NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Ilmu Tauhid

Iblis Dasim Pemicu Penceraian Suami-Istri, Memangnya Ada?

NU Online·
Iblis Dasim Pemicu Penceraian Suami-Istri, Memangnya Ada?
Ilustrasi iblis. Sumber: Canva/NU Online.
Muqoffi
MuqoffiKolomnis
Bagikan:

Belakangan ini, kita sering mendengar kabar perceraian yang ramai dibicarakan di media sosial. Tak sedikit komentar yang menyebut bahwa penyebabnya tidak lain adalah jin bernama Dasim. Konon, jin ini dipercaya menebar bisikan kotor dan aura negatif di antara suami dan istri, hingga keduanya mudah tersulut emosi dan terlibat pertengkaran. Lantas, benarkah Dasim ini benar-benar ada?

Dalam literatur keislaman, Dasim disebut sebagai salah satu anak Iblis yang kerap beraksi menebar ketidakharmonisan dalam keluarga. Dengan kelicikannya, ia menanamkan rasa curiga dalam hati suami, mengubah cinta menjadi prasangka, dan kasih sayang menjadi amarah, hingga mata hanya tertuju pada kekurangan pasangan, bukan pada keutamaannya.

Al-Munawi pernah menjelaskan:

وَأَمَّا ‌دَاسِمُ فَهُوَ الَّذِي يَدْخُلُ مَعَ الرَّجُلِ إِلَى أَهْلِهِ يُرِيهِ الْعَيْبَ فِيهِمْ وَيُغْضِبُهُ عَلَيْهِمْ

Artinya, "Adapun jin berana Dasim tugasnya adalah ikut masuk bersama pria ke dalam keluarganya, dia menjadikan pria itu memandang aib terhadap keluarganya dan membenci mereka," (Faidhul Qadir, [Lebanon, Darul Ma’rifah: 1972], jilid II, halaman 503).

Padahal, tidak ada yang benar-benar berubah dari sang istri. Ia masih wanita yang sama, namun suami mulai merasa berbeda, sehingga menjadi mudah marah, mencari-cari kesalahan, dan menuduhnya telah berubah. Begitu pula istri, yang merasa suaminya tak lagi seperti dulu.

Peran jin atau iblis, dalam literatur keislaman, juga disebut-sebut sering kali merusak hubungan suami-istri tak disadari, karena ia bekerja dalam senyap. Namun pengaruhnya nyata. Misalnya, hubungan yang semula harmonis bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Iblis, sebagaimana disebut Nabi, akan terus berusaha merusak rumah tangga, bahkan hingga pasangan benar-benar berpisah. Perhatikan hadits berikut:

وعن جابرٍ، قال: قال رسول الله: إن إبليس يضع عرشه على الماء، ثم يبعث سراياه، فأدناهم منه منزلةً أعظمهم فتنةً، يجئ أحدهم فيقول: فعلت كذا وكذا، فيقول: ما صنعتَ شيئًا. قال: ثم يجئ أحدهم فيقول: ما تركته حتى فرقتُ بينه وبين امرأته، قال: فيدنيه منه ويقول: نعم أنت

Artinya: “Dari Jabir, ia berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda, ‘Sesungguhnya Iblis menempatkan singgasananya di atas air. Ia kemudian mengutus pasukan-pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya dengan Iblis adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, “Saya telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Kamu belum melakukan apa-apa.” Datang yang lain melapor, “Saya tidak meninggalkannya hingga berhasil menceraikannya dari istrinya.” Maka Iblis mendekatkannya dan berkata, “Engkaulah sebaik-baik setan,”’” (HR. Muslim)

Memang riwayat di atas tidak menyebut secara spesifik soal jin bernama "Dasim", namun dari hadits shahih di atas, kita memahami bahwa Nabi mengakui adanya kekuatan tak terlihat yang dapat memengaruhi bahtera rumah tangga, yang semula harmonis penuh kasih sayang, berbalik menjadi retak dan saling hujat karena selalu ada cela dan aib yang tampak dari pasangannya.

Kemudian, berkaitan dengan Dasim juga, Sayyidina Umar pernah mengungkapkan, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar al-Asqalani:

وأمَّا داسم فهو صاحب البيوت فإذا دخل الرجل منزله ولم يسم ولم يذكر الله أوقع بينهم المنازعة حتى يقع الضرب والطلاق والخلع

Artinya, "Adapun Dasim, dia adalah jin penghuni rumah, ketika seorang pria memasuki rumahnya sedangkan dia tidak membaca basmalah dan berzikir kepada Allah SWT, maka Dasim akan memantik pertikaian di antara penghuni rumahnya, hingga akan terjadi kekerasan, perceraian, dan gugatan cerai dari istri," (Ibnu Hajar al-Asqalani, Nashaihul Ibad fi Bayani Alfadzi Munabbihatin Alal Isti’dadi Liyaumil Ma’ad, [Lebanon, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1971], halaman 127-128).

Dengan demikian, berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa sosok jin bernama Dasim memang disebut dalam literatur keislaman. Ia diyakini sebagai makhluk yang bertugas mengganggu dan merusak keharmonisan rumah tangga manusia, terutama dengan menumbuhkan rasa curiga, amarah, dan kebencian di antara suami istri.

Meski demikian, penting untuk diingat bahwa tidak semua keretakan rumah tangga semata-mata karena pengaruh Dasim. Ada banyak faktor lain yang turut berperan, baik internal maupun eksternal, yang dapat memengaruhi keharmonisan hubungan suami istri.

Faktor internal misalnya kurangnya komunikasi, minimnya rasa saling pengertian, atau ketidakmampuan mengelola emosi dengan baik. Sementara faktor eksternal bisa berupa tekanan ekonomi, lingkungan sosial, atau bahkan pengaruh pihak ketiga. 

Karena itu, selain berlindung kepada Allah dari godaan setan, setiap pasangan juga perlu berikhtiar menjaga hubungan dengan cara yang bijak. Saling memahami, menjaga komunikasi, serta menumbuhkan kasih sayang menjadi kunci penting agar rumah tangga tetap harmonis dan terhindar dari gangguan yang dapat merusaknya. Wallahu a'lam.

Ustadz Muqoffi, Guru Pon-Pes Gedangan & Dosen IAI NATA Sampang Madura.

Kolomnis: Muqoffi