Allah SWT menjadikan setiap perintah-Nya sebagai ujian kepada hamba-hamba-Nya, apakah mereka benar-benar beriman atau atau hanya sekadar di mulut belaka, terutama saat masa awal-awal Islam datang. Perintah yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW benar-benar menjadi ujian saat keimanan baru masuk ke sanubari pemeluk agama Islam.
Salah satu perintah-Nya adalah saat memerintah Kanjeng Nabi Muhammad SAW dan umatnya untuk menghadap Baitul Maqdis ketika shalat yang sebelumnya menghadap Ka'bah. Lalu setelah itu Allah SWT memerintah kembali menghadap Ka'bah. Di sinilah titik ujiannya.
Akhirnya, saat Nabi SAW diperintah kembali menghadap kiblat pertama, Ka'bah, terbukti banyak dari kalangan Muslimin saat itu yang murtad, kembali ke agama Yahudinya, karena beranggapan bahwa Nabi SAW kebingungan dalam menentukan arah Kiblat. Yang awalnya kiblatnya adalah Ka'bah, lalu pindah ke Baitul Maqdis, dan pindah lagi ke Ka'bah. Padahal, hal tersebut sama sekali bukan sebuah kebingungan, tapi sebuah ujian (Nuzulu Kiramidh Dhifan fi Sahati Hada‘iqur Rauhi war Raihan, [Beirut: Daru Thauqin Najah, 2001], jilid III, hal. 12-13).
Penjelasan di atas adalah ringkasan uraian Syekh Muhammad Amin dalam tafsirnya saat menafsirkan Surat Al-Baqarah ayat 143 berikut:
وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِيْ كُنْتَ عَلَيْهَآ اِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَّتَّبِعُ الرَّسُوْلَ مِمَّنْ يَّنْقَلِبُ عَلٰى عَقِبَيْهِۗ وَاِنْ كَانَتْ لَكَبِيْرَةً اِلَّا عَلَى الَّذِيْنَ هَدَى اللّٰهُۗ وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيْعَ اِيْمَانَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Kami tidak menetapkan kiblat (Baitulmaqdis) yang (dahulu) kamu berkiblat kepadanya, kecuali agar Kami mengetahui (dalam kenyataan) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sesungguhnya (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (QS. Al-Baqarah [2]: 143).
Lebih jauh lagi, kenapa pada akhirnya Allah SWT memerintah kembali menghadap ke Ka'bah, selain sebagai ujian? Jawabannya ada pada ayat berikutnya. Allah berfirman:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَاۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan,” (QS. Al-Baqarah [2]: 144).
Dalam tafsirnya, Imam Baghawi menjelaskan bahwa ayat ini walaupun secara bacaan/urutan lebih akhir dari ayat sebelumnya, tapi secara makna ayat ini terdahulu dan merupakan pokok dari kisah soal perpindahan kiblat. Mari simak uraian berikut:
هَذِهِ الْآيَةُ وَإِنْ كَانَتْ مُتَأَخِّرَةً فِي التِّلَاوَةِ فَهِيَ مُتَقَدِّمَةٌ فِي الْمَعْنَى فَإِنَّهَا رَأْسُ الْقِصَّةِ
Artinya: “Walaupun secara bacaan ayat ini lebih akhir (dari ayat sebelumnya), tapi secara makna lebih dulu, dan merupakan pokok dari kisah (perpindahan kiblat),” (Abu Muhammad Baghawi, Tafsirul Baghawi, [Riyadh: Dar Thaibah, 1997], jilid I, hal. 171).
Historis Perpindahan Kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah
Imam At-Thabari, dalam Tarikhul Rusul wal Muluk, memaparkan bahwa peristiwa perpindahan kiblat kedua, dari Baitul Maqdis ke Ka'bah, terjadi pada pertengahan bulan Sya'ban pada tahun kedua setelah Nabi SAW hijrah ke Madinah al-Munawwarah. Kata beliau, meskipun terjadi perbedaan ulama salaf dalam menentukan kapan peristiwa itu terjadi, tapi inilah pendapat mayoritas ulama tentang kapan terjadinya peristiwa perpindahan kiblat tersebut.
واختلف السلف من العلماء في الوقت الذي صرفت فيه من هذه السنة، فقال بعضهم- وهم الجمهور الأعظم: صرفت في النصف من شعبان على رأس ثمانية عشر شهرا من مقدم رسول الله ص المدينة
Artinya, “Ulama Salaf berbeda pendapat terkait perpindahan kiblat di tahun ini (tahun kedua hijrah). Sebagian ulama mengatakan, mereka merupakan jumhurul ulama, perpindahan kiblat terjadi di pertengahan bulan Sy'aban setelah genap 18 bulan dari kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah,” (Imam At-Thabari, Tarikhul Rusul wal Muluk, [Beirut: Darut Turats, 1387 H], jilid II, hal. 415).
Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, saat Rasulullah SAW masih berada di Mekkah sebelum hijrah, beliau melaksanakan shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, sementara Ka'bah berada di depan beliau.
Namun setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak lagi memungkinkan. Ketika shalat, Rasulullah SAW menghadap ke Baitul Maqdis dan posisi Ka'bah berada di belakang beliau. Keadaan ini berlangsung selama sekitar 16 atau 17 bulan. (Al-Bidayah wan-Nihayah, [Beirut: Darul Fiqr, 1986], jilid III, hal. 252-254).
Saat itu, beliau berharap dan senang kiblatnya dipindahkan ke Ka'bah kembali, kiblatnya Nabi Ibrahim AS. Beliau banyak berdoa, memohon kepada Allah SWT saraya mengangkat tangan dan melihat ke langit. Akhirnya, Allah SWT menurunkan Surat Al-Baqarah ayat 144, “Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam”.
Lalu, setelah perintah perpindahan kiblat turun, beliau berkhutbah dan mengumumkannya. Khutbah ini terjadi pada waktu Dhuhur. Dan shalat pertama Nabi SAW menghadap ke Ka'bah di Madinah adalah shalat Asar. Jadi, waktu Dhuhur diumumkan, Asar langsung dilaksanakan.
Pandangan Masyarakat Awal Islam soal Perpindahan Kiblat
Masih dalam kitab Al-Bidayah wan-Nihayah, setelah perpindahan peristiwa kiblat tersebut dan masyarakat telah mengetahui bahwa shalat menghadap ke Baitul Maqdis telah diganti menghadap ke Ka'bah, maka setidaknya pandangan masyarakat saat itu terbagi dua. Pertama, masyarakat yang tetap kokoh dengan keimanannya dan tetap mengikuti Nabi SAW.
Kedua, masyarakat yang mempertanyakan, mencela dan bahkan memfitnah, sampai-sampai didokumentasikan dalam Al-Qur'an, mereka bertanya, “apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?”
وَالْمَقْصُودُ أَنَّهُ لَمَّا نَزَلَ تَحْوِيلُ الْقِبْلَةِ إِلَى الْكَعْبَةِ وَنَسَخَ بِهِ اللَّهُ تَعَالَى حُكْمَ الصَّلَاةِ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ طعن طاعنون من السفهاء والجهلة والأغبياء قالوا ما ولا هم عن قبلتهم التي كانوا عليها
Artinya: “Yang dimaksud adalah bahwa ketika turun ayat tentang perpindahan kiblat ke Ka'bah dan Allah Ta'ala menusakh hukkum shalat menghadap ke Baitul Maqdis, maka para orang-orang yang kurang akal mengumpat dengan nada bertanya, apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?,” (Ibnu Katsir, jilid III/hal. 254).
Dan akhirnya, Allah menjawabnya dengan menurunkan ayat:
۞ سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَاۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Artinya: "Orang-orang yang kurang akal di antara manusia akan berkata, “Apakah yang memalingkan mereka (kaum muslim) dari kiblat yang dahulu mereka (berkiblat) kepadanya?” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Milik Allahlah timur dan barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk),” (QS. Al-Baqarah [2]: 142).
Dialog Nabi dengan Malaikat Jibril
Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam tafsirnya memotret dialog antara Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril soal harapan Nabi supaya kiblat kembali ke Ka'bah. Rasulullah SAW bersabda:
يَا جِبْرِيلُ وَدِدْتُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى صَرَفَنِي عَنْ قِبْلَةِ الْيَهُودِ إِلَى غَيْرِهَا فَقَدْ كَرِهْتُهَا
Artinya: “Wahai Jibril! Saya berharap bahwa Allah Ta'ala memalingkan (memindah) saya dari kiblatnya kaum Yahudi (Baitul Maqdis) ke kiblat yang lain (Ka'bah), sungguh saya tidak senang menghadap ke kiblatnya kaum Yahudi.”
Lalu malaikat Jibril menjawab dengan kalimat berikut:
أَنَا عَبْدٌ مِثْلُكَ فَاسْأَلْ رَبَّكَ ذَلِكَ
Artinya: “Saya hamba (Allah Ta'ala), sama sepertimu. Maka mintalah kepada Tuhanmu perihal harapanmu itu.”
Setelah dialog tersebut, lalu Imam Baghawi menggambarkan seperti apa keadaan Rasulullah SAW saat menunggu harapan yang disampaikan kepada Malaikat Jibril itu. Berikut redaksinya:
فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُدِيمُ النَّظَرَ إِلَى السَّمَاءِ رَجَاءَ مَجِيءِ جِبْرِيلَ بِمَا سَأَلَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ
Artinya: “Maka Rasulullah SAW mendawamkan pandangannya ke langit berharap datangnya malaikat Jibril dengan membawa kabar tentang permohonan beliau. Maka Allah Ta'ala menurunkan ayat ini (QS. Al-Baqarah [2]: 144).” (Imam Fakhruddin Ar-Razi, Mafatihul Ghaits, [Beirut: Daru Ihya'it Turats Al-Arabi, 1420], jilid IV, hal. 94).
Demikianlah historis perpindahan kiblat dalam tubuh Islam, dialog Nabi Muhammad SAW dengan malaikat Jibril soal harapan Nabi supaya kiblat kembali ke Ka'bah, dan pandangan masyarakat Madinah pada masa itu.
Dari peristiwa perpindahan kiblat ini, kita bisa memetik poin penting bahwa hal tersebut tidak hanya soal harapan Kanjeng Nabi SAW yang menjadi kenyataan, tapi juga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita bahwa dalam masa transisi kehidupan, terutama yang berkaitan dengan keimanan dan perintah Tuhan, merupakan masa-masa ujian. Dalam masa itu, kita perlu menyadari betapa pentingnya kesabaran dalam menjalaninya.
Lalu, saat kita sudah lulus dari ujian tersebut, Allah SWT yang akan memberi sebuah balasan kebaikan berupa mewujudkan impian yang kita harapkan, sebagaimana Rasulullah SAW mendapatkan impiannya, kembali menghadap kiblat impiannya yaitu Ka'bah setelah 16/17 bulan melaksanakan perintah-Nya untuk menghadap ke Baitul Maqdis.
Sebaliknya, orang-orang merespon peristiwa perpindahan kiblat tersebut sebuah kebingungan Nabi SAW dan kembali kepercayaan Yahudinya (murtad), mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali kerugian dunia-akhirat. Wallahu a'lam.
Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.
