NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Khutbah

Kultum Ramadhan: Puasa dan Spirit Perlawanan terhadap Korupsi

NU Online·
Kultum Ramadhan: Puasa dan Spirit Perlawanan terhadap Korupsi
Ilustrasi sajian buka puasa. Sumber: NU Online.
Bagikan:

Korupsi merupakan tindakan kriminal yang dampaknya sangat merugikan bagi orang banyak. tidak hanya menyangkut soal hak yang dirampas, korupsi juga dapat menimbulkan ketidakadilan sosial yang masif, meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan serta merusak masa depan suatu bangsa. Karenanya, korupsi dapat dikategorikan sebagai kejahatan luar biasa, baik dari sudut pandang negara maupun agama, yang harus kita perangi bersama.

Upaya pencegahan dan pemberantasan sudah atau sedang dilakukan. Namun, kita perlu memahami bahwa sumber dari tindakan korupsi, begitu pula kejahatan yang lain, adalah nafsu. Orang-orang melakukan korupsi karena ia terdorong oleh keinginan untuk memuaskan hawa nafsu. Sehingga untuk mencerabut mental korupsi dalam diri adalah dengan menempa dan mendidik hawa nafsu.

Di sinilah peran agama. Ia mengajarkan kepada manusia untuk mengendalikan hawa nafsu agar tidak terjerumus dalam tindakan nista yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Upaya mengendalikan nafsu adalah jihad yang terbesar, sehingga perang melawan korupsi juga adalah bagian dari perjuangan keagamaan. Dalam Islam sendiri, salah satu ajaran yang tujuannya adalah untuk menempa hawa nafsu adalah puasa.

Hakikat Ibadah Puasa

Sebagai salah satu rukun Islam, ibadah puasa menempati posisi yang sangat penting dalam keberislaman seseorang. Ia menjadi salah satu representasi dari ketundukan dan kepatuhan seorang hamba kepada tuhannya. Bahkan, dapat dikatakan bahwa puasa merupakan ibadah spesial karena merupakan medan rahasia yang hanya Allah dan hamba tersebutlah yang tahu.

Namun, puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga karena menjalankan perintah Allah semata. Lebih dari itu, ibadah puasa juga mengandung tujuan untuk menciptakan tenggang rasa dan empati kepada sesama. Ketika kita menahan rasa lapar dan dahaga selama seharian, di saat itulah kita dituntut untuk merasakan kondisi saudara-saudara kita yang sering dilanda kelaparan, dan kemudian akan tercipta perasaan empati yang berujung pada tindakan untuk menyejahterakan kehidupan sosial.

Puasa dan Misi Menciptakan Manusia Bertakwa

Ibadah puasa diproyeksikan untuk menciptakan manusia-manusia yang bukan hanya saleh secara ritual, tapi juga saleh secara sosial. Inilah makna dari takwa yang menjadi tujuan utama dari disyariatkannya ibadah puasa. Sebab ketakwaan seseorang belum sempurna apabila ia hanya rajin melakukan ibadah ritual saja, tetapi kerap kali melakukan tindakan-tindakan yang merugikan dan menyakiti orang lain. 

Dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183, Allah SWT berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (Q.S. Al-Baqarah [02]: 183)

Dalam kalimat terakhir dalam ayat di atas, Allah SWT menegaskan bahwa kewajiban puasa bertujuan untuk menciptakan manusia-manusia yang bertakwa. Imam Fakhruddin al-Razi dalam kitab tafsirnya menjelaskan bagaimana korelasi antara takwa dengan ibadah puasa. Beliau mengatakan:

أنه سبحانه بين بهذا الكلام أن الصوم يورث التقوى لما فيه من انكسار الشهوة وانقماع الهوى فإنه يردع عن الأشر والبطر والفواحش ويهون لذات الدنيا ورئاستها، وذلك لأن الصوم يكسر شهوة البطن والفرج، وإنما يسعى الناس لهذين، كما قيل في المثل السائر: المرء يسعى لعارية بطنه وفرجه، فمن أكثر الصوم هان عليه أمر هذين وخفت عليه مؤنتهما، فكان ذلك رادعا له عن ارتكاب المحارم والفواحش، ومهونا عليه أمر الرياسة في الدنيا وذلك جامع لأسباب التقوى

Artinya: “Dalam firman tersebut, Allah SWT menjelaskan bahwa puasa dapat melahirkan ketakwaan, karena puasa dapat melemahkan syahwat dan menundukkan hawa nafsu. Puasa mencegah sikap angkuh, sombong, dan perbuatan keji, serta menjadikan kenikmatan dunia dan ambisi terhadapnya terasa remeh. Hal itu karena puasa melemahkan syahwat perut dan kemaluan yang memang menjadi tujuan utama setiap upaya yang dilakukan manusia pada umumnya. Sebagaimana dikatakan dalam peribahasa yang masyhur: ‘Seseorang berjuang demi kebutuhan perut dan kemaluannya.’ 

Maka siapa yang banyak berpuasa, akan menjadi ringan baginya urusan kedua hal itu dan berkurang bebannya. Hal itu dapat menjadi penghalang baginya untuk melakukan hal-hal yang haram dan perbuatan keji, serta memudahkan baginya untuk tidak terobsesi pada kepemimpinan dan kedudukan duniawi. Semua itu merupakan sebab-sebab ketakwaan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar ihyaut Turats al-‘Arabi, 1420 H.], juz V, hal. 240)

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa puasa merupakan sarana yang tepat untuk mendidik nafsu dan keserakahan yang sering kali menjadi sumber tindakan korupsi. Puasa bukan hanya tentang menahan makan dan minum seharian, tetapi ia juga melatih lidah agar tidak membicarakan hal-hal yang haram, melatih telinga untuk tidak mendengarkan pembicaraan yang dilarang, melatih tangan untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya dan melatih seluruh anggota badan untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dilarang agama.

Puasa Sebagai Pendidikan Karakter

Dalam Kitab Lathaiful Ma’arif, dijelaskan bahwa orang yang masih sering melakukan maksiat, melakukan tindakan semena-mena dan mengambil hak orang lain, maka puasanya sia-sia. Sebab, puasa yang sempurna adalah ketika ia mampu menahan diri bukan hanya dari hal-hal yang membatalkan puasa secara zahir, tetapi juga meninggalkan perkara-perkara haram yang dapat menghilangkan pahala puasa. 

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali berkata

واعلم أنه لا يتم التقرب إلى الله تعالى بترك هذه الشهوات المباحة في غير حالة الصيام إلا بعد التقرب إليه بترك ما حرم الله في كل حال من الكذب والظلم والعدوان على الناس في دمائهم وأموالهم وأعراضهم

Artinya: “Ketahuilah bahwa upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan syahwat-syahwat yang mubah di luar keadaan berpuasa tidak akan sempurna kecuali setelah terlebih dahulu mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara meninggalkan segala yang diharamkan dalam setiap keadaan, seperti dusta, berbuat zalim, dan tindakan melampaui batas terhadap manusia dalam darah (jiwa), harta, dan kehormatan mereka.” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaiful Ma’arif, [t.t.: Dar Ibn Hazm, 2002], hal. 155)

Maka dari itu, ibadah puasa merupakan sarana yang tepat untuk memperbaiki diri dan tatanan hidup berbangsa dan bernegara. Orang yang menjalankan ibadah puasa dengan baik dan benar akan menjadi individu yang saleh secara ritual maupun sosial. Orang yang mampu meresapi makna puasa tidak mengambil yang bukan hak miliknya, tidak menyalahgunakan waktu kerja, tidak memanipulasi laporan, dan akan selalu menjaga amanah sekecil apa pun.

Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.

Artikel Terkait