Muhammad SAW merupakan utusan Allah SWT yang terakhir dikirim untuk mendakwahi umat manusia. Setelah beliau wafat, tidak ada lagi pengangkatan pembawa risalah ketuhanan yang baru.
Beliau bernama lengkap, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abd Manaf bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhor bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.
Namun, sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Muhammad SAW ini banyak diragukan kebenarannya. Terutama yang paling kontras adalah ketidakbisaan Beliau dalam membaca dan menulis.
Masyarakat yang tidak percaya tersebut berdalih bahwa bagaimana mungkin seorang pembawa risalah Tuhan itu ada pada diri seseorang yang buta huruf. Sangat bertolak belakang dengan logika.
Akan tetapi, keraguan-keraguan itu hanya muncul di tengah masyarakat awam. Berbeda dengan orang-orang yang dibukakan tabir keajaiban dan dibekali ilmu dari kitab terdahulu, mereka bisa menyaksikan tanda-tanda kenabian pada diri Rasulullah.
Tidak hanya pada saat remaja hingga dewasa, pertanda itu sudah ditampakkan oleh Allah SWT sejak Rasulullah SAW masih kecil. Apa sajakah yang mereka lihat tersebut? Untuk lebih jelas, simak tulisan ini secara lengkap.
Empat Tanda Kenabian Muhammad SAW Saat Masih Kecil
Dari masa belia hingga usia 40 tahun, kehidupan Muhammad SAW dihiasi dengan tanda kenabian yang beraneka macam. Karena jumlahnya yang banyak, supaya mudah dipahami, berikut ini rangkuman tanda-tanda kenabian Rasulullah saat Beliau masih kecil:
1. Anugerah Bagi Ibu Persusuan
Bagi yang belum mengetahui, Muhammad kecil, tidak disusui dengan penuh oleh ibu kandungnya secara langsung. Karena pada masa itu, kebiasaan orang Arab ialah memberikan perempuan lain untuk menyalurkan asupan ASI kepada anaknya. Terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan terpandang.
Oleh sebab itu, pada suatu masa, klan As-Sa’diyah secara berkelompok mendatangi kota Makkah untuk mencari bayi yang hendak disusui. Setiap anggota rombongan berkeliling dari rumah ke rumah untuk menawarkan jasa kepada keluarga yang membutuhkan persusuan untuk anaknya.
Setiap wanita dari kalangan As-Sa’diyah, hampir seluruhnya, pernah menyambangi Muhammad kecil. Namun karena Bayi tersebut, terlahir yatim, maka tidak ada yang berkeinginan untuk mengambilnya. Sebab dinilai pendapatan dari pelayanannya tidak banyak.
Kemudian, waktu terus bergulir; setiap wanita As-Sa’diyah telah mendapatkan anak persusuannya masing-masing. Akan tetapi, hanya satu orang yang belum, yakni Halimah.
Karena hal itu, Halimah pun bersedia mengangkat Muhammad kecil sebagai anak persusuannya. Tindakan tersebut bukan ia ambil secara terpaksa sebab tidak mendapatkan bayi yang hendak disusui, namun ia melakukan itu secara ikhlas tanpa berharap apa pun dari jasanya.
Maka pada waktu yang bersamaan, anugerah dan tanda kenabian itu tampak pada diri Muhammad kecil. Keajaiban ini tidak hanya muncul bagi keluarga Halimah, tetapi lingkungan hidupnya pun ikut merasakannya.
Alkisah, Halimah As-Sa’diyah ini, sebelum mengambil Muhammad kecil sebagai anak persusuan, kampung halamannya dilanda kemarau panjang. Hewan ternaknya kurus semua, termasuk unta yang ia tunggangi ke Makkah. Ditambah lagi, suami, anak, dan juga dirinya sedang menahan kelaparan.
Maka setelah mengambil dan menggendong Muhammad kecil, Halimah langsung menyusuinya, begitu pula anaknya sampai kenyang. Setelah rampung, keduanya pun tertidur dengan lelap. Berikut dengan Halimah dan suaminya.
Sehingga tatkala suaminya terbangun lebih awal, ia menyaksikan ambing untanya penuh dengan susu. Seketika langsung memerasnya, dan memberikan kepada Halimah. Pada saat itulah mereka sekeluarga langsung kenyang bersamaan.
Suami Halimah yang menyaksikan itu langsung berkomentar setelah melihat keajaiban itu, “Ketahuilah, wahai Halimah, demi Allah, engkau telah mengambil manusia yang dipenuhi keberkahan.” Halimah pun menimpalinya, “Itulah yang saya harapkan.”
Setelah bermalam pasca keajaiban itu, Halimah beserta suaminya pulang. Di saat yang sama, ia diberikan anugerah, yakni kecepatan lari untanya meningkat pesat. Semua orang dari rombongan As-Sa’diyah yang sebelumnya pulang lebih awal, disusul secara langsung.
Tiada henti-hentinya anugerah itu datang kepada Halimah dan keluarga. Sesampainya di rumah, ia menyaksikan semua kambingnya gemuk dan seluruh ambingnya berisi susu. Padahal ketika itu, peternakan tetangganya tidak demikian. Dan di masa itu pula kampung halaman Halimah dilanda paceklik parah.
Kemudian, ketika melihat anugerah itu, Halimah pun memeras susu hewan ternaknya dan meminumnya langsung. Muhammad kecil pun tinggal bersama Halimah selama dua tahun. (Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hisyam, [Mesir: Maktabah al-Babiy, 1955] jilid 1, halaman 162-164)
2. Pertumbuhan Fisik yang Melampaui Anak Seusianya
Seiring berjalannya waktu, keberkahan yang menyertai Muhammad kecil tidak hanya tampak pada lingkungan sekitarnya, tetapi juga tercermin jelas pada pertumbuhan fisiknya sendiri. Dalam usia yang masih sangat belia, ia tumbuh lebih kuat, lebih sehat, dan lebih matang dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.
Ketika genap berusia dua tahun, ketika anak-anak umumnya di masa tersebut masih belajar menyeimbangkan tubuh dan bergerak terbatas, Muhammad kecil justru tubuhnya telah tampak tegap dan sehat. Pertumbuhan fisik yang melampaui kelaziman ini dipahami sebagai bagian dari tanda-tanda awal pemeliharaan Ilahi atas dirinya. (W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca, [Oxford: The Clarendon Press, 1953] hlm. 35).
3. Pembelahan Dada oleh Malaikat Jibril
Selanjutnya, tanda kenabian pada Rasulullah Muhammad SAW saat kecil ialah pembelahan dadanya oleh Malaikat Jibril.
Alkisah, di suatu masa, Muhammad kecil sedang bermain dengan dua kawannya. Lalu ia didatangi oleh Malaikat Jibril dan langsung dibawa olehnya. Tatkala diletakkan di tanah, Jibril langsung membelah dadanya.
Dalam proses tersebut, malaikat Jibril mengambil hati Muhammad kecil dan membersihkannya. Sampai pada tahap, Jibril mengeluarkan segumpal darah. Seraya ia berkata, “Ini merupakan bagian (tempat) setan yang ada pada dirimu.” Lalu Jibril membersihkannya dalam sebuah wadah seperti baskom yang terbuat dari emas, menggunakan air Zamzam.
Dua teman Muhammad kecil yang menyaksikan kejadian di luar nalar itu, langsung berlari berhamburan untuk melapor kepada ibu mereka, sembari berteriak, “Muhammad telah dibunuh, Muhammad telah dibunuh, Muhammad telah dibunuh…”
Maka, menerima laporan itu, semua orang bergegas ke tempat kejadian perkara dan ditemukan bahwa wajah kecil Muhammad telah berubah pucat. Anas bin Malik berkata, “Sungguh aku pernah melihat bekas jahitan dari peristiwa pembelahan dada itu pada Rasulullah.” (Muslim bin Hajjaj, Al-Musnadus Shahih, [Turki, Darutthaba’ah al-‘Amirah, 1334H] Jilid 1, hlm. 101).
Setelah dua kawan itu meminta pertolongan dengan berteriak kepada warga, berita itu sampai kepada Halimah As-Sa’diyah selaku pengasuh Muhammad kecil bersama suaminya.
Saat melihat kondisi Muhammad kecil yang pucat dan mendengar ceritanya langsung, suami Halimah itu menyarankan agar Muhammad kecil dikembalikan kepada keluarganya. Sebab ia takut kejadian yang serupa atau berbahaya terjadi lagi kepada anak tersebut. (W. Montgomery Watt, Muhammad at Mecca,…. hlm. 35)
4. Menemukan Unta yang Hilang
Sementara itu, pada masa Jahiliyah, disebutkan bahwa Haidah bin Mu‘awiyah pernah berangkat ke Makkah untuk menunaikan umrah. Ketika itu ia menyaksikan sebuah pemandangan yang menarik perhatiannya.
Di sekitar Ka‘bah, tampak seorang lelaki tua sedang bertawaf dengan khusyuk. Ia mengenakan dua helai kain, berjalan perlahan mengelilingi Baitullah, seraya melantunkan doa dengan penuh harap:
رَبِّ رُدَّ إِلَيَّ رَاكِبِي مُحَمَّدَا … رُدَّهُ عَلَيَّ واصْطَنِعْ عِنْدِي يَدَا
Artinya: “Wahai Tuhanku, kembalikanlah kepadaku untaku dengan Muhammad. Kembalikanlah dia kepadaku, dan limpahkanlah kepadaku kebaikan dan pertolongan.”
Doa itu diulang-ulang, seolah-olah keluar dari hati yang sangat rindu. Haidah pun berinisiatif bertanya kepada orang-orang di sekitarnya, “Siapakah gerangan orang tua ini?”
Mereka menjawab, “Ia adalah pemimpin Quraisy dan putra pemimpin mereka. Dialah ‘Abdul Muththalib bin Hasyim bin ‘Abd Manaf.”
Rasa ingin tahunya semakin besar. “Lalu, siapakah Muhammad yang ia sebut-sebut dalam doanya itu?” tanyanya lagi.
Orang-orang pun menjelaskan, “Muhammad adalah cucunya dan dialah orang yang paling dicintainya. ‘Abdul Muththalib memiliki unta yang sangat banyak. Bila salah satunya hilang, ia biasa mengutus anak-anaknya untuk mencarinya.
Namun, jika anak-anaknya telah kelelahan dan belum juga menemukannya, ia akan mengutus cucunya. Dan saat ini, Muhammad sedang mengutusnya untuk mencari unta yang tak kunjung ditemukan oleh anak-anaknya. Hingga kini, ia belum juga kembali.”
Haidah menyaksikan sendiri bagaimana sang kakek memanjatkan doa dengan penuh tawakkal di hadapan Ka‘bah, memohon agar cucu kesayangannya dikembalikan dengan selamat.
Haidah bersaksi dan bersumpah, demi Allah, ia belum meninggalkan Makkah hingga akhirnya Muhammad benar-benar kembali dengan membawa unta-unta yang dicari itu. (Al-Baihaqi, Dalailun Nubuwwah, [Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1985] jilid 2, hl.m 41).
Demikian empat tanda kenabian yang nampak pada diri Nabi Muhammad Saw saat masih kecil. Pertama, beliau mampu mendatangkan anugerah bagi ibu persusuannya. Kedua, pertumbuhan fisiknya melampaui anak-anak seusianya. Ketiga, dadanya dibersihkan oleh malaikat Jibril. Keempat, dia mampu menemukan unta yang telah hilang.
Empat peristiwa tersebut terjadi pada saat Nabi Muhammad Saw belum genap berusia 9 tahun. Kejadian anugerah ibu persusuan dan perkembangan fisik yang baik itu terlihat selama rentang waktu umur 0-2 tahun.
Kemudian, ketika pembelahan dada, usianya 2 tahun lewat beberapa bulan, sebab peristiwa itu terjadi setelah Muhammad kecil pernah dikembalikan ke keluarga Quraisy-nya. Namun diminta oleh Halimah lagi, agar masa penitipannya diperpanjang.
Selanjutnya, yang terakhir, peristiwa menemukan unta yang hilang terjadi saat kakeknya, Abdul Muthalib, masih hidup; perkiraannya, Nabi SAW masih berusia kurang dari 8 tahun. Karena si Kakek wafat saat Nabi sudah berumur 8 tahun, 2 bulan, 10 hari. Wallahua’lam.
Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman.
