NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Kultum Ramadhan: Menjaga Lisan, Menjaga Keberkahan Puasa

NU Online·
Kultum Ramadhan: Menjaga Lisan, Menjaga Keberkahan Puasa
Ilustrasi penjual takjil. Sumber: NU Online.
Bagikan:

Alhamdulillah, hingga saat ini, semoga kita senantiasa masih diberikan kekuatan dan kemudahan oleh Allah SWT untuk menjalankan berbagai ibadah di bulan Ramadhan ini. Semoga dengan kita melaksanakan perintah ibadah wajib berpuasa ini, dapat menjadikan kita termasuk ke dalam orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Qur'an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ketakwaan ini hanya dapat terwujud dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Menjalankan perintah ibadah puasa di bulan Ramadhan, menjadi salah satu upaya kita untuk meraih predikat ketakwaan ini.

Pada saat menjalankan ibadah puasa, tentu tidak hanya perkara rukun atau wajib yang perlu kita perhatikan, tetapi termasuk juga di dalamnya kesunnahan serta hal-hal yang akan menjaga keberkahan puasa kita. Salah satu hal yang penting yang dapat menjaga keberkahan puasa kita, yakni menjaga lisan.

Perintah untuk menjaga lisan ini sebetulnya tidak hanya terbatas pada saat kita sedang berpuasa, tetapi mestinya dilakukan pada saat kapan saja. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰه وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْلِيَصْمُتْ

Artinya, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sedangkan di dalam konteks berpuasa, orang yang menjaga lisan akan mendapat keberkahan serta terhindar daripada beberapa perkara yang dapat menggugurkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda:

خَمْسٌ يُفْطِرْنَ الصَّائِمَ: الْغِيْبَةُ، وَالنَّمِيْمَةُ، وَالْكَذِبُ، وَالنَّظَرُ بِالشَّهْوَةِ، وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ

Artinya: “Lima hal yang bisa menggugurkan pahala orang berpuasa; membicarakan orang lain, mengadu domba, berbohong, melihat dengan syahwat, dan sumpah palsu.” (HR Ad-Dailami)

Jangan sampai pahala ibadah puasa kita menjadi gugur, hanya karena kita tidak mampu menjaga lisan. Lebih dari itu, tentu juga akan mendapatkan balasan dosa dari kejelekan-kejelekan yang keluar dari lisan, seperti membicarakan orang lain, berbohong, dan lain sebagainya.

Lantas bagaimana agar kita terhindar dari perkara-perkara tidak baik dari lisan kita? Tentu cara terbaik adalah dengan menyibukkan lisan kita dengan berbagai hal kebaikan, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan lain sebagainya. Dalam istilah lain, kita pergunakan lisan sesuai dengan tujuan Allah menciptakan lisan. Hal tersebut diterangkan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah:

وَاَمَّا اللِّسَانُ فَإِنَّمَا خُلِقَ لَكَ لِتُكَثِّرَ بِهٖ ذِكْرَ اللّٰهِ تَعَالَى وَتِلَاوَةَ كِتَابِهِ ... الخ

Artinya, "Adapun lisan, sesungguhnya diciptakan untukmu (agar digunakan) untuk memperbanyak berdzikir kepada Allah SWT, membaca kitab Allah (Al-Qur'an) dan lain-lain... "  (Al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Bidayatul Hidayah, [Beirut, Darul Minhaj: 2004 M/1425 H], hal 180-181)

Sesuai dengan keterangan dari Imam Al-Ghazali tersebut, kita dapat mempergunakan lisan untuk berbagai kebaikan. Pertama, memperbanyak dzikir, ingat kepada Allah SWT. Hal ini merupakan bentuk kita bersyukur kepada-Nya yang telah memberikan begitu banyak nikmat.

Banyaknya menyebut asma-Nya dan mengingat-Nya dengan berdzikir juga merupakan wujud cinta kita kepada-Nya. Sebab salah satu tanda dari mencintai, adalah dengan semakin mengingat atau menyebut yang dicintai.

Kedua, dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini penting untuk dapat menuntun kita ke jalan agama Allah SWT, yakni agama Islam. Membaca Al-Qur’an juga memberikan kita begitu banyak pahala, meskipun kita tidak memahami kandungan dari ayat-ayat yang kita baca. Memperbanyak membaca Al-Qur’an juga akan memberikan kita syafaat kelak di hari kiamat.

Pada bulan Ramadhan, dengan kita membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur'an akan menambah pahala serta meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana diterangkan di dalam hadits riwayat Ibnu ‘Abbas RA:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Artinya, "Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah SAW adalah manusia yang paling lembut terutama pada bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril as menemuinya, dan Jibril mendatanginya setiap malam di bulan Ramadhan, di mana Jibril mengajarkannya Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah saw orang yang paling lembut daripada angin yang berhembus," (HR Bukhari).

Ketiga, memberikan petunjuk bagi makhluk Allah SWT mengenai agamanya yang benar, yang dijalankan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, yakni agama Islam.

Keempat, kita perlu memenuhi kebutuhan agama dan kebutuhan dunia secara seimbang. Artinya, kita belajar dan melakukan urusan dunia sebagai sarana untuk menunjang ibadah kepada Allah. Termasuk dalam hal pekerjaan, kita bekerja untuk mendapatkan rezeki dan memenuhi kebutuhan hidup, agar tubuh kita kuat dan mampu menjalankan ibadah dengan baik.

Jika lisan tidak digunakan untuk selain empat hal tersebut, maka tidak ada pilihan lain kecuali diam. Sebab jika lisan tidak digunakan sesuai dengan tujuan penciptaannya, maka hal tersebut merupakan bentuk kufur nikmat.

Terlebih jika lisan kita justru digunakan untuk kejelekan seperti berdusta. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadits:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya, “Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjaga lisan kita dari perkara-perkara yang dibenci oleh Allah, sebaliknya, kita pergunakan lisan kita untuk hal-hal yang dicintai oleh Allah SWT. Terlebih di bulan Ramadhan ini, agar ibadah puasa yang kita laksanakan menjadi semakin berkah dan sempurna.

Demikianlah kultum Ramadhan tentang menjaga lisan, menjaga keberkahan puasa. Semoga kita dapat mengamalkannya. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali.

Artikel Terkait