Nasional

BRIN akan Perbarui Teknologi AI untuk Deteksi Dini Karhutla

NU Online  ·  Jumat, 25 September 2026 | 11:55 WIB

BRIN akan Perbarui Teknologi AI untuk Deteksi Dini Karhutla

Kepala BRIN Arif Satria usai rapat terbatas terkait penanganan lahan gambut bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026). (Sekretariat Presiden)

Jakarta, NU Online

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan memperbarui teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkuat deteksi dini titik panas (hotspot) dan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

 

Hal itu disampaikan Kepala BRIN Arif Satria usai rapat terbatas terkait penanganan lahan gambut bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

 

Arif mengatakan BRIN diminta mendukung upaya deteksi dini karhutla, termasuk melalui pengembangan teknologi AI.

 

“Bagaimana kita melakukan deteksi dini, deteksi hotspot dan selama ini kami juga sudah melakukan itu dan sudah bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan dan sekarang ini kita akan terus perbarui dengan AI yang semakin canggih untuk bisa mengantisipasi kebakaran hutan lebih dini lagi,” katanya.

 

Menurutnya, pembaruan teknologi tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya mengantisipasi karhutla sebelum meluas. Namun, pencegahan tidak hanya mengandalkan teknologi karena pemerintah juga menempatkan desa sebagai basis utama pencegahan.

 

“Pak Presiden juga menegaskan bahwa pendekatan pencegahan ke depan itu berbasis pada pencegahan presisi berbasis desa,” katanya.

 

Arif menjelaskan, pendekatan tersebut menunjukkan adanya kepercayaan terhadap masyarakat desa dalam menjaga sumber daya di sekitarnya. Masyarakat juga dinilai memiliki posisi strategis dalam pencegahan karena di tingkat desa telah terdapat Masyarakat Peduli Api (MPA).

 

“Jadi pencegahan presisi berbasis desa itu menunjukkan Presiden percaya bahwa masyarakat desa memiliki sense of belonging (rasa memiliki) yang sangat tinggi terhadap sumber daya yang ada di sekitarnya. Desa menjadi tumpuan bagi pencegahan kebakaran hutan ke depan,” ujarnya.

 

Ia menambahkan, MPA akan diberdayakan dan diperkuat karena selama ini dinilai efektif dalam pencegahan karhutla. “MPA inilah yang akan diberdayakan, akan diperkuat ya. MPA adalah kelompok masyarakat yang memang selama ini dianggap efektif. Oleh karena itu perlu diberdayakan, perlu direvitalisasi,” katanya.

 

Arif mengatakan pengembangan teknologi juga akan terus dilakukan, seperti water injection, pompa di tingkat desa, dan bahan alternatif untuk pemadaman. “Solusi teknologi, soal water injection, pompa di tingkat desa, kemudian juga bahan alternatif untuk pemadaman dan lain sebagainya,” katanya.

 

Di sisi lain, pencegahan karhutla juga perlu disertai solusi ekonomi. Ia mengatakan sekitar 41 juta masyarakat hidup di sekitar kawasan hidrologi gambut sehingga mata pencaharian mereka perlu diperhatikan.

 

“Namun ada juga dibicarakan tentang solusi ekonomi. Jadi solusi ekonomi berkaitan dengan karena 41 juta masyarakat di hidup di sekitar kawasan hidrologi gambut, sehingga kita juga perlu memikirkan mata pencaharian jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang,” tuturnya.

 

Arif mengatakan komoditas sagu disiapkan sebagai alternatif jangka panjang karena membutuhkan waktu sekitar delapan tahun. Sementara itu, kopi menjadi solusi jangka menengah dan tanaman hortikultura untuk jangka sangat pendek.

 

“Jadi mata pencarian mata pencarian dari masyarakat di sekitar hutan menjadi concern (kepedulian) dari Bapak Presiden agar tetap dicarikan solusi ekonominya dengan berbagai teknologi yang ada dan tadi sudah dijelaskan solusi kelembagaan di tingkat nasional ada, solusi kelembagaan di tingkat desa juga sudah ada,” pungkasnya.