Jatim

Tradisi Hari Raya Ketupat di Bangkalan, Festival Perahu Hias Jadi Simbol Syukur Warga Pesisir

NU Online  ·  Senin, 30 Maret 2026 | 09:00 WIB

Tradisi Hari Raya Ketupat di Bangkalan, Festival Perahu Hias Jadi Simbol Syukur Warga Pesisir

Festival perahu hias yang menjadi simbol syukur warga Desa Tajungan, Kecamatan Kamal, Bangkalan. (Foto: dok NU Online Jakarta)

Bangkalan, NU Online

Masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Bangkalan memiliki tradisi khas dalam merayakan Hari Raya Ketupat yang berlangsung pada hari ketujuh setelah Idul Fitri atau dikenal dengan sebutan Telasan Pettok atau Telasan Topak pada Sabtu (28/3/2026). Dalam momentum tersebut, warga merayakannya secara serentak sebagai puncak rangkaian Hari Raya Idul Fitri.


Di Desa Tajungan, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, terdapat tradisi unik yang menjadi daya tarik tersendiri, yakni Festival Perahu Hias. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan Hari Raya Ketupat dan rutin digelar setiap tahun.


Dalam festival tersebut, warga menghias perahu dengan berbagai ornamen seperti jajanan tradisional, minuman, tebu, pisang, serta ketupat yang ditata rapi. Perahu-perahu itu kemudian diarak dan berlayar sebagai simbol ungkapan syukur kepada Allah SWT atas limpahan rezeki dari laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.


Salah satu sesepuh Desa Tajungan, Sodik mengatakan, tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan memiliki makna yang mendalam. Menurutnya, tradisi perahu hias ini sudah ada sejak zaman dahulu. Tujuannya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah atas hasil laut yang menghidupi masyarakat, sekaligus mempererat silaturahmi warga agar tetap rukun dan kompak.


Ia menyebut, sebelum festival digelar, masyarakat terlebih dahulu melaksanakan selamatan ketupat di masjid atau mushala setempat. Warga membawa nampan berisi ketupat, lepet, lauk pauk, buah-buahan, hingga kue tradisional sebagai bentuk partisipasi dalam doa bersama.


"Selamatan ini menjadi bagian penting dalam menjaga nilai religius tradisi tersebut. Melalui doa bersama, masyarakat memohon keselamatan serta berharap hasil laut tetap melimpah dan membawa keberkahan,” terangnya.


Ia mengungkapkan, usai selamatan sekitar pukul 06.30 WIB, warga mulai mempersiapkan perahu dan festival pun dimulai. Masyarakat serta pengunjung dapat ikut menaiki perahu untuk meramaikan acara. Festival ini juga dimeriahkan dengan perahu khusus yang membawa ondel-ondel dan alat musik tradisional, serta perahu dengan sound system yang menambah semarak suasana.


“Seiring perkembangan zaman, Festival Perahu Hias tidak hanya diikuti warga setempat, tetapi juga menarik perhatian masyarakat dari luar daerah," ungkapnya.


Tradisi ini menjadi bukti nyata bagaimana masyarakat Desa Tajungan terus menjaga warisan budaya leluhur sekaligus memperkuat nilai kebersamaan, rasa syukur, dan solidaritas sosial dalam kehidupan sehari-hari.