Internasional

Krisis Uang Kecil di Gaza Jadikan Roti Sulit Diakses, Rakyat Palestina Terancam Semakin Kelaparan

NU Online  ·  Senin, 30 Maret 2026 | 13:00 WIB

Krisis Uang Kecil di Gaza Jadikan Roti Sulit Diakses, Rakyat Palestina Terancam Semakin Kelaparan

Uang pecahan kecil koin Palestina. (Foto: WAFA)

Gaza, NU Online

Mendapatkan seikat roti di Jalur Gaza kini menjadi hal yang hampir mustahil, bukan karena kekurangan tepung, melainkan akibat krisis uang pecahan kecil yang telah berlangsung sejak awal agresi Israel pada 7 Oktober 2023.


Penutupan perlintasan oleh otoritas Israel menyebabkan terbatasnya masuknya likuiditas uang tunai, termasuk penggantian uang kertas yang rusak, sehingga memicu kelangkaan uang, terutama dalam pecahan kecil.

 

Dilansir WAFA, krisis ini memperparah kondisi kehidupan warga Gaza yang sudah dilanda berbagai kesulitan. Toko roti dan titik distribusi kini mensyaratkan pembayaran menggunakan uang pecahan kecil, membuat banyak warga tidak dapat membeli roti.


Seorang warga, Walid Abu Jiab (40), mengatakan bahwa toko roti menolak melayani pembelian jika tidak menggunakan uang kecil. “Kami tidak memiliki pecahan tersebut, sehingga kami tidak bisa membeli roti, bahkan melalui aplikasi,” ujarnya.


Ia mengaku kerap pulang dengan tangan kosong. “Apa salah anak-anak saya? Di mana saya harus mencari uang kecil? Bukankah penderitaan akibat perang ini sudah cukup?” katanya.


Warga lain, Samia Halabi (66), menyebut dirinya terpaksa membeli roti dari titik distribusi dengan harga hingga 10 shekel, jauh lebih mahal dibanding harga normal sekitar 3 shekel di toko roti.


“Kami butuh solusi nyata. Cucu-cucu saya kadang tidur tanpa roti, dan saya harus meminta dari tetangga,” ujarnya. Halabi kini merawat lima cucu yatim setelah ayah mereka tewas dalam serangan di kamp Nuseirat pada awal agresi.


Metode Baru Kelaparan?

Seorang pedagang, Nahid Shahiber, menilai krisis ini sebagai bentuk baru dari kelaparan yang disengaja.


“Kami bahkan menyimpan uang kecil di malam hari agar bisa membeli roti keesokan harinya. Ini krisis yang harus segera mendapat perhatian,” katanya.


Ia menambahkan bahwa warga tidak memiliki alternatif lain karena sulitnya mendapatkan gas memasak serta mahalnya harga kayu bakar.

 

Ketua Asosiasi Pemilik Toko Roti Gaza, Abdel Nasser Al-Ajrami, menjelaskan bahwa toko roti tidak bertransaksi langsung dengan warga, melainkan melalui titik distribusi yang bekerja sama dengan Program Pangan Dunia.


Menurutnya, kesepakatan pembayaran dilakukan separuh tunai dan separuh melalui aplikasi perbankan, sementara uang tunai digunakan untuk membayar gaji pekerja dan operasional.


Namun, ia menilai titik distribusi menjadi sumber masalah karena mewajibkan pembayaran dalam pecahan kecil. Ia mendesak Program Pangan Dunia untuk mewajibkan penggunaan pembayaran digital guna meringankan beban warga.


Saat ini, hanya sekitar 20 toko roti yang masih beroperasi di seluruh Gaza.


Krisis Diperkirakan Berlanjut

Pakar ekonomi Mohammad Abu Jiab menilai krisis uang kecil ini tidak akan segera berakhir.

 

“Krisis ini hanya bisa diatasi jika sistem pembayaran elektronik diterapkan sepenuhnya, karena kecil kemungkinan Israel mengizinkan masuknya uang tunai dalam jumlah cukup,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi Gaza semakin memburuk, dengan lebih dari 80 persen sektor produktif, industri, pertanian, dan lainnya, terhenti, serta tingkat pengangguran yang melampaui 80 persen.