Banyak di antara kita yang mengira bahwa zuhud bermakna meninggalkan dunia sepenuhnya, hidup, miskin dan menjauh dari harta. Padahal, zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi tidak menggantungkan diri pada harta yang ada. Zuhud merupakan konsep diri untuk tidak menggantungkan diri pada dunia, sekali pun memilikinya dan hidup dengan berorientasi pada akhirat.
Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Khutbah Jumat: Zuhud dan Mandiri Finansial”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
الْحَمْدُ للهِ. الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءَكَ عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan sehingga kita dapat memenuhi panggilan-Nya untuk menunaikan shalat Jumat pada siang hari ini. Shalawat beserta salam mari kita haturkan bersama kepada Nabi Muhammad saw, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Di era modern seperti sekarang, mandiri finansial adalah impian bagi semua orang. Namun kebanyakan dari kita cenderung bersifat konsumtif, hidup boros dan tidak bisa mengatur keuangan sehingga gaji yang didapatkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dalam Islam, menerapkan konsep zuhud bisa menjadi solusi untuk mencapai mandiri finansial. Banyak di antara kita yang mengira bahwa zuhud bermakna meninggalkan dunia sepenuhnya, hidup miskin dan menjauh dari harta. Padahal, zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi tidak menggantungkan diri pada harta yang ada.
Zuhud merupakan konsep diri untuk tidak menggantungkan diri pada dunia, sekalipun memilikinya dan hidup dengan berorentasi pada akhirat. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: “Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Qs. Al-Qashash: 77).
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Pada ayat di atas, Allah memerintahkan kepada umat Islam untuk senantiasa beribadah dengan mencari pahala untuk kehidupan akhirat. Pada ayat tersebut pula Allah juga menjelaskan agar umat Islam tidak meninggalkan kehidupan dunia dengan bekerja dan mencari nafkah untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari- hari dan beramal salih dengan harta yang diperoleh.
Dalam hal ini, Allah Swt memerintahkan kepada umat Islam untuk bersifat zuhud dengan tidak menggantungkan hidup pada hal duniawi semata. Namun, menjadikan harta yang diperoleh sebagai ladang mencari pahala untuk kehidupan di akhirat.
Terkait hal ini, Syekh Nawawi Banten dalam tafsir Marah Labid juz II hal 206 menjelaskan:
اُطْلُبْ ثَوَابَ اللهِ تَعَالَى بِسَبَبِ الْمَالِ بِأَنْ تَصْرِفَهُ إِلَى مَا يُؤَدِّيْكَ إِلَى الْجَنَّةِ كَصَدَقَةٍ وَصِلَةِ رَحِمٍ، وَإِطْعَامِ جَائِعٍ، وَكِسْوَةِ عَارٍ وَنَفَقَةٍ عَلَى مُحْتَاجٍ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيا أَيْ لَا تَتْرُكِ الْعَمَلَ فِيْ الدُّنْيَا لِلآخِرَةِ، وَخُذْ مَا تَحْتَاجُهُ مِنَ الدُّنْيَا
Artinya: “Carilah pahala dari Allah Ta’ala dengan sebab harta yang engkau berikan agar bisa menghantarkanmu menuju surga, misalnya dengan sedekah, bersilaturahim, memberi makan orang yang sedang kelaparan, memberi baju pada orang yang tidak memilikinya, dan memberi nafkah kepada yang membutuhkan. Janganlah engkau lupakan bagianmu dari dunia, yakni janganlah engkau meninggalkan bekerja di dunia untuk akhirat, dan ambillah darinya yang cukup bagimu”.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Dalam konteks kehidupan modern, zuhud bukan berarti bersikap pasif secara ekonomi. Zuhud bermakna hidup dengan hemat dan berorientasi pada akhirat. Seorang muslim yang zuhud tidak bersikap boros dan terjebak dengan gaya hidup konsumtif. Seorang muslim justru hendaknya hidup dengan zuhud, hingga mampu membangun kemandirian finansial untuk dirinya.
Ibnu Abi Dunya dalam kitabnya Az-Zuhd hal. 63 menjelaskan konsep zuhud berikut:
عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ الْجُبْلَانِيِّ، قَالَ: " لَيْسَ الزَّهَادَةُ فِي الدُّنْيَا بِتَحْرِيمِ الْحَلَالِ، وَلَا بِإِضَاعَةِ الْمَالِ، وَلَكِنَّ الزَّهَادَةَ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللَّهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدَيْكَ، وَأَنْ يَكُونَ حَالُكَ فِي الْمُصِيبَةِ وَحَالُكَ إِذَا لَمْ تُصَبْ بِهَا سَوَاءً، وَأَنْ يَكُونَ مَادِحُكَ وَذَامُّكَ فِي الْحَقِّ سَوَاءً
Artinya: “Dari Yunus bin Maysarah Al-Jublani berkata: Zuhud di dunia bukanlah dengan mengharamkan yang halal ataupun dengan menghamburkan harta. Zuhud ialah ketika engkau lebih mempercayai apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang engkau miliki, keadaanmu saat mendapatkan musibah sama seperti saat engkau tidak diberi musibah, juga pujian serta celaanmu dalam membela kebenaran memiliki kadar yang sama”.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah swt,
Lebih lanjut, di akhir khutbah Jumat kali ini, ada tips yang dapat dilakukan agar kita bisa menghindari pola hidup boros dan konsumtif agar bisa mandiri secara finansial:
Pertama, Mengelola harta dengan bijak.
Setelah mendapatkan penghasilan, pengelolaan harta dengan bijak akan bisa meminimalisir pengeluaran yang tidak diperlukan. Dengan melakukan pengelolaan dan pengaturan terhadap pengeluaran dan menabung serta berinvestasi seseorang dapat terhindar dari pemborosan.
Kedua, menjadikan harta sebagai sarana untuk beribadah dan beramal sosial.
Tips berikutnya agar dapat terhindari dari perilaku boros ialah dengan menjadikan harta yang dicari dan didapatkan sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah. Dengan meniatkannya untuk beribadah, maka seseorang tidak akan menghambur-hamburkan hartanya terlebih untuk melakukan kemaksiatan.
Alih-alih menggunakannya untuk dihamburkan, orang yang zuhud seharusnya justru menggunakan hartanya untuk beramal shaleh dengan semisal bersedekah kepada kerabat atau tetangga yang membutuhkan akan menjadikannya ladang pahala.
Kesimpulannya, di era sekarang dengan menerapkan hidup zuhud bisa menjadi salah satu solusi agar kita terhindar dari sifat boros dan menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat dan bisa mencapai kemandirian finansial. Zuhud bukan berarti hidup miskin dan menghindari dunia, melainkan hidup dengan hemat dan berorentasi pada akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰ لِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Alwi Jamalulel Ubab, Pegiat Keislaman Tinggal di Indramayu.
