Nasional

40 Ribu Balita Terserang ISPA di Tengah Kepungan Asap Karhutla

NU Online  ·  Ahad, 27 September 2026 | 20:00 WIB

40 Ribu Balita Terserang ISPA di Tengah Kepungan Asap Karhutla

Ilustrasi bayi terkena infeksi saluran pernafasan. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, terutama anak-anak. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat hingga 21 September 2026 terdapat 174.694 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di enam provinsi terdampak karhutla. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40.363 kasus dialami balita.

 

Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Karya Medika II Tambun Bekasi dr Yuni Astria menjelaskan bahwa anak-anak lebih rentan terkena ISPA karena sistem imunnya belum matang. Kondisi tersebut membuat kemampuan tubuh anak dalam melawan virus dan bakteri penyebab ISPA belum optimal.

 

“Karena anak-anak sistem imunnya masih belum matang sehingga belum banyak mengenal berbagai jenis virus dan bakteri yang sering menyebabkan ISPA sehingga belum bisa melawan dengan optimal,” ujarnya saat ditemui NU Online di Jakarta pada Sabtu (26/9/2026).

 

Yuni menyampaikan bahwa faktor perilaku dan lingkungan sosial turut meningkatkan risiko penularan pada bayi dan balita. Anak pada usia tersebut cenderung aktif memegang berbagai benda dan memasukkannya ke dalam mulut sehingga lebih mudah terpapar kuman.

 

“Bayi dan balita gampang memegang benda dan memasukkannya ke dalam mulut sehingga rawan tertular kuman melalui droplet maupun kontak langsung,” ujarnya.

 

Risiko tersebut juga dipengaruhi karakter virus penyebab ISPA. Ia menyampaikan bahwa virus, terutama influenza, mudah bermutasi sehingga anak perlu kembali beradaptasi ketika muncul varian baru.

 

“Virus penyebab ISPA, terutama influenza, mudah bermutasi sehingga anak harus belajar ulang setiap ada varian baru,” katanya.

 

Untuk mengurangi dampak paparan asap karhutla, Yuni menganjurkan orang tua untuk mengurangi aktivitas anak di luar ruangan dengan menutup pintu dan jendela.

 

“Hindari aktivitas yang dapat menambah kontaminasi asap seperti merokok atau memasak dengan kayu bakar,” ucapnya.

 

Ia mengatakan bahwa anak-anak dianjurkan menggunakan masker untuk menyaring partikel halus yang berukuran kurang dari 0,3 mikrometer.

 

“Masker debu atau medis biasa tidak cukup untuk melindungi dari asap. Pastikan masker N95 yang dipakai memiliki ukuran yang pas untuk menutupi wajah,” ucapnya.

 

Yuni menekankan bahwa orang tua perlu menyiapkan perlengkapan evakuasi, termasuk masker anak, air minum, makanan ringan, dokumen, alat bantu medis, dan obat-obatan rutin untuk kebutuhan minimal lima hari.

 

“Apabila ditemui gejala infeksi akut pada anak, segera bawa ke fasilitas kesehatan untuk diberikan terapi di bawah pengawasan tenaga medis. Jangan memberikan obat batuk atau pilek pada anak tanpa resep langsung dari dokter,” pungkasnya.