Masyarakat Arab pada awal masa datangnya Islam memiliki tradisi lisan yang kuat, sehingga informasi dan cerita menyebar dengan cepat dari mulut ke mulut. Kisah-kisah tentang umat terdahulu, nabi-nabi, dan berbagai peristiwa masa lampau beredar kuat di jazirah Arab kala itu. Dan salah satu yang paling masyhur dari kisah itu di antaranya adalah kisah Israiliyat.
Kisah Israiliyat merupakan cerita-cerita yang bersumber dari orang-orang ahli kitab, khususnya Yahudi dan Nasrani yang kemudian dikenal dan beredar di tengah masyarakat Arab. Kisah-kisah ini umumnya berkaitan dengan para nabi, umat-umat terdahulu, penciptaan alam, serta peristiwa-peristiwa besar yang memiliki daya tarik naratif.
Meski tidak selalu diterima secara bulat, kisah-kisah ini memberikan warna tersendiri dalam pemahaman umat Islam terhadap sejarah. Bahkan kehadirannya memicu perdebatan pada masa itu tentang validitas dan kebenarannya. Dan berikut ini penulis akan menjelaskan dengan detail perihal kisah-kisah Israiliyat di tengah masyarakat Arab pada masa awal Islam mulai dari definisi hingga sejarahnya.
Definisi dan Perkembangan Israiliyat
Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad bin Muhammad Abu Syahbah, salah satu dosen ilmu Al-Qur’an dan hadits yang pernah mengajar di Al-Azhar Mesir, menjelaskan bahwa kisah-kisah Israiliyat pada dasarnya adalah cerita yang berasal dari kalangan Bani Israil yang mereka warisi dari para ulama serta kitab-kitab mereka.
Namun dalam perkembangan selanjutnya, istilah Israiliyat tidak lagi hanya merujuk pada cerita yang beredar di kalangan Bani Israil, tetapi juga digunakan untuk menyebut berbagai kisah dan pengetahuan Ahlul Kitab yang ikut masuk dan diceritakan dalam khazanah Islam, termasuk yang dinukil dalam sebagian riwayat hadits. Simak penjelasan berikut ini:
الإِسْرَائِيلِيَّاتُ هِيَ أَقَاوِيلُ بَنِي إِسْرَائِيلَ الَّتِي تَلَقَّوْهَا عَنْ عُلَمَائِهِمْ وَكُتُبِهِمْ، وَقَدْ تُوُسِّعَ فِيهَا فَأَصْبَحَتْ تُطْلَقُ عَلَى مَا دَخَلَ الْحَدِيثَ مِنْ مَعَارِفِ أَهْلِ الْكِتَابِ
Artinya, “Israiliyat adalah perkataan-perkataan Bani Israil yang mereka terima dari para ulama dan kitab-kitab mereka. Pengertian ini kemudian diperluas sehingga mencakup segala pengetahuan dari Ahli Kitab yang masuk ke dalam riwayat hadits.” (al-Wasith fi ‘Ulumi wa Musthalahil Hadits, [Jeddah: Alamul Ma’rifah, t.t], halaman 325).
Mengutip penjelasan Manna Khalil al-Qaththan, salah satu penyebab masuknya kisah-kisah Israiliyat dalam teks-teks Islam adalah karena Al-Qur’an memuat banyak kisah yang juga terdapat dalam Taurat dan Injil, terutama yang berkaitan dengan kisah para nabi dan umat terdahulu. Namun Al-Qur’an menyajikan kisah-kisah tersebut secara ringkas tanpa merinci dengan detail-detail. Sementara itu, Taurat dan Injil memberikan penjelasan yang lebih detail tentang mereka.
Ketika para ahli kitab masuk Islam, tidak serta-merta meninggalkan seluruh khazanah pengetahuan agamanya, tetapi membawa serta budaya dan informasi detail dari tradisi sebelumnya. Dan saat mendengar kisah-kisah dalam Al-Qur’an yang disampaikan secara global, mereka secara alami cenderung memberikan penjelasan dengan detail yang mereka ketahui dari sumber lamanya. Simak penjelasan berikut ini:
وَحَيْثُ دَخَلَ أَهْلُ الْكِتَابِ فِي الْإِسْلَامِ فَقَدْ حَمَلُوا مَعَهُمْ ثَقَافَتَهُمُ الدِّينِيَّةَ مِنَ الْأَخْبَارِ وَالْقَصَصِ الدِّينِيِّ، وَهَؤُلَاءِ حِينَ يَقْرَءُونَ قَصَصَ الْقُرْآنِ قَدْ يَتَعَرَّضُونَ لِذِكْرِ التَّفْصِيلَاتِ الْوَارِدَةِ فِي كُتُبِهِمْ
Artinya, “Dan ketika ahlul kitab masuk Islam, mereka membawa serta budaya agama mereka berupa berita-berita dan kisah-kisah keagamaan. Orang-orang ini ketika membaca kisah-kisah Al-Qur’an, terkadang menyebutkan detail-detail yang terdapat dalam kitab-kitab mereka.” (Mabahits fi ‘Ulumil Qur’an, [Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 2000 M], halaman 365).
Lebih lanjut, Manna Khalil al-Qaththan menjelaskan bahwa pada mulanya para sahabat sangat berhati-hati terhadap apa yang disampaikan oleh para ahli kitab tersebut. Mereka tidak terburu-buru untuk membenarkan atau menolak informasi yang disampaikan, karena khawatir informasi tersebut telah mengalami distorsi atau perubahan dari aslinya.
Namun seiring berjalannya waktu dan semakin seringnya interaksi antara para sahabat dengan para ahli kitab yang telah masuk Islam, sebagian sahabat mulai menerima informasi yang mereka sampaikan, selama informasi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah Islam.
Kemudian seiring berjalannya waktu dan banyaknya ahli kitab yang masuk Islam, kisah-kisah Israiliyat pun semakin banyak masuk ke dalam penafsiran Al-Qur’an. Hal ini karena para ahli kitab tersebut masih memiliki banyak pengetahuan tentang kisah-kisah masa lalu yang tidak berkaitan dengan hukum-hukum syariat, seperti kisah penciptaan alam semesta, asal-usul makhluk, dan berbagai kisah lainnya.
Dan masyarakat pada umumnya cenderung menyukai detail-detail tentang peristiwa-peristiwa Yahudi atau Nasrani yang disinggung dalam Al-Qur’an. Akibatnya, para ulama setelah masa sahabat menjadi lebih longgar dan memasukkan banyak kisah Israiliyat ke dalam tafsir tanpa melakukan penelitian dan kritik yang memadai.
Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Dr. Muhammad Husain ad-Dzahabi, ia mengatakan:
دَخَلَ فِي التَّفْسِيرِ كَثِيرٌ مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ، وَذَلِكَ كَثْرَةُ مَنْ دَخَلَ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ فِي الْإِسْلَامِ، وَكَانَ لَا يَزَالُ عالقاً بِأَذْهَانِهِمْ مِنَ الْأَخْبَارِ وَكَثِيرٍ مِنَ الْقَصَصِ. وَكَانَتِ النُّفُوسُ مَيَّالَةً لِسَمَاعِ التَّفَاصِيلِ عَمَّا يُشِيرُ إِلَيْهِ الْقُرْآنُ مِنْ أَحْدَاثٍ يَهُودِيَّةٍ أَوْ نَصْرَانِيَّةٍ، فَتَسَاهَلَ التَّابِعُونَ فَزَجُّوا فِي التَّفْسِيرِ بِكَثِيرٍ مِنَ الْإِسْرَائِيلِيَّاتِ وَالنَّصْرَانِيَّاتِ بِدُونِ تَحَرٍّ وَنَقْدٍ
Artinya, “Banyak kisah Israiliyat masuk ke dalam tafsir, hal itu disebabkan banyaknya orang ahli kitab yang masuk Islam, dan masih melekat di benak mereka berita-berita dan banyak kisah. Jiwa-jiwa pun cenderung untuk mendengar detail tentang peristiwa-peristiwa Yahudi atau Nasrani yang disinggung oleh Al-Qur’an. Maka para Tabiin bermudah-mudahan dan memasukkan ke dalam tafsir banyak kisah Israiliyat dan Nasraniyat tanpa penelitian dan kritik.” (At-Tafsir wal Mufassirun, [Kairo: Maktabah Wahbah, t.t], jilid III, halaman 13).
Dengan demikian, keberadaan kisah-kisah Israiliyat di tengah masyarakat Arab pada awal Islam mengalami dinamika yang sangat kompleks, mulai dari sekadar cerita lisan ke lisan yang beredar di kalangan Arab pra-Islam, hingga berubah menjadi materi semi-ilmiah yang meresap ke dalam penjelasan (tafsir) kitab suci.
Namun demikian, pembahasan tentang masuk dan berkembangnya kisah-kisah Israiliyat dalam khazanah Islam akan terasa kurang utuh apabila tidak disertai dengan penjelasan mengenai tokoh-tokoh kunci yang menjadi perantara utama tersebarnya kisah-kisah tersebut. Maka dalam hal ini, penulis akan menjelaskan siapa saja sosok yang terlibat di dalamnya.
Tokoh di Balik Tersebarnya Kisah Israiliyat
Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Dr. Muhammad Husain ad-Dzahabi, setidaknya ada empat tokoh utama di balik tersebarnya kisah-kisah Israiliyat, mereka adalah (1) Abdullah bin Salam; (2) Ka’bul Ahbar; (3) Wahab bin Munabbih; dan (4) Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij. Simak penjelasannya berikut ini:
وَأَكْثَرُ مَنْ رُوِيَ عَنْهُ فِي ذَلِكَ مِنْ مُسْلِمِي أَهْلِ الْكِتَابِ: عَبْدُ اللهِ بْنُ سَلَام، وَكَعْبُ الْأَحْبَارِ، وَوَهْبُ بْنُ مُنَبِّه، وَعَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ جُرَيْج
Artinya, “Dan yang paling banyak diriwayatkan darinya dalam hal itu dari kalangan muslim ahli kitab adalah Abdullah bin Salam, Ka’bul Ahbar, Wahab bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij.” (At-Tafsir wal Mufassirun, [Kairo: Maktabah Wahbah, t.t], jilid III, halaman 13).
Sebagaimana dicatat oleh Imam Syamsuddin ad-Dzahabi (wafat 748 H), Abdullah bin Salam merupakan seorang ulama orang Yahudi yang paham betul terhadap ajaran kitab sucinya. Ia masuk Islam ketika Rasulullah melakukan hijrah ke Madinah setelah Nabi berhasil menjawab tiga pertanyaannya, di mana ketiga pertanyaan tersebut tidak akan ada yang bisa menjawab kecuali seorang Nabi.
Ia bertanya tentang tanda pertama datangnya hari kiamat, makanan pertama yang akan dimakan oleh penghuni surga, dan sebab kemiripan seorang anak dengan ayah atau ibunya. Nabi menjawab bahwa tanda awal kiamat adalah keluarnya api dari arah timur yang menggiring manusia ke barat, makanan pertama penghuni surga adalah bagian hati ikan; dan kemiripan anak ditentukan oleh air siapa yang lebih dahulu mendahului, apakah dari ayah atau dari ibu.
Jawaban-jawaban inilah yang kemudian meyakinkan Abdullah bin Salam bahwa Muhammad benar-benar seorang nabi, sekaligus menunjukkan bagaimana pengetahuan seorang ahli kitab tentang isu-isu eskatologis dan penciptaan makhluk. (Siyar A’lamin Nubala, [Beirut: Muassasah ar-Risalah, t.t], jilid II, halaman 415).
Adapun Ka’bul Ahbar adalah seorang ulama besar Yahudi yang berasal dari kalangan Bani Himyar, Yaman, yang masuk Islam setelah wafatnya Rasulullah. Ia datang ke Madinah dari Yaman pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, lalu bergaul dengan para sahabat. Dalam pergaulan itu ia kerap menyampaikan kisah-kisah yang bersumber dari kitab-kitab Bani Israil, sekaligus belajar dan meriwayatkan ajaran Islam dari para sahabat. (Siyar A’lamin Nubala, III/489).
Sedangkan Wahab bin Munabbih merupakan seorang tabiin yang berasal dari daerah Shan’a Yaman, yang lahir di masa khalifah Utsman bin Affan. Riwayat haditsnya dalam kitab-kitab musnad memang tidak banyak, namun keluasan ilmunya sangat menonjol dalam bidang kisah-kisah Israiliyat dan berita-berita yang bersumber dari lembaran-lembaran ahli kitab. Dan begitu juga dengan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, ia juga merupakan seorang ulama yang menonjol dalam bidang kisah-kisah Israiliyat. (Siyaru A’lamin Nubala, IV/544).
Pembagian dan Contoh Kisah Israiliyat
Mengutip penjelasan Syekh Abu Syuhbah, ia menjelaskan bahwa riwayat-riwayat Israiliyat dalam kitab-kitab tafsir dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori. Pertama, kisah Israiliyat yang dapat dipastikan kebenarannya karena substansinya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an serta hadits Nabi. Contohnya adalah kisah Nabi Musa ketika hendak menimba ilmu kepada Nabi Khidir. Riwayat semacam ini dibolehkan untuk disampaikan dan diceritakan.
Kedua, kisah Israiliyat yang jelas-jelas terbukti keliru karena kandungannya bertentangan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an dan hadits, terutama riwayat yang menisbatkan kekurangan atau cela kepada para Nabi hingga merusak konsep ishmah (keterjagaan dari dosa dan aib). Salah satu contohnya ialah kisah tentang penyakit yang dialami oleh Nabi Ayyub yang tidak berdasar.
Dalam kisahnya, Nabi Ayyub diceritakan sebagai sosok yang menderita sakit dalam waktu yang sangat lama, hingga belatung-belatung keluar dan berserakan dari tubuhnya, serta dagingnya hancur. Menyampaikan riwayat jenis ini hukumnya terlarang, kecuali jika disertai penjelasan yang tegas tentang kepalsuannya, dengan tujuan meluruskan pemahaman masyarakat bahwa kisah tersebut tidak dapat dibenarkan.
Ketiga, kisah Israiliyat yang status kebenarannya tidak dapat dipastikan, apakah benar atau salah. Terhadap riwayat semacam ini, sikap yang tepat adalah tidak membenarkan dan tidak pula mendustakannya, karena masing-masing masih mengandung kemungkinan. Riwayat ini pada dasarnya boleh disebutkan, meskipun sikap yang lebih hati-hati adalah tidak menyebarkannya. (Abu Syuhbah, al-Israiliyat wal Maudlu’at fi Kutubit Tafsir, [Maktabah Darussunnah, t.t], jilid I, halaman 135).
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa posisi kisah-kisah Israiliyat di tengah masyarakat Arab pada masa awal Islam bersifat dinamis, kompleks, dan mengalami perkembangan. Pada awalnya, kisah-kisah ini hidup sebagai bagian dari kisah lisan masyarakat Arab pra-Islam.
Kemudian kedatangan Islam dengan Al-Qur’an yang menyajikan kisah serupa secara ringkas, justru memicu keingintahuan mendalam dari para sahabat untuk menggali detailnya. Maka melalui interaksi dengan mantan ahli kitab yang masuk Islam seperti Abdullah bin Salam dan Ka’bul Ahbar, kisah-kisah Israiliyat mulai meresap ke dalam perjalanan keilmuan Islam.
Namun, proses ini tidak berjalan bebas tanpa filter. Karena para sahabat menerapkan sikap kritis untuk tidak membenarkan dan tidak mendustakan secara serampangan, mereka hanya menerima yang sejalan dengan akidah Islam dan menolak yang bertentangan dengannya. Wallahu a’lam bisshawab.
Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
