Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Khutbah Jumat: Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan

Khutbah Jumat: Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan
Khutbah Jumat: Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan
Khutbah Jumat: Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan

Naskah khutbah Jumat berikut ini mengingatkan manusia tentang sejumlah keutamaan yang secara jelas disebutkan dalam sabda Rasulullah, di antaranya perihal menutup aib saudara, gemar membantu orang lain, dan lainnya.

  

Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Khutbah Jumat: Keutamaan yang Semestinya Kita Lakukan". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan dekstop). Semoga bermanfaat! (Redaksi)


Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَكْمَلَ لَنَا الدِّيْنَ وَأَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعْمَةَ، وَجَعَلَ أُمَّتَنَا وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ خَيْرَ أُمَّةٍ، وَبَعَثَ فِيْنَا رَسُوْلًا مِّنَّا يَتْلُوْ عَلَيْنَا اٰيَاتِهِ وَيُزَكِّيْنَا وَيُعَلِّمُنَا الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، أَحْمَدُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْجَمَّةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْــــكَ لَهُ شَهَادَةً تَكُوْنُ لـِمَنِ اعْتَصَمَ بِـهَا خَيْرَ عِصْمَةٍ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَرْسَلَهُ لِلْعَالـَمِيْنَ رَحْمَةً، وَفَرَضَ عَلَيْهِ بَيَانَ مَا أَنْزَلَ إِلَيْنَا فَأَوْضَحَ لَنَا كُلَّ الْأُمُوْرِ الـْمُهِمَّةِ، فَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أُوْلِي الْفَضْلِ وَالْهِمَّةِ 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْـمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ (التوبة: ١١٩)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wata’ala dengan melakukan semua kewajiban dan meninggalkan seluruh yang diharamkan.

 

Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia,

Dalam kesempatan yang mulia ini, khatib akan sedikit mengulas tentang makna penggalan hadits:

 

... وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْـمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ (رواه مسلم)

 

Maknanya: “... Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah tutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba selama hamba tersebut memberikan pertolongan kepada saudaranya. Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga. Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di sebuah masjid untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajari kandungannya kecuali turun kepada mereka ketenangan, diselimuti rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan para malaikat yang mulia, dan barang siapa lambat amalnya tidak akan dipercepat oleh nasabnya”(HR Muslim).

 

Hadirin rahimakumullah,

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah tutupi aibnya di dunia dan di akhirat.”

 

Mengenai hal ini, seorang ulama salaf berkata: “Aku mendapati sekelompok orang yang tidak memiliki aib, lalu mereka membicarakan aib orang lain, maka orang-orang pun membicarakan aib mereka. Dan aku mendapati sekelompok orang yang memilki aib lalu mereka tidak pernah membicarakan aib orang lain, maka kami pun melupakan aib-aib mereka.”

 

Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَنْ سَتَرَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْـمُسْلِمِ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ كَشَفَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمـُسْلِمِ كَشَفَ اللهُ عَوْرَتَهُ حَتَّى يَفْضَحَهُ بِهَا فِي بَيْتِهِ (رواه ابن ماجه)

 

Maknanya: “Barang siapa menutupi aib saudara Muslimnya, maka Allah tutup aibnya di hari kiamat, dan barang siapa membuka aib saudara Muslimnya maka Allah akan membuka aibnya, hingga Allah membuka kedok aibnya tersebut di rumahnya sendiri” (HR Ibnu Majah)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hendaklah diketahui bahwa manusia terbagi menjadi dua. Pertama, orang yang tertutupi keadaannya kemudian jatuh dalam perbuatan maksiat. Orang yang seperti ini tidak boleh disebarkan dan dibuka aib perbuatan maksiatnya. Karena ini adalah ghibah yang diharamkan. Allah ta’ala berfirman:

 

اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ (النور: ١٩)

 

Maknanya: “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat” (QS an-Nur: 19).

 

Kedua, orang yang melakukan perbuatan maksiat dan dosa besar secara terang-terangan tanpa ada malu sedikit pun. Orang yang seperti ini tidak haram dibicarakan kefasikannya. Akan tetapi apabila membicarakan kefasikannya itu hingga menjadi sebuah kebiasaan yang terus menerus dilakukan atau semata bertujuan untuk memuaskan nafsu belaka, maka tidak boleh. Perbuatan fasik orang tersebut dibicarakan tujuannya adalah untuk menjerakannya, agar ditegakkan hukuman terhadapnya dan supaya orang-orang semisalnya juga menjadi jera dan berhenti dari perbuatan dosanya.

 

Adapun orang yang melakukan perbuatan maksiat yang mewajibkan hadd (hukuman yang ditegaskan dalam Al-Qur’an atau hadits) kemudian bertaubat sebelum diketahui maksiatnya, maka lebih baik baginya menutupi aibnya dan tidak melaporkannya kepada penguasa untuk mendapatkan hukuman. Karena memang ia telah betul-betul bertaubat dari dosanya.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengenai sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah akan memberikan pertolongan kepada hamba selama hamba itu memberikan pertolongan kepada saudaranya,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits lain:

 

أَفْضَلُ اْلأَعْمَالِ إِدْخَالُ السُّرُوْرِ عَلَى الْمُؤْمِنِ، كَسَوْتَ عَوْرَتَهُ أَوْ أَشْبَعْتَ جَوْعَتَهُ أَوْ قَضَيْتَ حَاجَتَهُ (رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ)

 

Maknanya: “(Termasuk) amal yang paling utama adalah menebar kegembiraan terhadap seorang mukmin, engkau tutupi auratnya, engkau kenyangkan kelaparannya dan engkau penuhi kebutuhannya” (HR ath-Thabarani).

 

Diceritakan bahwa Khalifah ‘Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu sering membantu para janda tua dan menyediakan air buat mereka di malam hari. Suatu ketika, sahabat Thalhah melihat ‘Umar di tengah malam masuk ke rumah seorang perempuan. Lalu siang harinya Thalhah menemui perempuan tersebut. Ternyata ia adalah seorang wanita tua renta yang buta dan lumpuh. Thalhah pun bertanya kepada perempuan tersebut: “Apa sebenarnya yang dilakukan oleh laki-laki ini di rumahmu?” Wanita tua itu menjawab: “Orang ini sudah sejak lama selalu datang dan merawatku, membawakan kebutuhan-kebutuhanku dan mengeluarkan kotoran dari rumahku.” Mendengar itu, Thalhah pun berkata kepada dirinya sendiri: “Cukup wahai Thalhah, apakah engkau ingin mencari-cari aib ‘Umar?”

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

 

Yang dimaksud “menempuh jalan” dalam hadits ini bisa berarti menempuh jalan dalam arti yang sebenarnya, yaitu berjalan kaki, mengendarai motor atau semacamnya dengan tujuan mencari ilmu. Bisa juga berarti menempuh jalan dalam arti maknawi, yaitu menghafal ilmu, mempelajarinya, mengulang-ulangnya, mencatatnya dan semacamnya.

 

“Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” bisa jadi maksudnya Allah mudahkan baginya jalan mencari ilmu agama, karena ilmu agama adalah jalan yang mengantarkannya menuju surga. Bisa juga maksudnya Allah mudahkan baginya jalan memperoleh hidayah yang dengannya ia menempuh jalan menuju surga. Itu artinya upaya yang ia kerahkan dalam menuntut ilmu menjadi sebab ia mendapatkan hidayah dan menjadi sebab ia masuk surga. Jadi orang yang menempuh jalan ilmu dan tidak menyeleweng darinya akan sampai ke surga, melalui jalan yang paling dekat dan paling mudah ditempuh. Karena memang tidak ada jalan untuk mengenal Allah dan memperoleh ridla-Nya kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, yang dibawa oleh para rasul dan dimuat dalam kitab-kitab suci.

 

Hadirin yang berbahagia,

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu masjid untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajari kandungannya kecuali turun kepada mereka ketenangan, diselimuti rahmat, dikelilingi para malaikat, dan disebut-sebut oleh Allah di kalangan para malaikat yang mulia.”

 

Sabda beliau ini menunjukkan kesunnahan duduk-duduk di masjid untuk membaca Al-Qur’an dan mempelajarinya. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَعَلَّمّهُ (رواه البخاري)

 

Maknanya: “Orang yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR al-Bukhari).

 

Dalam hadits yang lain, Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 

مَا مِنْ قَوْمٍ صَلُّوْا صَلَاةَ الغَدَاةِ ثُمَّ قَعَدُوْا في مُصَلَّاهُمْ يَتَعَاطَوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ إِلَّا وَكَّلَ اللهُ بِهِمْ مَلَائِكَةً يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِي حَدِيْثٍ غَيْرِهِ

 

Maknanya: “Tidaklah suatu kaum melakukan shalat Shubuh kemudian duduk-duduk di tempat shalat sambil membaca Al-Qur’an dan mengkajinya kecuali Allah tugaskan para malaikat memohonkan ampun untuk mereka, hingga mereka berbicara tentang masalah lain” (Diriwayatkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam).

 

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghampiri sekumpulan sahabatnya dan bertanya: “Apa yang membuat kalian duduk-duduk?” Mereka menjawab: “Kami duduk-duduk untuk menyebut asma’ Allah, memuji-Nya atas petunjuk yang diberikan-Nya kepada kami untuk memeluk agama Islam.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Demi Allah, kalian tidak duduk-duduk kecuali karena itu?” Mereka menjawab: “Demi Allah, kami tidak duduk-duduk kecuali karena itu.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku tidak meminta kalian bersumpah karena mencurigai kalian, akan tetapi Jibril datang kepadaku dan memberitahukan bahwa Allah membanggakan kalian di kalangan para malaikat yang mulia” (HR Muslim).

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga bermanfaat dan membawa barakah bagi kita semua.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

 

Ustadz Nur Rohmad, Katib Syuriyah MWCNU Dawarblandong, Mojokerto dan Pengasuh Majelis Ta’lim Nurul Falah, Mojokerto


Baca juga naskah khutbah lainnya:



Terkait

Khutbah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya