Ancaman Gempa Megathrust, Masyarakat Diimbau Perkuat Literasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan
NU Online · Senin, 15 Juni 2026 | 07:00 WIB
Tangkapan layar Kepala BMKG 2017-2025, Dwikorita Karnawati dalam Seminar 20 Tahun Gempa Yogya 2006, Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa, Sabtu (13/6/2026).
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) periode 2017-2025, Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa informasi mengenai ancaman gempa megathrust Jawa merupakan pijakan penting dalam menyusun skenario penanggulangan bencana yang terukur.
Menurutnya, terdapat seismic gap atau zona kekosongan gempa besar di sejumlah titik kritis, seperti Selat Sunda, Selatan Jawa, dan Mentawai, yang telah menyimpan akumulasi energi selama lebih dari 200 tahun.
“Data keilmuan ini mutlak diperlukan sebagai acuan kesiapan struktural darurat,” ujarnya dalam Seminar 20 Tahun Gempa Yogya 2006 & Antisipasi Gempa Bumi Megathrust Jawa, Sabtu (13/6/2026).
Dwikorita mengimbau masyarakat agar menyikapi informasi mengenai ancaman geologi secara bijak dengan memperkuat edukasi mitigasi, memahami jalur evakuasi, serta tidak mudah terpengaruh informasi palsu.
“Prakiraan yang disampaikan (dari BMKG maupun pakar) bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membangun sekario jika bencana terjadi. Tanpa sekanrio, tidak bisa menyusun strategi mitigasi bencana,” katanya.
Baca Juga
Doa ketika Terjadi Gempa Bumi
Ia juga mengakui bahwa hingga kini belum ada penelitian yang mampu memprediksi waktu terjadinya gempa secara akurat. Meski demikian, riset ilmiah tetap diperlukan sebagai landasan penyusunan strategi mitigasi.
“Kenapa ilmuwan repot-repot memikirkan hal yang sulit dicocokkan ini? Tujuannya adalah agar kita bisa menyusun mitigasi dan kesiapsiagaan. Hasil riset ini diperlukan untuk membangun skenario. Skenario adalah suatu asumsi seandainya itu terjadi. Karena tanpa skenario sama sekali, tidak ada dasar pegangan untuk melakukan mitigasi,” jelasnya.
Senada, pakar gempa Universitas Gadjah Mada (UGM), Gayatri Indah Marliyani menilai pemahaman terhadap ancaman sesar aktif dan potensi megathrust di Selatan Jawa merupakan fondasi utama dalam pengurangan risiko bencana.
“Daripada fokus untuk menebak-nebak kapan gempa akan terjadi, yang lebih utama adalah bagaimana memitigasi risiko dari bencana tersebut,” ujarnya.
Gayatri mengingatkan bahwa dalam 32 tahun terakhir, gempa megathrust telah dua kali terjadi di Jawa, yakni pada 1994 di Banyuwangi Selatan dan 2006 di Pangandaran yang sama-sama disertai tsunami.
Oleh karena itu, ia mengajak pemerintah dan masyarakat memperkuat rumah tahan gempa, mengenali jalur evakuasi, serta mengakses informasi yang valid.
“Kita harus memperkuat rumah tahan gempa, membuat dan mengenali jalur evakuasi, serta mengikuti informasi yang valid agar tidak termakan hoaks yang menakut-nakuti,” tuturnya.
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
2
TNI-Polri Hadang Massa Aksi BEM UI yang Hendak Menuju Bundaran HI
3
Selain TNI-Polri, Komcad Juga Disiagakan saat Aksi Indonesia Bangkrut
4
Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Pengerahan TNI dan Komcad dalam Aksi Indonesia Bangkrut
5
BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI Hari Ini, Berikut Tuntutannya
6
Peaceful Muharam 1448 H, Kemenag Gelar Standardisasi Kosakata Isyarat hingga Akurasi Titik Kiblat
Terkini
Lihat Semua