Jakarta, NU Online
Semilir angin dari lereng Gunung Slamet menyusup ke ruang kelas SDN 3 Kutaliman, Purwokerto. Aroma tanah basah mengiringi pelajaran yang tengah disampaikan Zakiyah Ramadhani kepada murid-murid kelas dua. Bukan sekadar hafalan, ia sedang menanamkan kesadaran tentang mandat ilahi: manusia sebagai khalifah, penjaga bumi ciptaan Tuhan.
Di sekolah yang berdiri di kaki gunung ini, Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak berhenti pada ritual ibadah mahdhah. Agama menjadi napas bagi pelestarian alam. Bagi Zakiyah, akrab disapa Dhani, mengajar anak usia dini berarti membentuk karakter saat jiwa mereka masih bersih dan lentur.
“Anak-anak di usia ini karakternya masih sangat mudah dibentuk. Karena itu, nilai-nilai yang benar harus ditanamkan sejak sekarang,” ujarnya kepada NU Online, Kamis (19/12/2025). Gunung Slamet yang menjulang di hadapan mereka menjadi analogi paling dekat untuk memahami relasi manusia dan alam.
Logika Iman Anak Gunung
Konsep amar ma’ruf nahi munkar disederhanakan Dhani dalam praktik keseharian. Anak-anak saling mengingatkan jika ada teman yang membuang sampah sembarangan atau malas piket. Inilah “nahi munkar” dalam ekologi sederhana.
Kesadaran itu tertanam kuat pada Alfatih dan Hannan. Ketika diajak berandai-andai, memilih menebang pohon demi uang atau membiarkannya tumbuh, jawaban mereka justru menjadi kritik atas logika keserakahan orang dewasa.
“Pohon jangan ditebangi, nanti bisa longsor dan banjir,” ujar Alfatih mantap. Sementara Hannan menimpali, “Uang tidak bisa dipakai kalau terjadi bencana alam.”
Dhani juga menyisipkan filosofi Mahatma Gandhi tentang kecukupan bumi yang tak akan pernah memuaskan keserakahan satu orang. Nilai itu diterjemahkan dalam kebiasaan sederhana, seperti menghabiskan makanan tanpa sisa. Dalam Islam, mubazir adalah perilaku tercela karena menyerupai perbuatan setan.
Transformasi Limbah di Jantung Kota
Sekitar 350 kilometer ke arah barat, napas yang sama dihidupi dengan cara berbeda di SDN Depok Baru 1, Kota Depok. Jika di Kutaliman ancamannya adalah penggundulan hutan, di kota ini persoalannya adalah limbah domestik yang menyumbat saluran air.
Setiap Jumat pagi, setelah shalat dhuha dan doa bersama, para siswa tak langsung kembali ke kelas. Mereka mengantre sambil membawa botol berisi minyak goreng bekas atau jelantah. Program ini dipimpin Yulianti, guru kelas, dengan dukungan Kepala UPTD SDN Depok Baru 1, Ika Mulyani.
“Kegiatan ini mengajarkan siswa dan orang tua mengelola limbah rumah tangga menjadi sesuatu yang bermanfaat dan lebih ramah lingkungan,” kata Yulianti.
Suara dari Balik Botol Jelantah
Kesadaran itu merembes hingga ke rumah. Rayyan, siswa kelas lima, kini lebih berani menegur ibunya soal minyak bekas. “Dulu minyak habis goreng langsung dibuang ke selokan. Sekarang aku bilang jangan, mending dikumpulin di botol buat dibawa ke sekolah,” tuturnya polos.
Hal serupa dirasakan Aira, siswi kelas enam. Rasa malu membawa botol minyak kotor berubah menjadi kebanggaan setelah memahami dampak lingkungannya.
“Sekarang malah sering minta minyak bekas dari rumah nenek juga,” katanya sambil tersenyum.
Program yang berjalan sejak pertengahan Oktober 2025 ini telah mengumpulkan sekitar 55 liter jelantah dalam dua pekan awal. Minyak tersebut disalurkan ke tempat pengumpulan bersama di Kecamatan Pancoran Mas untuk diolah lebih lanjut.
Iman yang Menjadi Aksi
Meski berlatar kontras, satu di kaki gunung, satu di tengah kota, kedua sekolah ini bertemu pada satu simpul: pendidikan agama harus berdampak pada kelestarian alam, rahmatan lil ‘alamin.
Di Kutaliman, pendidikan agama menjadi benteng agar anak-anak tak tumbuh sebagai pelaku eksploitasi alam. Di Depok, ia memantik kesadaran kolektif membersihkan residu gaya hidup perkotaan yang polutif.
Keduanya membuktikan krisis lingkungan tak cukup dijawab dengan sains semata, tetapi juga membutuhkan sentuhan iman dan pembentukan karakter sejak dini.
Dhani, Yulianti, dan para pendidik lainnya menyadari jalan ini tak selalu mulus. Namun mereka yakin, modal terbaik bagi masa depan manusia bukanlah tumpukan uang, seperti diingatkan Hannan, melainkan bumi yang tetap terjaga.
Dari menolak menebang pohon di lereng gunung hingga menabung jelantah di tengah kota, nilai agama menemukan wujud nyatanya: menjaga bumi sebagai “rumah” yang dipinjamkan Sang Pencipta kepada manusia.
Dua sekolah dasar di Purwokerto dan Depok menanamkan iman melalui aksi ekologis. Pendidikan agama membentuk anak sebagai penjaga bumi sejak dini.
