El Nino Ancam Pertanian Indonesia, Pakar UGM Ungkap Risiko Kerugian Petani
NU Online ยท Kamis, 11 Juni 2026 | 07:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Fenomena El Nino kembali menjadi perhatian global seiring meningkatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dalam beberapa waktu terakhir, istilah โGodzilla El Ninoโ semakin sering digunakan untuk menggambarkan intensitas El Nino yang sangat kuat. Kondisi ini dinilai dapat membawa dampak serius terhadap sektor pertanian Indonesia yang masih sangat bergantung pada ketersediaan air.
Guru Besar bidang Pertanian dari Universitas Gadjah Madaย (UGM), Prof Subejo, mengungkapkan bahwa dampak utama El Nino terhadap sektor pertanian berkaitan erat dengan menurunnya ketersediaan air. Kekeringan berkepanjangan berpotensi menekan produktivitas petani sekaligus mengganggu ketahanan pangan nasional.
Prof Subejo menjelaskan bahwa El Nino merupakan bagian dari siklus iklim yang telah berlangsung lama. Namun, perubahan iklim global menyebabkan pola kemunculannya menjadi semakin dinamis dan sulit diprediksi. Situasi tersebut meningkatkan tantangan bagi sektor pertanian dalam menyusun strategi adaptasi yang efektif.
Ia menilai bahwa istilah โGodzilla El Ninoโ merujuk pada fenomena El Nino dengan intensitas yang jauh lebih kuat dibandingkan kondisi normal. Dampaknya diperkirakan akan paling terasa pada sektor pertanian yang sangat bergantung pada pasokan air untuk mendukung proses produksi.
โEl Nino itu sebenarnya siklus alami, sudah lama terjadi. Tapi sekarang polanya terasa makin cepat karena pemanasan global. Nah, kalau intensitasnya sudah sangat kuat, dampaknya pasti terasa ke pertanian, terutama dari sisi produksi,โ ujarnyaย saatย diwawancaraiย NU Online, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, komoditas pangan utama seperti padi dan jagung menjadi yang paling rentan terdampak. Kedua tanaman tersebut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar selama masa pertumbuhan.
Ketika ketersediaan air berkurang, kata dia, pertumbuhan tanaman akan terganggu dan produktivitas menurun. Dalam kondisi yang lebih ekstrem, tanaman bahkan berisiko mengalami kerusakan permanen hingga gagal panen yang menimbulkan kerugikan bagi petani.
โPadi dan jagung ini paling terasa dampaknya karena butuh air cukup banyak. Kalau airnya kurang, pertumbuhannya terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen. Jadi dalam situasi yang sangat risis air, mungkin pilihan-pilihan itu bisa kita lakukan,โ tuturnya.
Kerentanan tersebut tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga langsung memukul kondisi ekonomi petani. Penurunan hasil panen dan kualitas produksi dapat mengurangi pendapatan petani, sementara biaya produksi yang telah dikeluarkan berpotensi tidak kembali.
โKalau kekeringan terjadi setelah tanam, petani bisa gagal panen. Artinya, biaya yang sudah dikeluarkan itu tidak kembali dan jadi kerugian,โ ucap Prof Bejo.
Lebih lanjut, Prof Subejo menilai adaptasi terhadap perubahan iklim harus dilakukan dengan menggabungkan pengalaman lokal dan inovasi modern. Pemanfaatan informasi cuaca, sekolah iklim, serta teknologi pertanian dinilai dapat membantu petani mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi ketidakpastian musim.
โJadi memanfaatkan pengetahuan tradisional, tapi juga tidak menolak hal-hal baru, itu kadang-kadang juga efektif, karena ada pengalaman sekitar 10 tahun, kalau itu dikombinasikan mungkin akan menjadi cara tengah bagi petani,โ katanya.
Terpopuler
1
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
2
Munas-Konbes NU 2026 di Ploso Bakal Dihadiri Lebih dari 500 Peserta dan Peninjau
3
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
4
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
5
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
6
Gempa M7,8 Guncang Filipina: 35 Orang Meninggal Dunia, Ribuan Bangunan Rusak
Terkini
Lihat Semua