Ketua Lesbumi NU Jatim Dorong Sejarah NU Harus Ditempatkan di Tengah, Tak Lagi Terpinggirkan
NU Online · Ahad, 26 Juli 2026 | 15:00 WIB
Mojokerto, NU Online Jatim
Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) Jawa Timur, Riadi Ngasiran, menegaskan bahwa sejarah Nahdlatul Ulama tak bisa dipinggirkan hanya karena penulisan sejarah nasional mengganjilkan dan meminggirkan peran kaum santri serta umat Islam dalam perjuangan bangsa Indonesia.
Penegasan itu disampaikan dalam acara 'Metodologi Riset Penulisan Sejarah' yang digelar Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kota Mojokerto, Jumat (24/07/2026) malam. Kegiatan tersebut dipusatkan di Kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Mojokerto.
"Penulisan sejarah nasional Indonesia lazimnya bersifat objektif dan fair, mempertimbangkan peran-peran umat Islam, khususnya kaum santri, baik dalam pergerakan kemerdekaan, masa revolusi nasional Indonesia, hingga pada eksistensi negara Indonesia," ujar Riadi.
Sejarawan NU ini mengatakan, historiografi nasional Indonesia mempertimbangkan adanya sumber sejarah dan sejarah lisan, memoar para tokoh Nahdlatul Ulama dan pejuang Islam, serta kesaksian mereka.
"Peran umat Islam, khususnya kaum santri dan Nahdlatul Ulama, yang selama ini ditempatkan di pinggiran (peripherial) haruslah digeser ke tengah percaturan peran untuk menghadirkan sejarah nasional secara objektif dan utuh," ucapnya.
Ketua Tim Kerja Monumen Resolusi Jihad NU itu mengingatkan, dokumen dan arsip Nahdlatul Ulama telah menjadi bagian penting dalam Arsip Nasional, bahkan menjadi sumber primer dan utama yang bisa dimanfaatkan untuk penulisan sejarah nasional Indonesia kontemporer.
Di samping itu, Riadi menuturkan bahwa penulisan sejarah Nahdlatul Ulama dalam konstelasi sejarah nasional Indonesia secara utuh dibutuhkan data yang valid, dari sumber primer dan sumber skunder, dengan memanfaatkan penulisan sejarah NU di tingkat lokal.
"Penulisan sejarah NU di tingkat lokal (baik PCNU maupun PWNU), memberikan panorama zaman dan cara pandang dengan pemikiran lateral yang bisa menggambarkan spirit zaman dan suasana yang melatarbelakanginya," tegasnya.
Selengkapnya klik di sini.
Terpopuler
1
Maju Calon Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf Soroti Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Pesantren
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan
3
Khutbah Jumat: Menjaga Kesehatan dengan Berolahraga, Ikhtiar Menjaga Amanah dari Allah
4
Gus Rozin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Bawa Misi Benahi Organisasi
5
Kongres Umat Islam Indonesia Usulkan Pembentukan Danantara Syariah untuk Konsolidasikan Ekonomi Umat
6
Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng dengan Wajah Wartawan hingga LSM
Terkini
Lihat Semua