Asap Karhutla Bisa Picu Peradangan Saluran Napas
NU Online · Selasa, 6 Oktober 2026 | 12:00 WIB
Relawan NU membagikan masker ke pengguna jalan di Pontianak Kalbar sebagai respons adanya asap karhutla, September 2026 (NU Peduli)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia tidak hanya berdampak pada lingkungan dan perekonomian masyarakat. Paparan asap dalam jangka waktu lama juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan.
Dokter Spesialis Paru di Siloam Hospital Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dr Faber Kristian Munthe, menyampaikan bahwa kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) selama dua bulan terakhir sangat tinggi. Kondisi tersebut turut dirasakan masyarakat sebagai dampak karhutla.
“Selama dua bulan belakangan ini memang kasus akibat kebakaran hutan dampaknya juga cukup dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya dalam Konferensi Pers Kesaksian Korban Asap Karhutla Gambut dari Indonesia dan Malaysia yang digelar secara daring, Senin (5/10/2026).
“Bukan hanya dari segi ekonomi tapi juga dari segi dampak secara kesehatan khususnya. Saya selama dua bulan ini memang menangani kasus peradangan saluran pernapasan, ISPA itu sangat-sangat tinggi,” lanjutnya.
Menurutnya, asap karhutla tidak hanya mengancam kelompok tertentu, tetapi seluruh lapisan masyarakat. Risiko lebih besar dihadapi anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang telah memiliki penyakit penyerta atau komorbid.
“Dampak kebakaran hutan karena bukan hanya menyerang individu tertentu tapi menyerang semua masyarakat. Kemudian masyarakat yang mempunyai faktor penyakit komorbid yang sudah ada, seperti penyakit asma, penyakit kardiovaskular (jantung) tentunya,” tuturnya.
Faber menjelaskan bahwa asap karhutla mengandung berbagai partikel dan gas yang dapat mengganggu saluran pernapasan apabila terhirup dalam jumlah besar dan dalam waktu lama. Komponen tersebut antara lain sulfur dioksida, karbon monoksida, karbon dioksida, serta partikulat dengan ukuran bervariasi, termasuk PM10, PM5, dan PM2,5.
“Memang banyak sekali partikel-partikel ataupun zat ataupun gas yang dapat berdampak pada saluran napas karena memang bisa menimbulkan efek inflamasi, menimbulkan efek peradangan di salur napas di airway (saluran pernapasan) kita sendiri ketika kita terpapar dalam kondisi ataupun dalam waktu yang lama dan intensitas yang cukup sering,” jelasnya.
Ia mengimbau warga yang berada di wilayah terdampak karhutla untuk mengurangi paparan asap dengan menggunakan masker, menerapkan pola hidup sehat, mencuci tangan, serta mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
“Mencuci tangan, memakai masker, memakan makanan yang sehat dan bergizi, dan kita juga menjaga frekuensi untuk keluar rumah tidak terlalu sering kalau memang tidak dibutuhkan,” pungkasnya.
Terpopuler
1
Prof Ainun Na'im, Guru Besar Akuntansi yang Jadi Bendahara Umum PBNU
2
Innalillahi, Mustasyar PBNU Nyai Machfudhoh Aly Ubaid Wafat
3
Jejak Karier Mohammad Nuh: Dari Menteri hingga Katib Aam PBNU 2026-2031
4
Hari Santri 2026, PBNU Instruksikan Apel Serentak, Layanan Sosial, Ziarah Ulama, hingga Mujahadah Palestina
5
PBNU Terbitkan Pedoman Pelaksanaan Hari Santri 2026
6
Kelas Publik Dekolonisasi Bahas Cara Melepas Pengaruh Kolonial dalam Kehidupan
Terkini
Lihat Semua