Salah satu amanah terbesar yang Allah titipkan kepada seorang laki-laki adalah menjadi ayah. Dalam Islam, ayah bukan hanya pencari nafkah, tetapi pemimpin, pendidik, pelindung, dan teladan bagi anak-anaknya.
Khutbah Jumat kali ini berjudul: “Khutbah Jumat: Pentingnya Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak” Untuk mencetak khutbah ini, silakan klik fitur download berwarna merah atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِࣖ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat dan karunia-Nya, terutama nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, sehingga pada hari ini kita dapat menunaikan kewajiban shalat Jumat berjamaah.
Selanjutnya, marilah kita banyak membaca shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad , nabi yang telah mengeluarkan umat manusia dari zaman jahiliyah menuju jalan yang penuh cahaya iman.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah sekali-kali kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Dalam pengasuhan anak, ayah dapat diibaratkan sebagai fondasi sebuah rumah. Kehadirannya mungkin tidak selalu terlihat seperti dinding atau atap, namun tanpa fondasi yang kokoh, bangunan tidak akan berdiri dengan kuat.
Penelitian berjudul Patterns of Father Involvement and Child Development among Families with Low Income menunjukkan bahwa peran ayah dalam pengasuhan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan sosial, perilaku, serta kemampuan kognitif anak.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Dalam sebuah penelitian dijelaskan bahwa terdapat beberapa tipe ayah dalam keluarga, yang masing-masing memiliki dampak berbeda terhadap perkembangan anak-anaknya.
Pertama, ada tipe ayah yang hangat dan terlibat. Ayah seperti ini senantiasa mengajak anak berbicara, bermain, serta bertukar pikiran. Ia hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional. Anak-anak yang tumbuh bersama ayah yang hangat dan aktif berinteraksi biasanya memiliki rasa percaya diri yang kuat, serta mudah bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungannya.
Kedua, terdapat tipe ayah yang keras atau kasar. Meskipun keberadaannya nyata dalam kehidupan anak, namun pendekatannya sering kali menggunakan kekerasan, tuntutan yang berlebihan, atau bahkan tekanan untuk mencapai kesempurnaan. Sikap seperti ini dapat menimbulkan dampak negatif, berupa masalah perilaku dan gangguan emosional pada diri anak.
Ketiga, adalah tipe ayah yang jarang berinteraksi. Ia mungkin hadir di rumah, namun tidak benar-benar mendekat atau menunjukkan kasih sayang. Dalam kondisi seperti ini, anak akan merasa jauh secara batin, sebab yang paling dibutuhkan bukan hanya nafkah materi, melainkan kehangatan, perhatian, dan kedekatan emosional dari sosok ayahnya.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Jika ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional, akan muncul kondisi yang disebut fatherless, yaitu keadaan anak tumbuh tanpa sosok ayah yang benar-benar membersamai. Penyebabnya bisa karena kematian, perceraian, pekerjaan, atau sikap ayah yang tidak terlibat dalam pengasuhan. Dalam keadaan ini, anak kehilangan salah satu pilar penting untuk membentuk karakter dan rasa aman.
Fenomena fatherless cukup tinggi di Indonesia. Menurut data UNICEF 2021, sekitar 20 persen atau sekitar 2,9 juta anak usia dini hidup tanpa kehadiran ayah. Dari lebih 30 juta anak usia dini, sekitar 826 ribu tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, dan lebih dari 2 juta hanya tinggal bersama ibu. Artinya, jutaan anak di Indonesia tumbuh tanpa dukungan dan kasih sayang seorang ayah, baik secara langsung maupun emosional.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Teladan tentang pentingnya peran ayah sebenarnya sudah lama dicontohkan dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail, misalnya, menjadi gambaran indah tentang hubungan ayah dan anak yang dibangun dengan kepercayaan dan komunikasi.
Saat Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih Ismail, dalam surat As-Shaffat [37] ayat 102, ia tidak langsung memaksakan kehendak sebagai kepala keluarga. Ia justru memilih untuk berdialog. Dengan lembut ia berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?”
Jawaban Ismail mencerminkan kedewasaan dan keimanannya sekaligus rasa percaya kepada sang ayah. Ia menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Tuhan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Lebih lanjut, pada surat Luqman ayat 13, diceritakan bagaimana Luqman membentuk karakter anaknya. Misalnya, Luqman mengajarkan anaknya agar senantiasa bertakwa kepada Allah, menghormati orang tua, berbuat baik kepada sesama, dan tetap sabar menghadapi cobaan hidup.
وَاِذْ قَالَ لُقْمٰنُ لِابْنِهٖ وَهُوَ يَعِظُهٗ يٰبُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللّٰهِ ۗاِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ
Artinya: "(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, “Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.”
Hadirin jamaah shalat Jumat yang berbahagia
Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin jilid III, halaman 89 menekankan pentingnya peran ayah dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, anak adalah amanah dengan hati yang suci, ibarat permata. Jika dibiasakan dengan kebaikan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik, membawa kebahagiaan dunia dan akhirat, sekaligus menjadi pahala bagi orang tua. Namun, jika dibiarkan dalam keburukan, anak bisa celaka, dan dosanya menjadi tanggung jawab orang tua.
Oleh karena itu, marilah kita bersama-sama menyadari amanah menjadi ayah dan berusaha hadir secara fisik dan emosional bagi anak-anak kita, membimbing mereka dengan kasih sayang, adab, dan keteladanan. Semoga Allah memudahkan kita menjadi ayah yang amanah dan anak-anak kita tumbuh menjadi generasi beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama, keluarga, dan bangsa.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Ustadz Zainuddin Lubis, Pengkaji keislaman, tinggal di Parung.
