NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati dengan Tadarus Al-Qur’an

NU Online·
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati dengan Tadarus Al-Qur’an
Ilustrasi membaca Qur'an. Sumber: NU Online.
Bagikan:

Sebagai mukjizat paling agung yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Al-Qur'an hadir sebagai kompas sejati bagi umat manusia dalam menghadapi kompleksitas kehidupan. Lembaran sejarah mencatat bahwa momen sakral turunnya kalam ilahi yang kita kenal sebagai peristiwa Nuzulul Qur'an ini bermula di tengah keagungan bulan suci Ramadhan.

Peristiwa ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan titik awal di mana cahaya petunjuk mulai menerangi jalan manusia menuju kebenaran. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ

Artinya, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)

Imam Al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya,  Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, memberikan klasifikasi mengenai waktu turunnya kitab-kitab samawi yang semuanya berpusat pada bulan Ramadan. Mengutip sabda Rasulullah melalui jalur periwayatan Watsilah bin Asqa’, beliau merinci bahwa Shuhuf Ibrahim hadir pada malam pertama, Taurat pada tanggal keenam, dan Injil pada tanggal ketiga belas Ramadhan. 

Informasi ini memperkuat argumen teologis mengapa Ramadhan disebut sebagai bulan Al-Qur'an, karena secara historis, bulan ini memang dipilih sebagai waktu diturunkannya cahaya petunjuk bagi umat manusia lintas zaman. (Imam Al-Qurthubi, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, [Beirut, Muassasah Ar-Risalah: 2006], jilid. III, halaman 161).

Tadarus Al-Qur’an, Menghidupkan Hati di Bulan Ramadhan

Bulan suci Ramadhan hadir sebagai momentum emas bagi setiap Muslim untuk kembali merajut kedekatan dengan Al-Qur'an. Mengingat kaitan erat antara Ramadhan dan Al-Qur'an, memperbanyak tadarus bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya menghidupkan kembali hati kita di bulan yang penuh berkah tersebut. Allah SWT. berfirman dalam surat Al-Isra’:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَارًا

Artinya: “Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang mukmin, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra': 82)

Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitab Khawathir Haulal Qur’an-nya memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagai berikut:

وَالشِّفَاءُ: أَنْ تُعَالِجَ دَاءً مَوْجُودًا لِتَبْرَأَ مِنْهُ. وَالرَّحْمَةُ: أَنْ تَتَّخِذَ مِنْ أَسْبَابِ الْوِقَايَةِ مَا يَضْمَنُ لَكَ عَدَمَ مُعَاوَدَةِ الْمَرَضِ مَرَّةً أُخْرَى، فَالرَّحْمَةُ وِقَايَةٌ، وَالشِّفَاءُ عِلَاجٌ.

Artinya: “Syifa' (penawar/obat) yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah mengobati penyakit yang sedang ada agar sembuh darinya. Sedangkan maksud dari ‘Rahmat’ adalah mengambil sebab-sebab pencegahan (preventif) yang menjamin Anda tidak akan tertular atau kambuh oleh penyakit itu lagi. Jadi, Rahmat adalah pencegahan, sedangkan Syifa' adalah pengobatan.” (Khawathir Haulal Qur’an, [Kairo, Mathabi’ Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid XIV, halaman 8712).

Syekh Sya’rawi menawarkan distingsi yang sangat tajam sekaligus cerdas dalam membedah makna Syifa’ dan Rahmat pada ayat tersebut. Beliau memandang Syifa’ sebagai penawar bagi luka atau penyakit yang tengah merundung jiwa, sementara Rahmat adalah bentuk proteksi Ilahi yang menjaga kita agar tidak terperosok kembali ke dalam kesalahan yang sama.

Dalam konteks ini, tadarus Al-Qur’an menghasilkan dampak ganda: ia tidak hanya menyembuhkan penyakit hati yang sedang diderita, tetapi juga menjadi perisai preventif yang menghidupkan hati dan menjaganya dari mati suri.

Namun, apakah kesembuhan (syifa’) dari Al-Qur'an itu hanya bersifat maknawi (psikologis) untuk penyakit hati dan gangguan jiwa, sehingga membebaskan seorang Muslim dari kecemasan, kebingungan, dan rasa iri, serta mencabut akar dendam, kedengkian, dan hasad dari dalam jiwanya, ataukah ia juga merupakan obat bagi hal-hal fisik dan penyakit badan?

Menurut Syekh Asy-Sya’rawi, pendapat yang paling kuat, bahkan yang dipastikan tanpa keraguan sedikit pun, adalah bahwa Al-Qur'an merupakan ‘obat’ dalam makna yang umum dan menyeluruh bagi kata tersebut. Artinya, Al-Qur'an adalah obat bagi penyakit fisik (materiil) sebagaimana ia juga obat bagi penyakit jiwa (maknawi).

Lalu, apa yang dimaksud dengan hidupnya hati lantaran bertadarus Al-Qur’an? Hati yang hidup adalah hati yang mudah merasakan sensitivitas spiritual. Ia akan mudah merasakan manis, pahit, dan asamnya spiritualitas sehingga hatinya merasakan kelezatan ibadah dan kepedihan atas kesempatan ibadah yang luput.

Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam Al-Hikam-nya menyebut salah satu dari beberapa tanda kematian hati:

مِنْ عَلَامَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الْمُوَافَقَاتِ، وَتَرْكُ النَّدَمِ عَلَى مَا فَعَلْتَ مِنْ وُجُودِ الزَّلَّاتِ

Artinya, “Salah satu tanda kematian hati adalah tidak adanya kesedihan atas kesempatan ibadah yang terlewat dan tidak adanya penyesalan atas kekhilafan yang pernah dilakukan.”

Syekh Ibnu Ajibah menyebutkan tiga tanda kematian hati: pertama, tidak bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; kedua, tidak menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan ketiga, persahabatan dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya. (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], jilid. I, halaman 82).

Artinya, dengan tadarus Al-Qur’an, seorang Muslim hatinya akan hidup sehingga mudah merasakan sensitivitas spiritual, seperti bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan tidak akan bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tadarus Al-Qur’an bukanlah sekadar rutinitas membaca saja, akan tetapi merupakan aksi nyata sebuah metode pengobatan menyeluruh yang bekerja secara serentak. Ia berfungsi sebagai solusi penyembuhan untuk penyakit hati yang ada, sekaligus menjadi benteng pencegahan agar hati tidak mengalami degradasi spiritual atau bahkan ‘mati suri’, sehingga akan hidup dan mudah merasakan sensitivitas spiritual, seperti bersedih atas kesempatan ibadah yang terlewat; menyesali perbuatan buruk yang telah dilakukan; dan tidak akan bersahabat dengan orang-orang lalai yang juga mati hatinya.

Menyitir perspektif Syekh Asy-Sya’rawi, tadarus menawarkan kesehatan yang bersifat holistik; ia memulihkan stabilitas psikologis dari jeratan kecemasan serta hasad, dan secara pasti diyakini membawa energi pemulihan bagi kesehatan fisik. Melalui keselarasan syifa’ dan rahmat ini, Al-Qur'an hadir sebagai penjaga keutuhan manusia secara lahir dan batin.

Momentum Ramadhan adalah ruang terbaik untuk menghidupkan hati dan memperkuat iman melalui tadarus yang konsisten. Mari kita sambut ajakan kebaikan ini dengan tekad yang bulat untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an di sepanjang bulan suci ini. Wallahu a'lam.

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait