Dalam rangka mencetak generasi yang tangguh dan mampu bertahan serta berkembang di era digital, ada 3 hal yang perlu diperkuat oleh orang tua. Hal tersebut adalah ilmu pengetahuan yang akan mempermudah kehidupan, akhlak sebagai kompas moral yang membimbing langkah agar tidak tersesat, dan keterampilan untuk bekal nyata menghadapi tantangan masa depan.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Khutbah Jumat: Generasi Muda dan 3 Penguatan Penting di Era Digital”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ، فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mengawali khutbah Jumat kali ini, tidak bosan-bosannya khatib mengajak kepada jamaah, wabil khusus kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan dan menguatkan ketakwaan kepada Allah swt untuk menjadi bekal kita dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Wujud penguatan ketakwaan ini adalah dengan menguatkan komitmen dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Di antara perintah Allah adalah senantiasa menjaga diri kita dari siksa api neraka sebagaimana ditegaskan dalam surat At-Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Dalam ayat ini kita diingatkan untuk bukan hanya menyelamatkan diri kita dari neraka namun juga keluarga kita, termasuk anak-anak kita. Oleh karena itu penting bagi kita selaku orang tua untuk membekali anak-anak dengan bekal yang baik dan bermanfaat dan menjadikan mereka generasi yang tangguh dalam mengarungi kehidupan.
Kita tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah, terutama dalam menghadapi kehidupan kompleks di era modern saat ini. Kita harus khawatir jika keturunan kita tersesat dalam era digital saat ini yang bisa menghantarkan mereka gagal membangun peradaban mulia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا
Artinya: “Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).” (QS An-Nisa: 9)
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di era digital yang serba cepat dan penuh perubahan ini, anak-anak kita menghadapi berbagai tantangan baru yang tidak pernah dihadapi oleh generasi kita. Kemudahan akses informasi, derasnya arus teknologi, dan terbukanya ruang global menuntut mereka untuk memiliki 3 fondasi yang kuat, yakni ilmu, akhlak, dan keterampilan. Tanpa penguatan pada tiga hal ini, generasi muda akan mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi dan kehilangan arah.
1. Penguatan Ilmu pengetahuan
Ilmu pengetahuan merupakan kunci utama untuk membuka pintu kemajuan. Melalui ilmu, generasi muda dapat menemukan kemudahan dalam hidup dan memahami dunia dengan lebih luas. Bukan hanya urusan dunia, urusan akhirat pun harus bermodal ilmu. Rasulullah bersabda:
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
Artinya: "Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu," (HR Ahmad).
Namun, penting diingat bahwa ilmu yang dipelajari harus bersumber dari tempat yang jelas dan terpercaya. Dalam konteks ilmu agama, kebenaran suatu ilmu harus ditelusuri hingga sanadnya bersambung kepada Rasulullah saw. Ilmu agama yang tidak bersumber dari guru yang jelas atau sanad yang sahih dapat menjerumuskan seseorang pada kesesatan, bahkan memunculkan pemikiran yang radikal dan ekstrem. Pemahaman agama yang salah inilah yang sering kali menjadi akar munculnya tindakan kekerasan dan terorisme.
Demikian pula dengan ilmu-ilmu umum seperti ilmu komputer, teknologi, atau komunikasi. Generasi muda harus diarahkan agar menggunakan pengetahuan tersebut untuk kemaslahatan umat dan kemajuan bangsa, bukan untuk hal-hal destruktif seperti peretasan, penyebaran hoaks, ujaran kebencian, atau kegiatan bazar negatif di dunia maya. Ilmu seharusnya menjadi alat untuk membangun, bukan menghancurkan.
2. Penguatan Akhlak
Di tengah derasnya arus informasi dan kemudahan teknologi, penguatan akhlak menjadi sangat penting. Generasi muda saat ini hidup dalam situasi yang penuh godaan digital, konten hiburan, media sosial, dan berbagai informasi tanpa batas yang mudah diakses hanya melalui gawai. Jika tidak dibentengi dengan akhlak yang kuat, mereka mudah terpengaruh, kehilangan kontrol diri, dan terbentuk menjadi pribadi yang rapuh secara mental.
Generasi muda harus dilatih untuk memiliki mental tangguh, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, serta mampu mengendalikan diri di tengah segala bentuk kemudahan yang disuguhkan teknologi. Selain itu, nilai-nilai etika, sopan santun, dan rasa hormat kepada orang tua, guru, dan sesama teman harus terus dijaga. Akhlak yang mulia adalah fondasi untuk membangun peradaban yang luhur. Tanpa akhlak, ilmu dan teknologi justru dapat menjadi bumerang yang merusak kehidupan manusia.
Pepatah Arab menyebutkan:
ٱلْأَدَبُ فَوْقَ ٱلْعِلْمِ
Artinya: “Adab lebih tinggi daripada ilmu.”
3. Penguatan Keterampilan
Selain ilmu dan akhlak, aspek keterampilan juga perlu diperkuat. Dunia kerja di masa depan akan sangat kompetitif dan menuntut generasi muda untuk memiliki kemampuan praktis sesuai dengan minat dan potensi yang dimiliki. Setiap anak memiliki bakat dan keunikan masing-masing, sehingga pendidikan dan pembinaan seharusnya membantu mereka menggali dan mengembangkan potensi tersebut secara maksimal.
Keterampilan bukan hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan beradaptasi dengan perubahan. Dengan keterampilan yang baik, generasi muda akan menjadi pribadi yang kuat secara ekonomi, tangguh secara fisik, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Oleh karena itu, Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Sebagai orang tua, mari kita latih ketangguhan anak. Orang tua tidak boleh memanjakan anak secara berlebihan atau membela kesalahan mereka tanpa memberikan pembinaan yang bijak. Sikap seperti itu justru akan melahirkan generasi yang lemah, tidak tangguh, dan mudah menyerah pada keadaan. Sebaliknya, anak perlu dilatih untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dan belajar dari setiap kesalahan agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan siap menghadapi kehidupan nyata.
Semoga kita diberikan kekuatan dalam mendidik anak-anak kita dan semoga kita dianugerahi keturunan dan generasi yang kuat dalam ilmu, akhlak, dan keterampilan. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung.
