Internasional

Badai Pasir Landa Madinah, Hujan Petir Disertai Es Diprediksi Berlanjut di Thaif hingga Awal September

NU Online  ·  Senin, 31 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Badai Pasir Landa Madinah, Hujan Petir Disertai Es Diprediksi Berlanjut di Thaif hingga Awal September

Aliran air akibat hujan Provinsi Madinah pada akhir Agustus 2026 (Tangkapan layar Arab News)

Jakarta, NU Online

Badai pasir menerjang Kota Madinah pada Selasa (25/8/2026). Cuaca tidak stabil tersebut juga sempat berdampak pada aktivitas warga di Madinah. 

 

Aab News melaporkan bahwa hujan ringan hingga sedang turun di sejumlah wilayah Provinsi Madinah pada akhir Agustus 2026, hingga sempat mengubah sebagian kawasan gurun di sekitar kota menjadi aliran air. 

 

Fenomena tersebut turut menarik perhatian sejumlah warga yang mengunjungi kawasan tersebut untuk menyaksikan perubahan lanskap gurun akibat hujan yang cukup deras.

 

Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi (National Center for Meteorology/NCM) memperkirakan hujan petir masih akan terus mengguyur sejumlah wilayah Kerajaan Arab Saudi, termasuk Thaif di Provinsi Makkah dan sebagian wilayah Provinsi Madinah, hingga awal September 2026.

 

NCM memperingatkan potensi angin pembawa debu yang berpotensi menurunkan jarak pandang hingga mendekati nol di sejumlah wilayah, termasuk Madinah, menjelang akhir Agustus 2026. Selain Madinah, kondisi berdebu serupa turut memengaruhi wilayah Riyadh, Provinsi Timur, Qassim, dan Tabuk. Otoritas keselamatan jalan raya serta Saudi Highway Security mengimbau pengendara untuk berhati-hati akibat jarak pandang yang menurun karena badai debu tersebut.

 

Majed Al-Sahoubi, seorang spesialis astronomi dan hubungan antara bintang, musim, dan cuaca, mengatakan kepada Arab News bahwa penampakan bintang Suhail (bintang Canopus) bervariasi di seluruh Arab Saudi tergantung lokasi.

 

“Virus ini muncul di Jazan di selatan Kerajaan sekitar tanggal 7 Agustus, di Arab Saudi bagian tengah sekitar tanggal 24 Agustus, dan di bagian paling utara antara sekitar tanggal 7 dan 10 September,” ujarnya.

 

Ia mengatakan bahwa awal musim Suhail tidak jatuh pada tanggal yang tetap. 

 

“Bangsa Arab telah mengenal dan menghargai Suhail sejak zaman dahulu, tetapi kemunculannya tidak memiliki hubungan langsung dengan curah hujan. Sebaliknya, hal itu dikaitkan dengan membaiknya kondisi cuaca. Hubungan ini bersifat indikatif, bukan kausal. Suhail adalah pertanda bahwa kondisi mulai membaik, tetapi bintang itu sendiri tidak memengaruhi atau mengubah cuaca," jelasnya.

 

Al-Sahoubi mengatakan bahwa curah hujan selama periode ini umumnya tidak teratur, terutama di wilayah Arab tengah dan daerah gurun, sementara cenderung lebih konsisten di daerah selatan seperti Abha dan Al-Baha.

 

“Di daerah gurun, curah hujan pada waktu ini biasanya tidak teratur, sementara periode hujan yang lebih konsisten dimulai sekitar tanggal 16 Oktober, insya Allah," pungkasnya.

 

Selain Madinah, Kota Thaif juga diguyur hujan deras yang menyebabkan banjir air bah melanda. Melansir laporan resmi NCM yang dipublikasikan melalui situs resminya situs resmi, pada Ahad (30/8/2026), hujan dengan intensitas sedang diperkirakan mengguyur Thaif sepanjang periode Senin hingga Jumat, 31 Agustus 2026- 4 September 2026.

 

Sementara itu, tiga wilayah di Provinsi Madinah, yakni Maisan, Adham, dan Al Aradhiyat, diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat dalam rentang waktu yang sama.

 

NCM menyebut hujan petir juga akan melanda wilayah lain di Arab Saudi. Di Provinsi Jazan, sejumlah kabupaten seperti Al Rayth, Harub, Ad Dayer, Al Idabi, Fifa, Al Aridhah, Al Harth, At Tuwal, Ad Darb, Baish, Sabya, Dhamad, Abu Arish, dan Ahad Al Masarihah diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat, dengan intensitas meningkat khusus pada Rabu (2/9/2026). Kabupaten Jizan dan Farasan turut diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat pada periode yang sama.

 

Di Provinsi Asir, kabupaten Abha, Khamis Mushait, Ahad Rufaidah, Sarat Abidah, Al Harajah, Dhahran Al Janub, Al Farshah, An Nimas, Tanumah, Rijal Almaa, Barak, Muhayil Asir, Al Majaridah, dan Balqarn diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat, dengan intensitas juga meningkat pada Rabu. Sementara di Provinsi Al Baha, kabupaten Qilwah, Bani Hasan, Al Qura, Al Makhwah, Al Hajrah, Ghamid Az Zinad, Al Baha, Biljurashi, Al Mandaq, dan Al Aqiq diperkirakan mengalami hujan sedang hingga lebat sepanjang periode yang sama. Adapun Provinsi Najran, mencakup kabupaten Najran, Badr Al Janub, Habuna, dan Thar, diperkirakan mengalami hujan ringan hingga sedang.

 

Dalam laporannya, NCM menjelaskan klasifikasi intensitas hujan beserta potensi dampaknya. Hujan ringan, dengan curah 1-4 milimeter per jam, berpotensi disertai angin turun (downdraft) yang membawa debu dan pasir dengan kecepatan hingga 50 kilometer per jam. Hujan sedang, dengan curah 5-9 milimeter per jam, berpotensi disertai angin hingga 60 kilometer per jam, aliran banjir bandang, hujan es, serta kenaikan gelombang di kawasan pesisir. Adapun hujan lebat, dengan curah 10-50 milimeter per jam atau lebih, berpotensi memicu dampak serupa dengan intensitas lebih tinggi, termasuk kemungkinan terbentuknya angin puting beliung atau waterspout di kawasan pesisir.

 

Perkiraan ini muncul menyusul serangkaian cuaca ekstrem yang telah melanda Makkah dan Madinah pada pekan sebelumnya. Melansir Anandoul Agency, NCM sempat mengeluarkan peringatan merah pada Rabu (26/8/2026) untuk potensi hujan lebat di sebagian wilayah Provinsi Makkah. Peringatan merah merupakan level tertinggi yang dikeluarkan otoritas cuaca Arab Saudi, hanya diterbitkan saat kondisi cuaca membutuhkan kewaspadaan maksimal. Pertahanan Sipil Arab Saudi turut mengimbau warga untuk berhati-hati selama hujan berlangsung serta menjauhi kawasan tergenang air, dasar lembah, dan bendungan demi keselamatan.

 

Sehari setelah peringatan tersebut, cuaca ekstrem sempat berdampak pada Kota Makkah. Al Aarabiya melaprokan, sambaran petir menghantam Menara Jam Makkah atau Abraj Al-Bait pada Kamis (27/8/2026). Kejadian tersebut terekam dalam video yang memperlihatkan kilatan petir menyambar menara ikonik yang berdiri tidak jauh dari Masjidil Haram itu di tengah cuaca badai. Hingga saat ini belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan signifikan akibat sambaran petir tersebut.

 

Dengan perkiraan hujan yang masih akan berlanjut hingga awal September, NCM mengimbau masyarakat, termasuk jamaah umrah yang berada di Makkah maupun Madinah, untuk terus mengikuti pembaruan resmi yang diterbitkan melalui laman peringatan dini di situs resmi NCM, aplikasi Anwaa, serta akun media sosial resmi lembaga tersebut.