Internasional

Gencatan Senjata Berakhir, Iran Tegaskan Selat Hormuz bagian dari Teritorinya

NU Online  ·  Selasa, 14 Juli 2026 | 10:00 WIB

Gencatan Senjata Berakhir, Iran Tegaskan Selat Hormuz bagian dari Teritorinya

Ilustrasi Iran Amerika Serikat. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menyatakan setuju dengan logika berpikir Trump bahwa pihak yang mengamankan jalur pelayaran Selat Hormuz memang berhak mendapatkan kompensasi finansial atas layanan tersebut. 


Namun, Araghchi membalikkan argumen Trump dengan menegaskan bahwa penjaga Selat Hormuz yang sesungguhnya secara historis dan hukum adalah Iran, bukan Amerika Serikat. Araghchi lantas mengkritik nominal tarif kompensasi 20 persen yang diajukan Trump terlalu mahal.


"Iran selalu menjadi PENJAGA Selat tersebut dan akan tetap begitu SELAMANYA. 20 persen tentu saja terlalu banyak. Kami akan adil," katanya sebagaimana dikutip dari akun X-nya pada Selasa (14/7/2026).


Sementara, pada Senin (13/7/2026), Juru bicara Markas Besar Khatam al-Anbiya Ebrahim Zolfaqari menegaskan bahwa Iran tidak akan pernah mengizinkan Amerika Serikat untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz.


"Dalam keadaan apa pun, kami tidak akan mengizinkan Amerika Serikat untuk ikut campur dalam pengelolaan Selat Hormuz, dan kami tidak akan melakukannya di masa mendatang,” kata Zolfaqari, dikutip dari Kantor Berita Iran, IRNA News.


Mengenai konsekuensi dari aktivitas angkatan laut AS yang tidak sah di kawasan tersebut, ia mengatakan bahwa Angkatan Bersenjata Iran akan merespons dengan kekuatan.


“Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran akan menindak tegas setiap gangguan atau ketidakamanan yang ditimbulkan terhadap kapal-kapal komersial dan kapal tanker minyak oleh tentara Amerika yang agresif dan bersifat bajak laut yang beroperasi di luar jalur pelayaran yang ditetapkan Iran dan tanpa otorisasi dari Angkatan Bersenjata,” ungkapnya.


Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran telah berakhir. Hal tersebut diungkapkannya setelah beberapa hari kembali terjadi eskalasi antara AS-Iran.


"Republik Islam Iran telah meminta kami untuk melanjutkan "pembicaraan." Kami telah setuju untuk melakukannya, tetapi Amerika Serikat telah menyatakan kepada mereka, secara tegas dan tanpa keraguan, bahwa Gencatan Senjata sudah BERAKHIR! Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini," tulis Trump dalam unggahan di platform Truth Social, dikutip NU Online dari Instagram The White House.


Dalam unggahan selanjutnya, Trump mengatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap terbuka dengan atau tanpa Iran, dan AS akan berperan sebagai Penjaga Selat Hormuz.


"Selat Hormuz TERBUKA, dan akan tetap TERBUKA, dengan atau tanpa Iran. Amerika Serikat, mulai saat ini dan seterusnya, akan dikenal sebagai 'PENJAGA SELAT HORMUZ," tulisnya, dikutip dari akun Instagram The White House.


Selain itu, Trump juga mengumumkan bahwa militer AS memberlakukan kembali blokade maritim terhadap Iran secara penuh di kawasan Selat Hormuz. 


"Kami memberlakukan kembali BLOKADE IRAN, dinamakan demikian karena blokade ini hanya menghentikan kapal-kapal Iran atau para pelanggannya untuk masuk atau keluar. Semua negara lain akan memiliki hak penggunaan Selat yang adil dan terbuka".


Trump menjelaskan bahwa operasi militer yang dilancarkan oleh Angkatan Laut AS tersebut dirancang secara spesifik guna melumpuhkan aktivitas ekonomi Iran tanpa mengganggu stabilitas pelayaran negara-negara lain di jalur strategis tersebut.


Hal tersebut diperkuat dengan adanya pernyataan resmi dari pasukan AS. Melansir laman resmi U.S. Central Command (CENTCOM), pasukan militer AS telah mengumumkan bahwa mereka akan melanjutkan blokade laut terhadap Iran mulai Selasa (14/7/2026) pada pukul 16.00 waktu setempat.


"Atas arahan Panglima Tertinggi, pasukan U.S. Central Command (CENTCOM) akan kembali memblokade lalu lintas laut yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran, mulai 14 Juli pukul 16.00 waktu ET," tulis pengumuman dalam laman resmi CENTCOM.


Pemberlakuan kembali blokade AS terhadap Iran tersebut menyusul pelaksanaan awal yang berlangsung dari 13 April hingga 18 Juni. Pasukan CENTCOM menyatakan bahwa pihaknya bersiap menegakkan kembali blokade terhadap kapal-kapal yang menuju atau meninggalkan wilayah pesisir dan pelabuhan Iran, sementara arus lalu lintas bagi kapal non-pelanggar lainnya dipastikan tetap berjalan lancar. 


Lebih lanjut, terkait kompensasi penjaga selat Hormuz, Trump menyebut AS akan mengenakan biaya sebesar 20 persen dari nilai kargo kepada kapal-kapal asing yang melintas, sebagai bentuk penggantian biaya atas jaminan keamanan yang diberikan.


"Demi keadilan, (AS) akan mendapatkan penggantian biaya, sebesar 20 persen untuk semua kargo yang dikirimkan, atas setiap dan semua biaya yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan dalam memberikan keselamatan dan keamanan di bagian dunia yang sangat bergejolak ini," ungkapnya.


Konflik AS-Iran tahun 2026 bermula sejak 28 Februari, ketika serangan udara AS dan Israel menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Sejak saat itu, kawasan Teluk mengalami rangkaian eskalasi dan gencatan senjata yang berulang kali retak, termasuk saat nota kesepahaman (MoU) ditandatangani pada 17-18 Juni yang sempat meredakan ketegangan dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.


Namun, serangan terhadap kapal-kapal komersial di selat tersebut awal Juli memicu tanggapan keras dari Washington, yang menuduh Iran melanggar kesepakatan, sementara Iran menyatakan telah menutup Selat Hormuz dan menuding AS menekan upaya mediasi Oman.


Eskalasi kembali memanas mulai 8 Juli, ketika AS melancarkan gelombang serangan udara terhadap sasaran militer Iran yang dianggap sebagai serangan terbesar sejak kedua pihak pertama kali menyepakati gencatan senjata pada April 2026. Iran kemudian membalas lewat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang mengklaim menyerang aset-aset AS di Kuwait, Bahrain, dan Oman menyusul pengeboman terbaru AS di kawasan tersebut.