NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Jateng

Bahtsul Masail Diharap Hadirkan Solusi Nyata bagi Persoalan Umat

NU Online·
Bahtsul Masail Diharap Hadirkan Solusi Nyata bagi Persoalan Umat
Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Muzamil (Foto: Rauyan)
Bagikan:

Pekalongan, NU Online Jateng 

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menggelar Bahtsul Masail pada Ahad (25/1/2026) di Aula PCNU Kabupaten Pekalongan, Jalan Raya Karangdowo Nomor 9, Kedungwuni. Forum keilmuan ini diikuti para kiai, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah, serta utusan Pengurus Cabang NU se-Jawa Tengah untuk membahas berbagai persoalan aktual umat dalam perspektif fiqh dan tradisi keilmuan Islam.

Kegiatan yang berlangsung sejak pagi tersebut dibuka secara resmi oleh Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pekalongan KH Baihaqi Anwar. Dalam sambutannya, Ketua PCNU Kabupaten Pekalongan KH Muslikh Khudlori menegaskan bahwa Bahtsul Masail tidak boleh berhenti pada aspek seremonial, melainkan harus benar-benar menjadi ruang pencarian solusi fiqhiyah dan ilmiah atas persoalan umat.

Dalam konteks sosial kemasyarakatan, Kiai Muslikh menekankan bahwa hasil Bahtsul Masail harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya dalam bidang diniyah, tetapi juga sosial, budaya, hingga kebangsaan. Ia menyinggung kondisi Kabupaten Pekalongan bagian tengah yang saat ini tengah dilanda bencana banjir sebagai contoh kebutuhan kehadiran NU di tengah masyarakat.

“Saat ini Kabupaten Pekalongan bagian tengah sedang dilanda banjir. NU harus hadir di tengah masyarakat dan menjawab kebutuhan masyarakat. PCNU hadir agar warga Nahdliyin mendapatkan solusi,” tegasnya.

Sementara itu, Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Mohammad Muzammil dalam khutbah iftitah menekankan pentingnya kekompakan antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah dalam menjalankan roda organisasi. Menurutnya, Tanfidziyah memiliki peran strategis dalam menyuplai data dan informasi yang valid sebagai dasar pengambilan keputusan organisasi.

“Dalam kegiatan LBM PWNU Jawa Tengah ini dihadirkan syuriyah dan tanfidziyah. Keduanya harus kompak, solid, dan bersama,” ujar Kiai Muzammil.

Ia menjelaskan bahwa dalam struktur kepengurusan NU terdapat unsur mustasyar, syuriyah, a’wan, dan tanfidziyah, serta perangkat organisasi berupa lembaga dan badan otonom. Keberhasilan organisasi, kata dia, sangat ditentukan oleh aktif tidaknya seluruh perangkat tersebut.

Kiai Muzammil juga menandaskan bahwa kondisi PWNU Jawa Tengah saat ini berada dalam keadaan baik. Hal tersebut, menurutnya, pernah disampaikan langsung oleh Ketua Umum PBNU saat berkunjung ke Jawa Tengah. Ia mengingatkan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar, namun persatuan harus tetap diutamakan.

“Kita semua boleh beda pendapat, tapi persatuan harus diutamakan. Jangan sampai mufaroqoh,” katanya.

Ia mengibaratkan organisasi NU seperti sebuah orkestrasi, di mana setiap komponen harus tampil serasi dan padu. Menurutnya, struktur kepengurusan tidak bisa dijadikan ukuran kealiman seseorang.

“Bisa jadi yang di MWC atau PCNU lebih alim daripada yang ada di PWNU. Mari kita niatkan ngaji bersama,” ujarnya.

Dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama’ah, lanjut Kiai Muzammil, manusia dipandang secara utuh sebagai makhluk paling mulia yang dianugerahi akal, hati, dan wahyu. Bahtsul Masail, menurutnya, menjadi ruang pertemuan wahyu, akal, dan hati sehingga solusi yang dihasilkan tidak sekadar hukum formal, tetapi hikmah yang membawa kemaslahatan.

Terkait agenda pembahasan, Bahtsul Masail PWNU Jawa Tengah kali ini mengangkat dua persoalan utama. Pertama, rekontekstualisasi konsep balad dalam kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan. Kedua, persoalan qadla, ijtihad, serta fatwa yang dibatalkan, dengan merujuk pada kitab-kitab kuning sebagai basis tradisi keilmuan pesantren.

“Mohon pemikiran para kiai dengan merujuk kepada kitab-kitab kuning. Tidak menutup kemungkinan muncul as’ilah lain, namun sebaiknya setiap persoalan yang diajukan sudah dibahas terlebih dahulu di tingkat MWC atau PC,” kata Kiai Muzammil.

Selengkapnya klik di sini.

Artikel Terkait

Bahtsul Masail Diharap Hadirkan Solusi Nyata bagi Persoalan Umat | NU Online