnya, sementara kehilangan ruh, niscaya menunjukkan dunia sedang tidak baik-baik saja.

 

Melanjutkan Peran Ulama yang Telah Wafat

Lantas bagaimana cara mengobati alam semesta yang sedang sakit? Apa cara terbaik untuk menggantikan posisi para ulama yang wafat? 

 

Hujjatul Islâm Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali mengutip perkataan Sayyidina Ali karamallâhu wajhah dalam kitabnya, Ihyâ’ Ulûmiddîn:

 

وَقَالَ عَلِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَلْعَالِمُ أَفْضَلُ مِنَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْمُجَاهِدِ، وَإِذَا مَاتَ الْعَالِمُ ثُلَّمَ فِي الْإِسْلاَمِ ثُلْمَةً لَا يَسُدُّهَا إِلَّا خَلْفٌ مِنْهُ

 

Artinya, “Sayyidina Ali radhiyallâhu ‘anhu berkata: ‘Sungguh orang alim lebih utama daripada orang yang berpuasa, tidak tidur malam dan berjihad. Jika orang alim wafat, maka akan ada celah (kekurangan) dalam Islam yang tidak bisa ditutupi kecuali oleh generasi-generasi penerusnya.” (Al-Ghazali, Ihyâ’ Ulûmiddîn, [Bairut, Dârul Ma’rifah: 2000], juz I, halaman 7).

 

Melihat penjelasan di atas, tidak ada cara yang lebih baik ketika para ulama satu persatu meninggalkan dunia kecuali dengan cara menggantikan posisinya. Yaitu dengan berupaya semaksimal mungkin untuk bisa menjadi penerus yang lebih baik darinya, atau setidaknya bisa mengimbangi peran-peran para ulama yang telah wafat. Sebab, kehilangan satu ulama merupakan musibah terbesar bagi Islam dan pemeluknya. Kepergiannya menjadi kekurangan yang perlu segera diperbaiki, dan untuk memperbaikinya adalah dengan menjadi generasi yang siap untuk menggantikan perang ulama yang sudah tiada.

 

Adapun untuk menjadi penerus para ulama tidak ada cara lain kecuali dengan belajar dan belajar. Sebab, kehilangan para ulama menunjukkan kehilangan ilmu yang ada pada dirinya. Hal ini tidak akan pernah terpenuhi jika para generasi penerus perjuangannya tidak cinta ilmu, meremehkan ilmu, dan lebih cinta akan dunia. Karena itu, mempertahankan jasa para ulama adalah dengan cara terus mempelajari ilmu para ulama.

 

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bâri mengatakan:

 

فَإِنَّهُ لَا يُرْفَعُ اِلَّا بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، وَمَا دَامَ مَنْ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مَوْجُوْدًا لَا يَحْصُلُ الرَّفْعُ

 

Artinya, “Maka sungguh ilmu tidak akan diangkat kecuali dengan diangkatnya (kewafatan) para ulama, dan selagi masih ada orang yang belajar ilmu, maka tidak akan berlangsung pengangkatan (ilmu).” (Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bâri, [Bairut, Dârul Ma’rifah, 2007], juz I, halaman 178).

 

Harus diakui, generasi penerus ulama tidak bisa disamakan dengan para ulama sebelumnya. Mereka hanya sebagai penerus perjuangannya, dan mungkin bukan sosok ulama sejati sebagaimana yang diganti. Maka tidak heran jika langkah, dakwah dan pengajarannya tidak sama dengan ulama yang digantinya.

 

Hanya saja, betapa pun semua itu merupakan kekurangan, langkah terbaik untuk menjadi penerusnya hanyalah dengan belajar ilmu pengetahuan, meniru semua teladannya, serta berusaha berperan menjadi lebih baik daripada peran ulama yang digantinya. Atau setidaknya setara dalam menyebarkan ilmu dan keislaman sebagaimana yang dicontohkan ulama sebelumnya. Wallahu a'lam.

 

Sunnatullah, Pengajar di Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop, Bangkalan.
 


Terkait

Hikmah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya