NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Khutbah Jumat: Meneladani Imam Syafi’i dalam Menjaga Diri dari Maksiat dan Memperkuat Ketakwaan

NU Online·
Khutbah Jumat: Meneladani Imam Syafi’i dalam Menjaga Diri dari Maksiat dan Memperkuat Ketakwaan
Khutbah Jumat:tentang teladan Imam Syafi’i
Sunnatullah
SunnatullahKolomnis
Bagikan:

Selain menjadi ulama yang pemikiran fiqihnya sangat mewarnai corak peradaban Islam, kepribadian Imam Muhammad bin Idris asy-Syaf’i dalam menjaga diri dari maksiat juga sangat layak untuk dijadikan teladan. Beliau tidak hanya sukses menjadi mujtahid hingga fatwa-fatwanya diikuti oleh jutaan orang di dunia, tetapi juga sukses dalam menjaga kesucian jiwa dan integritas moral.

Naskah khutbah Jumat berikut ini dengan judul, “Khutbah Jumat: Meneladani Imam Syafi’i dalam Menjaga Diri dari Maksiat dan Memperkuat Ketakwaan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَذَرُواْ ظَاهِرَ الإِثْمِ وَبَاطِنَهُ إِنَّ الَّذِينَ يَكْسِبُونَ الإِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُواْ يَقْتَرِفُونَ

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Alhamdulillahi rabbil alamin,
segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tetap mengalir kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw. Beliau merupakan teladan sempurna perihal bagaimana menjaga diri dari perbuatan maksiat meski dunia menawarkan kenikmatan sesaat. Dunia boleh menentang, orang terdekat boleh menjauh, namun keyakinannya pada Allah tak pernah pudar. Semoga kita semua dikumpulkan bersama, dan meraih syafaatnya di akhirat kelak. Amin ya rabbal alamin.

Selanjutnya, sudah menjadi keharusan bagi kami untuk terus mengingatkan pentingnya memperkuat iman dan takwa, serta pentingnya menjaga kesucian diri dari maksiat. Karena di zaman ketika dosa begitu mudah dijangkau dan godaan maksiat datang dari segala arah, kekuatan sejati seorang mukmin tidak terletak pada seberapa keras berbicara tentang kebaikan, tetapi juga pada seberapa kuat ia menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Salah satu cara terpenting untuk menjaga iman dan ketakwaan di zaman seperti saat ini adalah dengan menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan kemaksiatan, yang disebabkan oleh ajakan nafsu sesaat, karena iman yang tidak dijaga akan mudah pudar, dan takwa yang tidak dipelihara akan mudah tergelincir.

Orang-orang yang mampu menjaga diri dari melakukan perbuatan terlarang akan mendapatkan jaminan surga kelak di akhirat. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى. فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى

Artinya, “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya).” (QS An-Nazi’at: 40-41).

Menurut Syekh Syihabuddin al-Alusi, ayat ini memiliki spirit perihal bagaimana seorang mukmin seharusnya menjaga diri dari maksiat. Ayat ini menggambarkan seseorang yang hampir terjerumus dalam perbuatan dosa, namun kemudian ia ingat a saat dirinya kelak akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab. Karena takut akan pertanggungjawaban tersebut, ia pun mengurungkan niatnya untuk melakukan maksiat, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tafsir al-Alusi, jilid XV, halaman 238:

أَنَّهُ الرَّجُلُ يَهُمُّ بِالْمَعْصِيَةِ، فَيَذْكُرُ مَقَامَهُ لِلْحِسَابِ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ سُبْحَانَهُ، فَيَخَافُ فَيَتْرُكُهَا

Artinya, “Sesungguhnya (makna ayat ini adalah) seseorang yang bermaksud melakukan maksiat, kemudian ia teringat akan kedudukannya kelak ketika dihisab di hadapan Tuhannya Yang Maha Suci, maka ia pun takut, lalu meninggalkan maksiat tersebut.”

Dengan demikian, orang-orang yang mampu mengendalikan diri dari hawa nafsu dan takut akan kebesaran Allah, mereka inilah yang dijanjikan surga sebagai tempat tinggalnya. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berusaha untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, dengan cara terus berupaya untuk menjaga diri dari perbuatan maksiat.

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Salah satu contoh teladan yang patut kita ikuti dalam hal ini adalah Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau tidak hanya dikenal sebagai salah satu ulama yang corak fiqihnya mewarnai peradaban Islam, tetapi juga ulama yang sangat menjaga diri dari perbuatan maksiat. Ada banyak sekali kisah perihal bagaimana beliau menundukkan pandangannya ketika melihat sebuah maksiat.

Salah satu kisah yang sangat masyhur tentang hal ini adalah bahwa ia yang dikenal sebagai ulama yang sangat kuat hafalannya dan sangat cerdas otaknya, suatu saat merasa bahwa kekuatan hafalan itu mulai melemah. Ia yang biasa menghafal banyak hafalan tiba-tiba tumpul dan sulit menghafal. Maka asy-Syafi’i mendatangi gurunya yang bernama Syekh Waki’ untuk mengadukan nasibnya itu. Ketika keduanya bertemu, akhirnya sang guru menjelaskan bahwa lemahnya hafalan itu disebabkan maksiat.

Namun ia tetap heran karena dirinya tidak pernah melakukan maksiat. Akan tetapi setelah diingat-ingat, ternyata pernah suatu saat pandangannya tidak sengaja melihat kaki wanita yang tidak halal baginya, dan itulah alasan yang menjadikan hafalannya menjadi lemah. Setelah kejadian ini, Imam asy-Syafi’i menulis sebuah syair, yang kemudian banyak diceritakan oleh para ulama, salah satunya adalah Syekh Abdul Hamid Kisyk dalam kitab Ashabul Qulub al-Mustanirah, halaman 45, yaitu:

شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوْءَ حِفْظِي ** فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ ** وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Artinya, “Aku mengeluh kepada Syekh Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka dia menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Dan dia memberitahuku bahwa ilmu adalah cahaya, sedangkan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Kisah ini memberikan pelajaran penting kepada kita semua, bahwa sekecil apa pun bentuk maksiat dapat membawa pengaruh besar terhadap hati dan kehidupan seorang mukmin. Imam Syafi’i merasakan langsung bagaimana pandangan yang tidak disengaja terhadap sesuatu yang diharamkan mampu mengurangi kekuatan hafalannya.

Semoga Allah swt senantiasa menjaga pandangan kita dari hal-hal yang haram, menjaga hati kita agar selalu bersih dari maksiat, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa takut kepada-Nya, baik dalam kesendirian maupun di tengah keramaian.

Demikian adanya khutbah Jumat, perihal meneladani semangat Imam asy-Syafi’i dalam menjaga diri dari maksiat. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II
 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Kolomnis: Sunnatullah

Artikel Terkait

Khutbah Jumat: Meneladani Imam Syafi’i dalam Menjaga Diri dari Maksiat dan Memperkuat Ketakwaan | NU Online