Salah satu aspek penting dalam ajaran Islam adalah perlindungan terhadap harkat dan martabat setiap individu, khususnya perempuan dan anak-anak. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan yang merendahkan kehormatan tubuh orang lain dengan cara yang tak senonoh, sangat bertentangan dengan ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai kesucian jiwa setiap manusia.
Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Islam Melarang Tindakan Pelecehan Seksual”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلىَ عَبْدِهِ الْكِتَابَ تَبْصِرَةً لِأُوْلِي الْأَلْبَابِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ الْأَرْبَابِ، الَّذِي خَضَعَتْ لِعَظَمَتِهِ الرِّقَابُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ إِلىَ خَيْرِ أُمَّةٍ بِأَفْضَلِ كِتَابٍ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْأَنْجَابِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْأَحْبَابُ، إِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْوَهَّابِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Mari kita awali khutbah Jumat ini dengan kalimat syukur al-ḫamdu lillâhi rabbil-‘âlamîn, atas segala nikmat dan karunia yang diberikan kepada kita semua. Berkat limpahan-Nya, kita masih diberi kekuatan iman, kesehatan jasmani, serta ketenteraman hidup hingga hari ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya yang senantiasa meneladaninya.
Sebagaimana Rasulullah senantiasa menyampaikan wasiat takwa dalam setiap khutbahnya, maka sebagai bentuk meneladani dan menjalankan amanah sebagai khatib, izinkan saya mengajak diri sendiri dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita.
Marilah kita wujudkan ketakwaan yang hakiki dengan menjalankan segala perintah Allah, termasuk perintah untuk memuliakan dan menjaga kehormatan sesama manusia, serta menjauhi segala larangan-Nya, terutama larangan terhadap segala bentuk pelecehan yang dapat merendahkan martabat manusia.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pelecehan seksual di Indonesia merupakan persoalan serius yang sangat memprihatinkan. Jumlah kasusnya tergolong tinggi dan ada kecenderungan peningkatan. Berdasarkan data pada situs resmi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, hingga 3 Juli 2025 tercatat 14.039 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dengan lonjakan lebih dari 2.000 kasus. Dari jumlah tersebut, pelecehan seksual menjadi salah satu bentuk kekerasan yang paling dominan.
Pelecehan seksual adalah setiap tindakan bernuansa seksual, baik melalui sentuhan fisik maupun nonfisik, yang menyasar organ seksual atau seksualitas seseorang tanpa persetujuan. Tindakan ini mencakup berbagai perbuatan yang merendahkan, mengganggu, dan melukai martabat korban, serta dapat menimbulkan dampak fisik maupun psikologis yang serius.
Maka perlu kita ketahui bersama, bahwa Islam memandang persoalan ini sebagai perbuatan tercela yang tidak bisa ditoleransi dalam bentuk apa pun. Pelecehan seksual tidak hanya pelanggaran sosial, tetapi dosa yang merusak kehormatan manusia dan melukai nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh agama. Dan Islam sangat mengecam segala perbuatan yang dapat melukai orang lain, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَاناً وَإِثْماً مُبِيناً
Artinya, “Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).
Pelecehan seksual selain dapat menyakiti hati orang lain, juga mencederai ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan umat manusia. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya, bahwa darah, harta, dan kehormatan setiap orang adalah haram untuk dilanggar oleh orang lainnya. Artinya, setiap perbuatan yang merendahkan kehormatan orang lain, termasuk pelecehan seksual dalam bentuk apa pun, adalah pelanggaran besar dalam Islam. Nabi bersabda:
إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ
Artinya, “Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram (untuk dilanggar).” (HR. Bukhari & Muslim).
Mengutip penjelasan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari, jilid I, halaman 159, ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan mencederai kehormatan dalam konteks ini mencakup segala hal yang menjadi ukuran kemuliaan dan kehinaan seseorang, baik yang berkaitan langsung dengan pribadinya maupun dengan keluarga dan nasabnya. Ia mengatakan:
وَالْعِرْضُ بِكَسْرِ الْعَيْنِ مَوْضِعُ الْمَدْحِ وَالذَّمِّ مِنَ الْإِنْسَانِ سَوَاءٌ كَانَ فِي نَفْسِهِ أَوْ سَلَفِهِ
Artinya, “Adapun yang dimaksud ‘irdh dengan dibaca kasrah huruf ainnya, adalah segala sesuatu yang menjadi objek pujian dan hinaan pada diri seseorang, baik yang berkaitan dengan pribadinya maupun pendahulunya.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Sementara itu, Syekh Syuqi Ibrahim dari Darul Ifta Mesir dalam fatwa nomor fatwa 3988 dengan tegas menyatakan bahwa pelecehan seksual adalah haram secara syariat, termasuk dosa besar, dan merupakan kejahatan yang harus dihukum sesuai dengan hukum negara yang berlaku.
Tindakan ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang jiwanya sakit dan hawa nafsunya rendah, yang hanya berorientasi pada kenikmatan duniawi dengan cara yang tidak bermoral dan tanpa kendali akal atau kemanusiaan. Dalam fatwanya disebutkan:
اَلتَّحَرُّشُ الْجِنْسِيُّ حَرَامٌ شَرْعًا، وَكَبِيرَةٌ مِنْ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ، وَجَرِيمَةٌ يُعَاقَبُ عَلَيْهَا الْقَانُونُ، وَلَا يَصْدُرُ إِلَّا عَنْ ذَوِي النُّفُوسِ الْمَرِيضَةِ وَالْأَهْوَاءِ الدَّنِيئَةِ الَّتِي تَتَوَجَّهُ هِمَّتُهَا إِلَى التَّلَطُّخِ وَالتَّدَنُّسِ بِأَوْحَالِ الشَّهَوَاتِ بِطَرِيقَةٍ بَهِيمِيَّةٍ وَبِلَا ضَابِطٍ عَقْلِيٍّ أَوْ إِنْسَانِيٍّ
Artinya, “Pelecehan seksual haram secara syariat, merupakan dosa besar dari sekian banyak dosa besar, dan merupakan kejahatan yang dihukum oleh undang-undang. Hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dari orang-orang yang memiliki jiwa sakit dan hawa nafsu yang rendah, yang orientasi semangatnya hanya untuk mengotori dan menodai diri dengan lumpur syahwat kebinatangan dan tanpa kendali akal atau kemanusiaan.”
Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa, kita harus menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat mengarah pada pelecehan seksual. Caranya adalah dengan menjaga pandangan, lisan, dan menjaga pergaulan agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang haram dan merusak diri sendiri maupun orang lain.
Selain itu, kita juga harus berani melawan dan melaporkan segala bentuk pelecehan seksual yang terjadi di sekitar kita, serta memberikan dukungan kepada para korban agar mereka dapat pulih dari trauma dan kembali menjalani hidup dengan damai.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Demikianlah khutbah Jumat tentang larangan pelecehan seksual dalam Islam. Semoga khutbah ini dapat memberikan pemahaman kepada kita tentang betapa pentingnya menjaga kehormatan diri dan orang lain, serta menjauhi segala bentuk perbuatan yang dapat merendahkan martabat manusia. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita kekuatan untuk menjalankan ajaran-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
----------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
